Gaya hidup modern mendorong manusia untuk terus menerus membutuhkan banyak barang. Kita nggak sadar kalau membeli barang sama saja menghasilkan sampah, apalagi barang sekali pakai. Aktivitas manusia semakin beragam setiap harinya, dan semakin banyak pula barang dan produk yang dibeli sehingga sampah yang dihasilkan sudah melebihi dari kemampuan alam untuk menyerapnya.
Kita lupa bahwa lautan dan sungai sudah tercemar, serta miliaran ton tumpukan sampah yang dihasilkan manusia tidak bisa terurai atau didaur ulang. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah meluap dan tidak lagi bisa menampung timbunan sampah. Longsor sampah pernah terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada tahun 2005. Sebanyak 143 orang terkubur dalam longsor sampah dan tidak kurang dari 86 rumah lenyap ditelan sampah.
Studi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa hanya 7% sampah di Indonesia yang dapat dikompos dan didaur ulang, dan 69% produksi sampah hanya ditimbun di TPA dan produksi sampah harian bisa mencapai ratusan ribu ton!
Menyadari sistem pengolahan sampah di Indonesia yang belum maksimal dan gaya hidup modern dan konsumtif yang destruktif terhadap alam, pada akhirnya kita sudah tiba dalam kondisi dimana zero waste sangat diperlukan, demi kejar mimpi menyelamatkan bumi dan generasi manusia selanjutnya.
Mengapa gaya hidup zero waste dibutuhkan?
Saat ini masyarakat dunia sedang hidup dalam ekonomi linear, dimana sumber daya alam diambil untuk dikelola menjadi produk, dan limbahnya tidak didaur ulang atau digunakan kembali. Timbunan limbah pun melonjak.

Konsep ekonomi linear adalah "Ambil - Pakai - Buang" yang berdampak buruk untuk lingkungan
Ekonomi linear juga berdampak besar Indonesia telah mengalami urbanisasi dan pembangunan ekonomi yang berhasil mengangkat jutaan orang dari kemiskinan. Daya beli dan pola konsumsi meningkat, tingkat produksi setiap tahunnya bertambah karena permintaan pasar, sehingga berdampak kepada kualitas udara, kesehatan manusia dan jumlah produksi sampah yang dihasilkan.
Riset dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyimpulkan bahwa produksi sampah nasional di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari. Rata-rata satu orang penduduk Indonesia menyumbang sampah sebanyak 0.7kg per hari. Jika dikalkulasi dalam skala tahunan, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 64juta ton!
Indonesia termasuk ke dalam 10 negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Banyaknya penduduk yang tinggal di sebuah negara tentunya akan menumpulkan sejumlah persoalan, diantaranya adalah produksi sampah dan pengolahannya. Oleh karena itu, zero waste sangat dibutuhkan untuk menjadi solusi terhadap permasalahan sampah.
Apa itu zero waste?

Zero waste atau bebas sampah adalah sebuah konsep yang mengajak kita untuk menggunakan produk sekali pakai dengan lebih bijak untuk mengurangi jumlah dan dampak buruk dari sampah. Tujuannya adalah agar sampah tidak berakhir di TPA, menjaga sumber daya dan melestarikan alam.
Metode zero waste adalah 5R, yaitu Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang) dan Rot (membusukkan sampah). 5R ini menjadi pegangan untuk membentuk gaya hidup tanpa sampah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.
Tidak sedikit yang pesimis dan sarkastik dengan istilah nol sampah dan menganggap bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Mana mungkin manusia hidup di zaman modern seperti ini tidak menghasilkan sampah? Tidak mudah untuk mengaplikasikan gaya hidup nol sampah di tengah infrastruktur dan masyarakat yang belum mendukung. Masih banyak kita temukan makanan dan minuman dengan plastik di pasar atau supermarket.
Perlu kamu ketahui bahwa gaya hidup zero waste bukan berarti mengkriminalkan barang-barang plastik, barang sekali pakai dan sejenisnya. Konsep zero waste lebih kepada pengendalian diri kita untuk tidak lagi konsumtif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kita menjadi lebih sadar terhadap apa yang kita beli dan konsumsi, dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan.
Karena zero waste adalah gaya hidup, tentunya butuh proses untuk menjalaninya. Lakukan perlahan, tapi pasti dan konsisten. Hal yang bisa kamu lakukan di awal adalah perbanyak literasi, update dengan informasi terkait kondisi lingkungan kita. Kesadaran terhadap dampak untuk lingkungan yang akan didapat dengan kita mengaplikasikan gaya hidup zero waste di kehidupan sehari-hari akan menjadi motivasi untuk menerapkan gaya hidup bebas sampah ini.
Apa saja manfaat zero waste?
1. Minim sampah
Karena tujuan utama zero waste adalah mengurangi dan mengeliminasi sampah, tentunya manfaat utama yang paling dirasakan adalah produksi sampah menjadi berkurang.
2. Kamu jadi sehat
Menerapkan gaya hidup zero waste akan membuat kamu jadi lebih sehat. Kamu tidak lagi mengonsumsi makanan instant dalam kemasan dan beralih ke makanan non kemasan seperti sayuran dan buah. Kamu akan lebih memprioritaskan makanan yang kamu konsumsi dan tidak membeli jajanan makanan ringan dalam kemasan yang tidak perlu.
3. Hemat
Karena kamu tidak lagi mengonsumsi makanan instant dalam kemasan yang menghasilkan sampah plastik, kamu akan beralih ke belanja sayuran dan buah di pasar. Gaya belanja kamu akan lebih banyak perhitungan karena sebisa mungkin kamu akan membeli makanan tanpa kemasan, yang lebih banyak didapatkan di pasar tradisional dengan harga yang murah.
Bagaimana langkah sederhana memulai gaya hidup zero waste?
Karena tujuan utama gaya hidup zero waste adalah untuk membuat sampah tidak terkirim atau berakhir di TPA, maka langkah utama untuk memulai gaya hidup bebas sampah adalah dengan meminimalisir dan memanfaatkan kembali sampah yang kamu hasilkan agar siklus hidupnya lebih panjang.
Berikut adalah langkah sederhana untuk menerapkan gaya hidup zero waste:
1. Memanfaatkan Barang yang Tidak Dipakai
Beberapa dari kita mungkin berpikir untuk membeli barang baru demi gaya hidup zero waste. Sebenarnya kamu bisa memanfaatkan barang-barang yang kamu miliki dan masih bisa dipakai berulang kali. Misal kamu sulap baju bekas menjadi tas belanja sendiri. Dengan begitu kamu tidak perlu menambah jumlah barang di rumah.
2. Membeli makanan secukupnya
Percaya atau tidak, Indonesia ternyata negara yang memproduksi sampah makanan terbesar kedua di dunia, lho! Beli makanan sesuai porsimu dan jangan berlebihan. Selalu bawa wadah makanan saat kamu sedang makan di luar rumah untuk menampung makanan yang tersisa untuk kamu konsumsi lagi nanti.
3. Think Before You Buy It
Kita pasti selalu mencari atau membeli barang yang praktis dan kadang tergoda dengan keinginan impulsive kita. Akhirnya kita tidak berpikir panjang, apakah ini kebutuhan atau keinginan dan kemana perginya barang ini setelah dikonsumsi. Coba deh mulai menjadi smart consumer dengan hanya membeli barang yang kamu butuhkan saja dan menolak bungkusan atau kantung plastik.
Selain lebih hemat, kamu juga mengurangi jejak karbon. Bonusnya, kamu jadi lebih bahagia karena hidup kamu lebih sederhana tanpa banyak barang di sekeliling kamu.
4. Mulai memisahkan Sampah Organik dan Anorganik
Meskipun kita masih menghasilkan sampah, tapi setidaknya kita bisa membantu mengurangi dan mengolah sampah dengan memisahkan tempat sampah organik dan anorganik.
Sampah organik adalah sampah yang bisa diuraikan seperti sayuran, sisa makanan, dan buah-buahan. Sedangkan sampah anorganik itu sampah kering seperti kertas, botol, kaca, atau bekas kemasan plastik sabun cuci, yang bisa didaur ulang. Setelah dikumpulkan, cari bank sampah di kotamu seperti waste4change, banksampah.id atau lainnya yang menerima sampah kering ataupun organik untuk diolah lagi.
Gaya hidup zero waste membantu kita untuk mengevaluasi gaya hidup dan melihat bagaimana sesuatu yang kita konsumsi bisa berdampak terhadap lingkungan. Bumi, tempat satu-satunya manusia tinggal, saat ini sedang dalam kondisi kritis. Yuk kita saling mengingatkan dan belajar untuk lebih peduli dan berbuat sesuatu terhadap kelangsungan bumi kita. Menerapkan gaya hidup zero waste adalah salah satunya.
Pada 2019 yang lalu, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 190.000 ton setiap harinya. Jika masalah tersebut dibiarkan, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) akan melebihi kapasitasnya dan tidak lagi bisa mengatasi sampah-sampah tersebut. Gerakan zero waste adalah solusi jangka panjang yang lebih mumpuni daripada membuang sampah ke TPA. Gaya hidup ini kian digandrungi di berbagai negara maju, khususnya mereka yang sudah mulai paham mengenai bahaya kerusakan lingkungan. Zero waste menjadi populer karena memiliki berbagai manfaat pada lingkup individu maupun masyarakat secara umum. Mengapa bisa demikian? Apa itu zero waste? Gerakan zero waste, atau dalam bahasa Indonesianya disebut bebas sampah, adalah suatu upaya konservasi sumber daya yang melibatkan produksi, konsumsi, penggunaan kembali, dan pemulihan produk hingga kemasannya. Sederhananya, zero waste adalah suatu gerakan untuk tidak menghasilkan sampah dengan cara mengurangi kebutuhan, menggunakan kembali, mendaur ulang, bahkan membuat kompos sendiri. Alih-alih membuang sumber daya, penganut gaya hidup zero waste bertujuan untuk membuat sistem di mana semua sumber daya dapat dikembalikan sepenuhnya ke alam. Gerakan ini tidak melibatkan pembakaran dan penimbunan seperti yang umumnya dilakukan pada limbah, sehingga dapat melestarikan dan memulihkan semua sumber daya. Penerapan upaya bebas sampah ini diharapkan dapat mengeliminasi sampah yang dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, alam, hewan, maupun planet bumi itu sendiri. Baca juga: Komunitas Zero Waste Nusantara, Berbagi Gaya Hidup Minim Sampah Bagaimana menjalankan gaya hidup zero waste? Gaya hidup zero waste sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijalani. Sebagai permulaan, kita dapat memulainya dari rumah. Contohnya, ketika membersihkan dapur, kita dapat memakai kain sebagai alat bersih-bersih daripada tisu. Dengan demikian, kita sudah mengurangi sampah tisu. Kemudian, ketika berbelanja usahakanlah berbelanja di toko yang berada di sekitar rumah daripada di supermarket besar. Gunakanlah tas belanja yang dibawa sendiri dari rumah ketika berbelanja. Selain menyokong ekonomi lokal, kita juga mengurangi pemakaian plastik yang berbahaya bagi alam. Untuk memaksimalkan hidup yang bebas limbah, ada baiknya untuk mengikuti prinsip zero waste yang terdiri dari 5R, yaitu Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (membusukkan sampah). Prinsip 5R ini menjadi pegangan untuk membentuk gaya hidup tanpa sampah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana. Baca juga: 5 Gaya Hidup yang Banyak Manfaatnya bagi Kesehatan dan Lingkungan... Apa saja manfaat yang didapat dari zero waste? Gaya hidup bebas limbah atau zero waste memberikan banyak manfaat baik dalam skala individu maupun masyarakat, di antaranya adalah: 1. Dapat menghemat pengeluaran Dengan menerapkan zero waste, maka kita akan mengurangi frekuensi berbelanja dan lebih sering membuat barang-barang sendiri. Sebagai contoh, dibanding membeli produk pembersih kaca, kita bisa membuatnya sendiri dengan menggunakan bahan-bahan sederhana seperti cuka dan soda kue. 2. Fokus pada produk-produk yang tahan lama Gaya hidup zero waste akan membuat fokus kita berubah dalam hal berbelanja. Kita akan menjadi cenderung lebih memilih barang-barang yang awet dan tahan lama - baik itu urusan pakaian atau furnitur rumah tangga. Dengan demikian, kita pun bisa semakin menghemat pengeluaran. 3. Tidak ada lagi makanan sisa Inilah salah satu manfaat terbesar dari penerapan zero waste. Tidak akan ada lagi makanan sisa yang terbuang sia-sia di rumah. Bagaimana caranya? Tentu dengan membeli makanan secukupnya dan membeli makanan yang tahan lama saja. 4. Meningkatnya kesehatan & turunnya berat badan Dengan membeli makanan secukupnya, maka kita tidak akan membeli makanan yang sembarangan pula. Makanan bernutrisi akan menjadi pilihan utama sehari-hari. Dengan demikian, pola makan kita juga dapat berubah menjadi lebih baik. Apabila kita mengalami kelebihan berat badan sebelumnya, berat badan pun dapat turun dengan perubahan pola makan dan diet setelah menerapkan zero waste. 5. Mendukung upaya mengatasi pemanasan global Dengan menerapkan gaya hidup zero waste, kita turut membantu mengurangi dampak pemanasan global. Mengapa demikian? Tentu karena kita tidak banyak membeli makanan-makanan berproses atau cepat saji. Pasalnya menurut EPA, Badan Perlindungan Lingkungan dari Amerika Serikat, makanan cepat saji berkontribusi terhadap 42% dari total emisi gas rumah kaca di dunia. Baca juga: Cara Sederhana Hidup Ramah Lingkungan Negara Swedia merupakan contoh negara yang masyarakatnya telah sukses dalam menerapkan zero waste dalam kesehariannya. Budaya mendaur ulang sudah mengakar dalam masyarakat Swedia sejak dekade 90-an. Berkat hal ini, pada tahun 2014 hanya 1% dari seluruh sampah dan limbah di seluruh Swedia yang sampai di Tempat Pembuangan Akhir. Sisanya sudah mengalami proses 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Menerapkan zero waste sebagai gaya hidup adalah suatu langkah awal bagi kita untuk melindungi alam yang akan kita wariskan pada anak cucu kita nanti. Yuk dimulai dari sekarang!
Dewasa ini, permasalahan sampah plastik menjadi isu yang sedang ramai diperbincangkan dan didiskusikan bersama. Permasalahan sampah plastik ini menyangkut kehidupan seluruh makhluk hidup di masa sekarang dan nasib generasi mendatang. Melihat dampak buruk dari sampah plastik yang menjadi salah satu dari masalah utama kerusakan lingkungan di bumi. Maka sudah saatnya kita bersegera mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan minim sampah (Zero Waste Lifestyle). Gaya hidup zero waste dengan praktik keseharian menghindari kemasan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, hingga pemanfaatan sampah organik menjadi kompos memang bukan hal mudah untuk diterapkan. Namun melalui pembiasaan dalam perilaku keseharian penerapan gaya hidup zero waste akan mudah dijalankan.
Telah banyak kita dengar beragam komunitas secara rutin menggelar kegiatan karikatif seperti bersih pantai, sungai dan gunung. Kegiatan bersih sampai di kawasan ekosistem tersebut merupakan inisiatif yang baik. Namun tindakan semacam beach cleaning yang menjamur di kalangan komunitas peduli sampah dan lingkungan tersebut bersifat kuratif yang sesungguhnya tidak menyelesaikan akar masalah pencemaran sampah. Perlu ada tindakan preventif, khususnya di kalangan masyarakat sebagai konsumen dari barang dan jasa yang potensial menjadi sumber penghasil sampah terutama plastik. Upaya pencegahan di level konsumen bisa jadi langkah strategis mengurangi timbulan sampah plastik secara signifikan. Selain itu, kesadaran konsumen untuk mulai meninggalkan produk seperti sedotan dan kantong plastik sekali pakai dapat menekan pemerintah, khususnya di level daerah untuk mengeluarkan kebijakan pelarangan beberapa jenis produk plastik yang menjadi pencemar utama lingkungan.
Adagium ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ yang sering dipakai pada konteks kesehatan sesungguhnya bisa diterapkan juga dalam konteks urgensi gaya hidup zero waste. Timbulan sampah yang menjadi masalah lingkungan selama ini lebih banyak ‘diobati’ seperti dengan bank sampah, ecobrick, hingga kegiatan bersih sampah. Namun langkah mencegah timbulan sampah terutama plastik bisa diminimalisasi belum masif. Secara perlahan dan berangsur kampanye minimalisasi sampah mulai dapat diterima terutama di kalangan anak muda dan kelas menengah perkotaan.
Gaya hidup zero waste secara perlahan menjadi trend yang berimplikasi positif bagi lingkungan hidup. Kesadaran dalam perilaku seperti dengan membawa kantong belanja sendiri hingga wadah makan dan minum cukup berdampak pada pengurangan kantong plastik sekali pakai. Kebiasaan membawa botol minum guna ulang menggantikan botol air mineral sekali pakai. Botol air mineral berdasarkan penelitian tidak direkomendasikan dipakai berulang karena mengandung bahan BPA (bisphenol-A). Kandungan BPA dalam botol plastik berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Penggunaan sedotan dari bahan bambu atau stainless steel kini mulai diterapkan oleh pelaku usaha sebagai jawaban atas keresahan konsumen. Perubahan perilaku konsumen secara perlahan ternyata berdampak signifikan menekan sektor usaha untuk membuat perubahan. Memulai dengan langkah kecil dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan pada akhirnya akan berdampak besar untuk bumi ini. Hal besar dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten dilakukan.Gaya hidup Zero Waste tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan hidup, tetapi juga berkontribusi menghemat pengeluaran keuangan. Gaya hidup ramah lingkungan mendorong efisiensi anggaran melalui pengurangan konsumsi. Kebiasaan membawa botol air minum mengurangi pembelian air mineral kemasan. Alokasi untuk pembelian botol air kemasan harian dapat dipergunakan untuk menabung atau kebutuhan lain. Gaya hidup zero waste ramah lingkungan dan ramah kantong.
Perlu diketahui bahwasanya masyarakat Indonesia tanpa disadari sejak dulu sudah menerapkan Zero Waste, tetapi karena efek negatif kapitalisme global membuat masyarakat Indonesia sekarang ini lupa akan identitasnya, secara tanpa disadari telah meninggalkan budaya leluhur yang itu sangat baik. Pada zaman nenek moyang dulu, untuk menghormati tamu, dibuatkan teh atau kopi dalam teko dan disediakan pula gelas kecil kaca untuk menuangkan teh atau kopi. sedangkan, sekarang ini dengan alasan praktis dan tidak repot. Masyarakat Indonesia membeli air minum dalam kemasan.
Penerapan gaya hidup zero waste telah dipraktekkan oleh leluhur nusantara. Dahulu penyajian makanan memanfaatkan daun seperti daun pisang dan jati. Kebutuhan air minum didapatkan dari proses memasak air. Tamu akan disuguhkan minuman seperti teh dan kopi, bukan air mineral kemasan. Perkembangan zaman kita akui membawa dampak baik sekaligus buruk. Keinginan untuk menghindari kerepotan seperti mencuci wadah makan dan minum membuat penggunaan plastik meningkat drastis. Kembali pada kearifan lokal dalam upaya menerapkan gaya hidup zero waste bukan sebuah kemunduran. Hal tersebut justru langkah maju untuk turut serta menyelamatkan lingkungan hidup.
Momentum Idul Adha mendatang bisa kita jadikan sebagai langkah awal untuk kembali pada kearifan lokal dalam upaya minimalisasi sampah terutama plastik. Pembagian daging kurban dengan tas kresek bisa kita ganti dengan besek atau daun. Jika langkah ini diterapkan secara masif di seluruh masjid, maka akan berdampak sangat signifikan. Tradisi leluhur nusantara dan ajaran semua agama menganjurkan pelestarian lingkungan. Dalam ajaran Islam anjuran untuk menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam dari tangan manusia tertuang dalam Al Qur’an secara khusus. Substansi gaya hidup zero waste telah diwariskan leluhur dan menjadi bagian ajaran agama. Maka saatnya kita go for zero waste!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar