Bermanfaat

Bandarlampung — Emas berkata pada tanah “Coba lihat pada dirimu, suram dan lemah, nilai tak setinggi aku, apakah engkau memiliki cahaya mengkilat seperti aku…??? Apakah engkau berharga seperti aku…???
Tanah menggelengkan kepala dan menjawab, “aku bisa menumbuhkan bunga, buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon, bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yang lain. Bisa menahan banginan sampai 60-100lt. Semaunya sekuatnya manusia, bisa menahan japan tol, bandara, pelabuhan, bisa jadi alas pesantren, sekolah, madrasah, kampus dan lainnya…???
Emas pun terdiam seribu bahasa.
Dalam hidup ini banyak orang yang seperti emas, berharga, menyilaukan, tetapi tidak bermanfaat bagi sesama.
Sukses dalam karir, rupawan dalam paras, tapi sukar membant apalago peduli. Tapi ada juga yang seperti tanah. Posisi biasa saja, bersahaja namun ringan tangan dan siap membantu kapanpun dan dimamapun.
Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar manfaat kita bagi orang lain.
Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar-benar bernilai.
Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagk kita, keluarga, orang terdekat dan orang lain.
Apalaj arti kemakmuran bila tidak berbagi pada yang membutuhkan. Karena hidup adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.
Tak selamanya kita diatas, hidup sudah pasti ibarat Kita mendaki gunung, setelah kita naik dan mencapai posisi diatas, pasti kita akan kembali turun. Statistik itu mutlak, dengan grafik naik turun.
Hidup itu harus bermanfaat, jangan merugikan. Apapun itu yang kita lakukan, harus dengan hati yang ikhlas.
Kita bisa membohongi satu orang secara bertubi-tubi dan terus-menerus, bahkan menguasai yang kita kehendaki. Namun kita tidak bisa membohohong banyak orang untuk tetap berada di sekitar kebohongan tersebut. Positif kita akan pergi dan menghilang setelah membohongi banyak orang.
Terkadang kita melakukan seribu perbuatan yang baik dan bermanfaat, tetapi hilang seketika karena 1 kesalahan dan satu kali kekecewaan atau tidak berkontribusi. Janganlah heran dengan hal tersebut, kita masih banyak orang terdekat yang benar-benar memahami dan selalu ada buat kita.
Jangan pernah mengecewakan seseorang yang telah berkorban dan berkontribusi kepada kita. Sekali kebohongan, selamanya sulit untuk dipercaya dan butuh bukti setiap tindakan.

Dalam hadits gambar diatas, bisa kita anggap saling bermanfaat dan berkontribusi. Hiduplah seperti itu. Jangan suka menggenggam tangan erat-erat, terbukalah. Guna tabungan di dunia maupun akherat.
Anggaplah semua sama, karena di mata Allah SWT kita semua sama, dari yang kaya sampai yang miskin. Yang mengukur derajat kita adalah akhlak dan taqwa kita kepada Allah SWT.
Sukses kita yang menentukan.
Editor : BG
Sumber : Khairul Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar