
Bandar Lampung — Kisah selembar Ijazah yang kami ceritakan ini adalah kisah nyata. Meskipun tidak semua orang merasakan tapi kebanyakan kalangan sudah merasakannya. Ada hal manis dan pahit, kecut maupun asinnya dibangku kuliah. Tak ada kata mudah ataupun tanpa rintangan semasa dibangku kuliah yang menempuh sarjana dengan cepat, tepat waktu maupun terlewat atau biasa di sebut mahasiswa Legend.
“Selama kita hidup di lingkungan masyarakat, jangan pernah menuruti sifat egois dan sikap angkuh. Karena hidup kita butuh mereka, mereka butuh kita. Tingkatkan rasa sosial mu yang tinggi.”
“Perbanyaklah teman jika kamu ingin tidak mati mengenaskan.”
“Utamakan teman terlebih lagi sahabat atau rekan yang akrab maupun dekat dari pada wanita atau lawan jenis dalam arti punya rasa lebih maupun spesial. Jangan pernah bertengkar karena hanya demi hal sepele apalagi lawan jenis yang kita suka”.
(Friends is number one)
Dalam kesempatan ini kami menceritakan perjalanan selama dibangku kuliah hingga memakai toga wisuda. Ada beberapa nama yang ingin menceritakan kisahnya, sebagai berikut :
1. Samsul Huda
2. Lian Safrudin
3. Lukman Mulana
4. Reffan Dwi Susilo
5. Nur Rahman
6. Wahyu Ramadhan
7. Dion Alfarizi
8. Ahmad Sugiarto
Dari delapan nama tersebut, mari kita simak satu persatu dari cerita maupun kisah yang dialami semasa dibangku kuliah hingga memakai toga wisuda.
1. Perjalanan Samsul Huda, S.Pd
Samsul huda telah merasakan manis, pahit, dan kecut maupun asinnya di bangku kuliah. Pada tahun 2011 samsul huda diterima pada perguruan tinggi atau universitas ternama dilampung, yaitu Universitas Lampung (UNILA), Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Semasa ia kuliah, selalu rajin masuk dan jarak tempuh yang lumayan dengan waktu lebih kurnag 20 menit sampai 15 menit. Ia selalu fokus kuliah, tidak ada satupun organisasi yang di ikutinya, karena dapat himbauan dari kakaknya, dengan bahasa “fokus kuliah saja, jangan ikut organisasi, nanti ganggu nilai kuliah”. Dari situlah dia tidak pernah merasakan suasana berorganisasi dan tidak tau birokrasi suatu lembaga maupun instansi.
Sikap tersebut ada dampak positif dan juga negatif. Kenapa kami berkata seperti itu? Karena!
Dampak positif fokus kuliah dan tidak mengikuti organisasi adalah benar kita bisa fokus dan selesai kuliah dengan cepat ataupun tepat waktu. 4 tahun samsul selesai kuliah dan wisuda.
Dampak negatifnya, kita tidak punya pengalaman mengenai organisasi, birokrasi, politik maupun lihai dalam berbicara. Kuliah cepat atau fokus dengan nilai pun tidak menjamin dari semester 1 sampai semester 8 nilai kita baik ( A dan B ) ternyata tetap mendapatkan nilai C bahkan D. Tetapi dengan kegigihannya dia mampu memperbaiki nilai yang turun menjadi baik. Dia pun sedikit kaget setelah ia terjun ke dunia kerja dengan sistem serta politik di dunia luar.
Sekarang samsul sudah sukses dan tenang dengan pekerjaannya di PemProv Lampung bagian Humas. Semoga selalu sukses dan dilimpahkan rezekinya, Amin
2. Perjalanan Lian Safrudin, S.E
Lian safrudin adalah salah satu mahasiswa Universitas Lampung juga, seangkatan dengan Samsul huda tetapi berbeda fakultas dan prodi. Lian sudah kenyang dengan manis dan pahit, kecut, asinnya dibangku kuliah. Ia mahasiswa fakultas Ekonomi, Prodi Akutansi. Lulus kuliah pada tahun 2016. Lian salah satu mahasiswa yang aktif organisasi, dengan mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa dan organisasi ekstra yaitu Himpinan Mahasiswa Islam (HMI). Meskipun ia aktivis, ia juga masih butuh banyak belajar.
Lian bekerja di PU Tulang Bawang Barat. Ia pun sukses dengan kariernya, dan banyak belajar juga setelah ia masuk kedalam dunia kerja meskipun sudah memiliki bekal saat menjadi aktivis.
Meskipun ia terlewat target 4 tahun di bangku kuliah, setidaknya memiliki bekal dan gambaran birokrasi ataupun politik. Disitulah manfaatnya.
3. Perjalanan Lukman Maulana, S.Pd
Lukman Maulana merupakan salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Agama Islam. ia masuk di bangku kuliah pada tahun 2013, dan selesai pada tahun 2018. Lukman juga cukup puas dengan manis dan pahut, kecut maupun asinnya bangku kuliah.
Lukman salah satu mahasiswa yang punya target wisuda cepat dan di imbangi dengan organisasi atau menjadi mahasiswa aktivis. Akan tetapi meskipun ia mengenyam bangku kuliah selama 5 tahun, ia cukup banyak ilmu dan pengalaman manis dan pahit, kecut maupun asinnya bangku kuliah. Dengan berbagai masalah seperti ekonomi, keluarga, organisasi, pribadi maupun nilai kuliah.
Selain aktif kuliah, ia juga aktif organisasi. Peduli terhadap teman-teman yang mebutuhkan, serta sabar dalam keadaan apapun. Lukman sempat mengalami pengulangan mata kuliah di semester 8 dengan mata kuliah yang di ambil adalah semester 6. Maka dari itu ia wisuda di semester 10. Semoga hikmahnya jauh lebih luar biasa.
4. Perjalanan Reffan Dwi Susilo, S.Pd
Reffan Dwi susilo merupakan teman seperjuangan Lukman Mualana, bahkan teman sekelas di Prodi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Teman seperjuangan dengan hal yang di alami pun hampir sama. Manis dan Pahit, kecut maupun asinnya bangku kuliah juga telah ia rasakan.
Reffan wisuda berbarengan dengan lukman dan tersisa satu orang yang tertinggal yaitu Ahmad Sugiarto. Seluk beluk perjalanan selama dibangku kuliah yang sangat sama persis ialah Lukman Mualana dengan Ahmad Sugiarto. Reffan orang yang cerdas, tidak mengikuti organisasi tetapi dia bisa mengimbangi teman-temannya. Akan tetapi masih butuh banyak belajar untuk memahami suatu birokrasi dan politik, karena hidup ini pasti ada birokrasi dan juga politik. Tidak ada yang tidak menggunakan birokrasi dan politik.
Reffan dan Lukman saat ini telah bekerja di suatu instansi atau sekolah. Reffan mengajar sebagai Guru Sekolah Menengah Pertama di SMP N 7 Bandar Lampung, sedangkan Lukman mengajar di SD N Bandar Jaya. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam.
5. Perjalanan Nur Rahman “calon ,S.Kom”
Nur Rahman merupakan salah satu mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL), Fakultas Ilmu Komputer, Prodi Tekhnik Informatika. Dengan gerak gerik yang baik dan penuh perjuangan ia bisa kuliah di UBL dengan Beasiswa. Awal masuk di UBL pada tahun 2015 sampai sekarang. Telah merasakan juga manis dan pahit, kecut maupun manisnya di kehidupan dan juga bangku kuliah.
Pada tahun 2015 sampai saat ini pun ia masih menjabat sebagai ketua kelas, bahkan di tahun 2016 ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Himpunan Prodi Tekhnik Informatika periode 2016-2017. Separuh periode ia naik sebagai Ketua Umum sampai selesai.
Semasa kuliah itu tidak ada yang mudah. Bisa dikatakan susah susah gampang. Perjuangan dan upaya dalam kuliah maupun kegiatan organisasi itu penuh usaha. Mendapatkan nilai kuliah yang baik juga butuh perjuangan. Dan nur membentuk suati perkumpulan ataupun tim IT dengan Nama Shafpro, juga berusaha mendirikan atau meneruskan KSR PMI Unit UBL, meski belum diresmikan atau terakreditasi.
Nur sempat Magang di Puskom UBL, selama lebih kurang 2 tahun atau 4 semester. Bersama wahyu pula. Selain itu juga, nur sempat bekerja di cafe malam outdoor ikut bersama kakaknya Ahmad Sugiarto dan mengajak temannya Khairul Amin, lebih kurang selama 2 sampai 3 bulan.
Dari Jabatan-jabatan tersebut selalu mendapatkan motivasi atai dorongan dari kakaknya hingga ia bisa sukses seperti itu. Karena menurut kakaknya “biarkan saya gagal dalam perkuliahan dan organisasi, asalkan adik-adik kandung saya bisa berhasil maupun adik-adik terdekat”. Ujar Ahmad sugiarto.
Shafpro sedang proses lebih baik lagi, mulai merancang SOP. Website dan blog sudah ada, (www.shafpro.com dan shafpro.blogspot)
6. Perjalanan Wahyu Ramadhan “calon , S.Kom”
Wahyu Ramadhan merupakan anak yang genuis dan super. Terutama dalam bidang teknologi maupun jaringan. Ia salah satu dari anggota Shafpro, dan ia yang paling di andalkan. Wahyu merupakan salah satu mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL), ia teman sekelas dengan Nur Rahman. Dengan kekaleman dan pendiemnya wahyu, tidak ada yang menyangka bahwa ia sangat luar biasa. Wahyu pun sudah merasakan Manis dan pahit, kecut maupun asinnya di bangku kuliah.
Meskipun wahyu tidak begitu aktif dalam kegiatan organisasi, tapi dia sering mengikuti kegiatan dan sangan berpartisipas.
Prodi IT pernah mengadakan Event perlombaan dan wahyu dengan mudahnya membuat website Liga HMIT dalam waktu singkat, tidak menghabiskan waktu sehari, hanya cukup 3-4 jam saja.
Dengan kecerdasan tersebut, ia di lirik dengan dosennya untuk bergabung atau di kontrak selama setahun dalam pengerjaan Proyek di Kampus.
Wahyu dan Nur saat ini kuliah gratis dengan beasiswa 100%, dengan keaktifan dan kegigihan mereka beserta teman-teman lainnya mereka bisa menghasilkan uang sendiri. Shafpro lah wadah mereka berkreasi, yang berjumlah 7 anggota, sebagai berikut : 1. Nur Rahman “UBL” (Ketua). 2. Wahyu Ramadhan “UBL” (Wakil Ketua). 3. Fajar Fachrurrozi “UBL” (Bendahara). 4. Ahmad Sugiarto “UIN RIL” (Sekretaris). 5. Khairul Amin “UBL” (SDM). 6. Marpita “UBL” (Analisis/database). 7. Erni SriWahyuni “UBL” (Designer Graphic).
Nama-nama tersebut termasuk generasi emas negara yang memiliki kemampuan dan skill masing-masing. Kesuksesan itu kita yang menentukan, bukan orang lain.
7. Perjalanan Dion Alfarizi “calon S.Sos”
Dion Alfarizi merupakan mahasiswa baru yang belum lama masuk kuliah dan merasakan nikmatnya bangku kuliah. Saat ini ia sedang menempuh kuliah di semester 3 menuju semester 4. Ia pun bisa dikatakan masih awal untuk merasakan manis dan Pahit, kecut maupun manisnya bangku kuliah. Tapi dion cukup luar biasa, meskipun terkadang mengeluh, ia termasuk anak yang luar biasa. Bisa menjadi contok atau gambaran untuk teman-teman kelak.
Dion kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Administrasi bisnis, awal masuk pada tahun 2017. Ia termasuk anak yang rajin, kalem, baik, lugu, cerdas, kreatif dan juga prihatin.
Baru masuk dunia perkuliahan saja, ia sudah berhasil mengikuti langkah Nur Rahman, meskipun kandas di bagian ketua kelas, tidak berhasil menjabat sebagai ketua kelas, namum tetap optimis bersiap mencalonkan menjadi ketua umum Himpunan (HIMABI).
Dion pun melanjutkan dan ikut mencari pengalaman dengan magang di puskom UBL, dan ia di UBL beasiswa Bidikmisi. Dengan semangat dan optimisnya itulah dion bisa mandiri dan menjadi pribadi yang luar biasa. Tidak merepotkan orang tua. Ia aktif di pramuka, dan menjadi pendiri Pramuka di UBL. Cukup aktif dan aktivis di kampus. Tetap saja ia masih butuh banyak belajar dalam organisasi.
Dion pun sering meminta arahan atau sharing dengan kakak kos nya yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Di kos ia tidak sendiri, ia bersama Nur Rahman dan Ahmad Sugiarto. Meskipun terkadang mereka sering salah paham dan kurang cocok tapi mereka sanggup untuk tetap kompak dan damai.
8. Perjalanan Ahmad Sugiarto “calon ,S.Pd”
Ahmad Sugiarto merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Agama islam. Seperjuangan dengan Reffan Dwi Susilo dan Lukman Maulana di UIN RIL. mereka teman sekelas dan bisa dikatakan sahabat. Masuknya kuliah di UIN RIL pada tahun 2013. Ia lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan, Jurusan Multimedia pada tahun 2012, namun ia tidak langsung meneruskan ke jenjang kuliah. Tahun 2012 – 2013 ia bekerja mengajar di SMK Muhammadiyah Tumijajar pada kegiatan Ektrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), dalam sejarah PMR unit Smk Muhammadiyah Tumijajar tersebut awal berdirinya tahun 2010, dan Ahmad Sugiarto salah satu dari pendirinya, ia paling banyak berkontribusi di PMR tersebut hingga saat ini. Selain mengajar PMR, ia berdagang di pasar setiap hari.
Setelah itu pada tahun pada tahun 2013 ia melanjutkan ke bangku kuliah. Manis dan pahit nya serta perjuangan yang tidak mudahpun telah ia rasakan.
Ia sudah pernah merasakan bekerja di cafe, mengajar, dan juga ikut orang. Bahkan kuliah dengan problem nilai hingga bersamaan menghadapi maupun melalui proses tersebut sama persis dengan Lukman Maulana.
Pada awal kuliah sampai semester 4 pun ia masih sering pulang pergi dari Bandar Lampung ke Tulang Bawang Barat dalam satu minggu sekali hanya untuk melatih dan mendampingi adik-adik atau murid PMR nya, ia berhenti mengajar PMR di SMK Muhammadiyah Tumijajar pada Tahun 2015. Semasa masih semester 1 sampai 4, ia tergolong mahasiswa yang aktif organisasi, organisasi Ekstra maupun Intra, meskipun tidak aktif 99%, tapi ia pernah mengikuti beberapa organisasi kampus, seperti : UKM Puskima, UKM HMI, UKM PMII, dan juga UKM Bapinda.
Ia pernah mengikuti pelatihan Sertifikasi Nasional. Seperti LSP TIK dan LSP Komputer di Hotel Bukit Randu, Hotel Horison dan Hotel Novotel Bandar Lampung, dengan Klaster Multimedia, Practice Office Advance (POA) dan Designer Graphic. Bersama adiknya Nur Rahman, namun berbeda klaster. Nur Rahman mengambil klaster Junior Networking dan Operator Komputer.
Pada tahun 2015, setelah ia berhenti mengajar dan PP dari Bandar Lampung – Tulang Bawang Barat di Smk Muhammadiyah pada ekskul PMR, ia langsung meneruskan ketingkat diatas PMR, yaitu KSR di kampus UIN RIL. Dalam kampus di sebut UKK KSR PMI Unit UIN RIL. Gerakan dan tindakan yang luar biasa dilakukan oleh Ahmad Sugiarto. setelah ia menjadi anggota UKK KSR PMI Unit UIN RIL, ia memberanikan mengambil keputusan dan bertindak dengan bijak. Pada tahun 2016, UKK KSR PMI Unit UIN RIL pernah menjadi tuan rumah dalam acara Gladian Relawa VI Perti se-Indonesia yang berhasil di rekomendasikan saat Gladian Relawan V di Aceh. Disitulah ahmad sugiarto memberanikan diri menjadi Ketua Pelaksana dengan beberapa problem sebelum Ahmad Sugiarto menjadi ketua pelaksana.
Event tersebut tingkat nasional, dengan penuh perjuangan dan upaya yang luar biasa. Yang dihadiri dari ujung pulau jawa, Pulau kalimantan, Makasar, sampai Banda Aceh. Dan juga ia sering menjadi Panitia inti, seperti Ketua Pelaksana sampai Koordinator Sie yang ada.
Bahkan loyalitasnya terhadap teman-teman, senior, adik-adik organisasi. Selain itu ia di percaya oleh senior yang meresmikan suatu lembaga para alumni yaitu Ikatan Relawan Alumni Raden Intan (IKRAR) yang telah resmi sebagai Dewan Pengurus Pusat Ikatan Relawan Raden Intan. Dan ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum III, dengan masa periode 2018-2021.
Selain mempunyai jabatan di Lembaga Ikrar, ia juga menjabat sebagai sekretaris di Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMR Kmushada unit SMK Muhammadiyah Tumijajar, dan juga Sekretaris di suatu TIM Shafpro.
Meskipun ia penuh kegiatan dan bekerja, ia juga mengajar Ekskul PMR di SMP Al-Kautsar Bandar Lampung bersama adiknya Nur Rahman.
Dengan sejuta pengalamannya tersebut, ia merasa masih harus banyak belajar lagi. Butuh ilmu yang lebih banyak.
Dapat kita ketahui, bahwa kedelapan nama tersebut saling mengenal akrab, bahwa mereka adalah sahabat karib. Persahabatan mereka akan kita ulas pada cerita berikutnya.

Demikian cerita dari teman-teman yang telah merasakan Manis dan Pahitnya di Perantauan hanya demi Selembar Kertas dan Topi. Tapi bukan selembar kertas dan topi biasa.
Sebenarnya masih banyak dan panjang cerita mereka, tapi tidak mungkin kita kupas semua. Jadi kita langsung saja ambil kesimpulan dan hikmah dari semua yang pernah kita alami.
Selembar kertas dan sebuah topi yang dimaksud adalah Ijazah dan juga Toga. Ijazah pasti kita miliki dari SD sampai SMA dan juga bisa melanjutkan kejenjang Kuliah atau S1 sampai S3. Semua membutuhkan perjuangan dan pasti kita merasakan Manis pahitnya perjuangan tersebut. Apalagi Kertas dan Topi dalam menempuh gelar Sarjana, sangat luar biasa proses yang kita lalui dan hasil yang sesuai, karena seperti kalimat yang biasa kita dengar seperti “Proses tidak akan Menghianati Hasil”.
Semua itu tidak ada yang instan. Butuh perjuangan keras dan upaya yang maksimal. Lika liku hidup sudah pasti berupa ekonomi, keluarga, lingkungan dan juga orang-orang terdekat.
Sedikit saja kita menuruti rasa malas, maka akan terbuang peluang kesuksesan yang harusnya kita raih di hari esok. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu sedikitpun, karena sukses kita yang menentukan. “Sehari saja kita menuruti rasa malas, akan menunda 1 tahun untuk Menikah dan tertunda pula kesuksesan kita serta terbuangnya pendapatan keuangan kita kelak”. Jangan pernah membohongi orang tua apalagi mengecewakan mereka dan terlebih lagi mereka tahu kebohongan kita, karena barokah dan ridho ada dimereka, bisa terhambat rezeki serta kesulitan dalam hidup menuju sukses.
Apapun itu alasannya, selagi kita masih bisa mensiasati atau melakukan hal demi kesuksesan kita maka lakukanlah, jangan pernah menundanya.
Sesulit dan sedihnya kehidupan, jangan pernag mengeluh apalagi memperlihatkan raut wajah kita yang murung akan banyaknya masalah kita. Dan terapkanlah gambar di atas, kunci hidup bahagia. Selagi kita masih punya keluarga, saudara, sahabat, adik, kakak, teman dan juga guru, jangan pernag merasa sendiri dan hidup susah. Saling membantu dan tolong-menolong.
Bersikaplah mudah akrab, royal dan loyal. Kehidupan itu seperti melewati pegunungan, menaiki pohon yang sudah pasti berupa statistik dengan grafik naik turun. Tidak selamanya kita berada di atas dan juga dibawah. Optimis dan terus berdoa serta berusahalah dalam menjalani semua. Yakin sukses bisa kita gapai dengan mudah.