Sejarah Lampung dan Jawa
![]() |
| Muli Lampung |
PAKAR INFO : Sejarah dan Asal-usul Suku Lampung – Sejarah dan Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata “anjak lambung” yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brakdi lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung.
- Inder Gajah
Kedudukan: Puncak Dalom, Balik Bukit
- Pak Lang
Kedudukan: Hanibung, Batu Brak
- Sikin
Kedudukan: Tampak Siring, Sukau
- Belunguh
Kedudukan: Kenali, Belalau
- Indarwati
Kedudukan: Cenggiring, Batu Brak
![]() |
| Pakaian Adat Saibatin |
- Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)
- Bandar Enom Semaka (Tanggamus)
- Marga Lima Way Lima (Pesawaran)
- Keratuan Melinting (Lampung Timur)
- Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
- Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)
- Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)
![]() |
| Pakaian Adat Pepadun |
- Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.
- Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.
- Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.
- Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.
Etnis Lampung yang biasa disebut (Ulun Lampung, Orang Lampung) secara tradisional geografis adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir, Merpas di sebelah selatan Bengkulu serta Cikoneng di pantai barat Banten.
Asal usul
Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata “anjak lambung” yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung.
Prof Hilman Hadikusuma di dalam bukunya (Adat Istiadat Lampung:1983) menyatakan bahwa generasi awal Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Berdasarkan penelitian terakhir diketahui bahwa Paksi Pak Sekala Brak mengalami dua era yaitu era Keratuan Hindu Budha dan era Kesultanan Islam. Kerajaan ini terletak di dataran tinggi Sekala Brak di kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) Yang menjadi cikal-bakal suku bangsa etnis Lampung saat ini.
Diriwayatkan didalam Tambo bahwa pendiri Paksi Pak Sekala Brak masing masing adalah Ratu Bejalan di Way, Ratu Nyerupa, Ratu Pernong dan Umpu Belunguh. Kedatangan para Umpu Pendiri Paksi ini tidaklah bersamaan, berdasarkan penelitian terakhir diketahui bahwa menyebarnya Agama Islam dan pembaharuan Adat dilakukan setelah kedatangan Umpu Belunguh ke Sekala Brak yang memerangi Sekerumong dan akhirnya dimenangkan oleh perserikatan Paksi Pak sehingga dimulailah era Kesultanan Islam di Sekala Brak. Keempat Umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak Sekala Brak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama puyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Prof Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan Ulun Lampung sebagai berikut:
•Inder Gajah
Gelar: Umpu Lapah di Way
Kedudukan: Puncak Dalom, Balik Bukit
Keturunan: Orang Abung
(Ini adalah garis keturunan ane gan, ntar klo bisa ane masukin silsilahnya karena lg mau di cetak di banner)
• Pak Lang
Gelar: Umpu Pernong
Kedudukan: Hanibung, Batu Brak
Keturunan: Orang Pubian
• Sikin
Gelar: Umpu Nyerupa
Kedudukan: Tampak Siring, Sukau
Keturunan: Jelma Daya
• Belunguh
Gelar: Umpu Belunguh
Kedudukan: Kenali, Belalau
Keturunan: Peminggir
• Indarwati
Gelar: Puteri Bulan
Kedudukan: Cenggiring, Batu Brak
Keturunan: Tulang Bawang
[sunting]Adat-istiadat
Pada dasarnya jurai Ulun Lampung adalah berasal dari Sekala Brak, namun dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat adat Pepadun yang baru berkembang belakangan kemudian setelah seba yang dilakukan oleh orang abung ke Banten lebih berkembang dengan nilai nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai nilai Aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin.
Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di PantaiBanten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:
• Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)
• Bandar Enom Semaka (Tanggamus)
• Marga Lima Way Lima (Pesawaran)
• Keratuan Melinting (Lampung Timur)
• Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
• Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)
• Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)
Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:
• Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.
• Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.
• Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.
• Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.
Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:
• Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)
• Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)
• Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)
• Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)
• Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)
Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung.
Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):
Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi
Juluk-adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Nengah-nyampugh mak ngungkung, sakai-Sambaian gawi.
Dengan demikian diperkirakan bahwa nenek moyang orang Lampung itu hidup di Bukit Barisan pada abad ke-13 atau setidak-tidaknya sezaman dengan kerajaan Paguruyung Minangkabau yang didirikan Adityawarman pada tahun 1339.
Di dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu kitab adat istiadat orang Lampung yang hingg sekarang masih dapat ditemukan dan dibaca, baik dalam aksara asli maupun yang sudah ditulis dalam aksara latin, walaupun isinya sudah banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang masuk dari Banten, dikatakan sebagai berikut:
“Siji turunan Batin tilu suku tuha lagi lewek djak Pagaruyung Menangkabau pina turun satu putri kajangan, dikimpoikan jama Kun Tunggal, ja ngadu Ruh Tunggal ja ngakon tunggal ja ngadakan umpu sai tungau umpu sai tungau ngadakan umpu serunting umpu sai runting pendah disekala berak jak budiri ratu pumanggilan, Ratu pumanggilan (umpu sai Runting nganak lima muari:
Oleh karena itu bila dilihat dari silsilah keturunannya sampai sekarang, yang ada baru sekitar 24 keturunan saja. Hal ini berarti bahwa kalau dikalikan dengan 20, maka Minak Sangaji yang telah beragama Islam itu diperkirakan hidup di selitar abad 16, mungkin sezaman dengan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati yang menduduki Sunda Kelapa tahun 1526.
ASAL USUL ORANG LAMPUNG (LENGKAP)
Pada kesempatan kali ini, SIKAM LAMPUNG UNJ mengupas tentang asal usul orang Lampung. Pembahasan ini dibagi menjadi tiga bagian: Zaman Hindu Animisme, Zaman Islam, dan Zaman Hindu Belanda.
ZAMAN HINDU ANIMISME
Perkiraan sejarah suku bangsa Lampung dimulai dari zaman Hindu animisme yang berlaku antara tahun pertama Masehi sampai permulaan abad ke-16. Yang dimaksud dengan zaman Hindu di sini ialah zaman masuknya ajaran-ajaran atau system kebudayaan yang berasal dari daratan India termasuk Budhisme yang unsur-unsurnya terdapat dalam adat budaya orang Lampung. Nampaknya pengaruh Hinduisme itu sangat sedikit yang dianut oleh orang-orang Lampung, tetapi yang banyak adalah kepercayaan asli yang merupakan tradisi dari zaman Malayo-Polinesia, yang serba bersifat animisme.
Nampaknya daerah ini sudah lama dikenal orang-orang luar sekurang-kurangnya pada masa permulaan tahun Masehi, ia merupakan tempat orang-orang lautan mencari hasil-hasil hutan. Hal ini terbukti dari ditemukannya berbagai jenis bahan keramik dari zaman Han (206 s.M. – 220 M), begitu pula bahan keramik dari masa post-Han (abad ke-3 sampai abad ke-7) dan seterusnya ditemukan pula bahan-bahan keramik Cina sampai masa keramik dari zaman Ming (1368 – 1643).
Menurut berita negeri Cina dari abad ke-7, dikatakan bahwa di daerah selatan terdapat kerajaan-kerajaan yang antara lain disebut To-lang, P’ohwang. Dengan mempersatukan kedua nama itu maka dijumpai kembali Tulangbawang, yang ditempatkan di Lampung. Sebenranya letak bekas kerajaan ini yang tepat belum dapat diketahui dengan pasti, kita hanya dapat memperkirakan terletak di sekitar Way Tulangbawang, yaitu di kecamatan Tulangbawang (Menggala) di Kabupaten Lampung Utara bagian timur.
Apa yang dikatakan rakyat sebagai peninggalan sejarah berupa bukit yang terletak di rawa-rawa “bawang terbesu” di ujung kampong Unjung Gunung Menggala, yang disebut bukit “kapal cina” dan “pulau daging” masih merupakan tanda Tanya sejauh mana kebenaannya. Dikatakan bahwa kedua bukit itu adalah bekas kapal cina yang hancur dan tempat mayat yang bergelimpangan akibat perang dengan prajurit-prajurit Tulangbawang.
Begitu pula jika akan dihubungkan dengan kuburan keramat “Minak Sengaji”, cikal bakal kebuwayan Buway Bolan yang terletak di belakang kantor camat sekarang di Menggala, belum dapat dikatakan bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Ratu Tulangbawang. Oleh karena itu bila dilihat dari silsilah keturunannya sampai sekarang, yang ada baru 24 keturunan saja. Hal ini berarti bahwa kalau dikalikan dengan 20, maka Minak Sangaji yang telah beragama Islam itu diperkirakan hidup di selitar abad 16, mungkin sezaman dengan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati yang menduduki Sunda Kelapa tahun 1526.
Jika kita pergunakan pendapat Yamin, maka nama Tolang, Po’hwang akan berarti “orang Lampung” atau “utusan dari Lampung” yang dating dari negeri Cina sampai abad ke 7. Yamin mengatakan sebagai berkut:
“Perbandingan bahasa-bahasa Austronesia dapat memisahkan urutan kata untuk menamai kesaktian itu dengan nama asli, yaitu : tu (to, tuh), yang hidup misalnya dengan kata-kata ra-tu, Tuhan, wa-tu, tu-buh, tu-mbuhan, dan lain-lainnya.
Berhubung dengan urut kata asli – tu (tuh, to) yang menunjukkan kesaktian menurut perbandingan bahasa-bahasa yang masuk rumpun Austronesia, maka baiklah pula diperhatikan bahwa urat itu terdapat dalam kata-kata seperti to (orang dalam bahasa Toraja), tu (Makasar dan Bugis)”.
Dengan demikian To-lang, P’ohwang berarti To-orang, sedangkan lang P’hwang = Lampung, dan sejak itu orang menyebut daerah ini Lampung.
Meningkatnya kekuasaan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 disebut dalam inskripsi batu tumpul Kedudukan Bukit dari kaki bukit Seguntang di sebelah barat daya Kota Palembang, yang mengatakan bahwa pada tahun 683 Sriwijaya telah berkuasa di laut dan di darat, dan pada tahun 686 negara itu telah mengirimkan ekspedisinya untuk menaklukan daerha-daerah lain di Sumatera dan Jawa. Olah karena itu dapatlah diperkirakan bahwa sejak masa itu Kerajaan Tulangbawang telah dikuasai oleh Sriwijaya, atau daerah ini tidak berperan lagi sebagai kota pelabuhan sungai di pantai timur Lampung.
Riwayat lama yang disampaikan secara turun temurun di kalangan rakyat mengatakan bahwa cikal bakal sebagian besar orang Lampung yang ada sekarang ini berasal dari Sekala Be’rak , yaitu suatu daerah dataran tinggi gunung Pesagi (2262 m)di kecamatan Kenali (Belalau) sekarang.
Dengan demikian diperkirakan bahwa nenek moyang orang Lampung itu hidup di Bukit Barisan pada abad ke-13 atau setidak-tidaknya sezaman dengan kerajaan Paguruyung Minangkabau yang didirikan Adityawarman pada tahun 1339.
Di dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu kitab adat istiadat orang Lampung yang hingg sekarang masih dapat ditemukan dan dibaca, baik dalam aksara asli maupun yang sudah ditulis dalam aksara latin, walaupun isinya sudah banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang masuk dari Banten, dikatakan sebagai berikut:
“Siji turunan Batin tilu suku tuha lagi lewek djak Pagaruyung Menangkabau pina turun satu putri kajangan, dikawinkan jama Kun Tunggal, ja ngadu Ruh Tunggal ja ngakon tunggal ja ngadakan umpu sai tungau umpu sai tungau ngadakan umpu serunting umpu sai runting pendah disekala berak jak budiri ratu pumanggilan, Ratu pumanggilan (umpu sai Runting nganak lima muari:
1. Sai tuha Indor Gadjah turun abung siwa miga
2. Sai Belungguh turunan peminggir
3. Sai Pa’lang nurunkan pubijan 2 suku
4. Si Padan ilang
5. Si sangkan wat di suka ham
Dengan demikian, menurut Kuntara Raja Niti, orang Lampung (suku Pubijan, Abung Peminggir, dan lain-lain) berasal dari Pagaruyung, keturunan putrid Kayangan dan Kua Tunggal. Kemudian setelah kerabat mereka berdiam di Sekala Be’rak, maka di masa cucunya, Umpu Serunting, mereka mendirikan Keratuan Pemanggilan. Umpu Serunting ini menurunkan lima orang anak laki-laki mereka adalah Indra Gadjah yang menurunkan orang Abung, Belunguh yang menurunkan orang-orang Peminggir, Pa’lang yang menurunkan orang-orang Pubiyan, Pandan yang diakatakan menghilang dan Sungkan yang dikatakan Suku Ham.
Selanjutnya sebagaimana diuraikan dalam Kuntara Raja Niti, karena orang-orang Bajau(perompak laut) dating menyerang, maka keratuan Pemanggilan itu pecah sedangkan warga masyarakat beralih tempat meninggalkan Sekala Be’rak, ke daerah dataran rendah Lampung sekarang. Keturunan Indra Gadjah kemudian menetap di Ulok (Kecamatan Tanjungraja Lampung Utara), di mana di bawah pimpinan Minak Rio Begeduh mereka mendirikan Keratuan Di Puncak.
Diperkirakan bahwa di masa Minak Rio Begeduh ini armada Majapahit singgah di pantai timur, yaitu di daerah kekuasaan Keratuan Pugung yang berada di kecamatan Labuhan Maringgai sekarang tetapi tidak sampai masuk ke daerah pedalaman.
Di masa kekuasan putra Minak Rio Begeduh yang bernama Minak Paduka Begeduh, daerah Abung diserang lagi oleh perompak dari laut yang mengakibatkan tewasnya Minak Paduka Begeduh. Hal ini menyebabkan keempat anak Minak Paduka Begeduh mengadakan pertahanan. Mereka adalah Unyai (Minak Trio Disou), yang membuat pertahanan di sepanjang Way Abung dan Way Rarem, Unyi (Minak Ratu Di Bumi), membuat pertahanan di sepanjang Way Seputih, Uban (wanita) dengan suaminya yang membuat pertahanan di sepanjang Way Terusan. Menurut cerita turun temurun yang kita dengar, Subing berhasil menebus kehormatan ayah mereka Minak Paduka Begeduh yang wafat itu dengan membunuh kepala perompak yang disebut Raja Dilaut
Melacak Asal Usul Orang Lampung
Sebagian (besar) masyarakat Lampung percaya bila mereka berasal dari Sekala Brak, Lampung Barat. Sekala Brak pertama kali dihuni oleh Sukubangsa Tumi. Setelah kedatangan empat umpu dari Pagaruyung sekira abad XV atau XVI, yakni Inder Gajar bergelar Umpu Lapah di Way, Pak Lang bergelar Umpu Pernong, Sikin bergelar Umpu Nyerupa, Belunguh yang bergelar Umpu Belunguh, dan seorang putri Indarwati bergelar Puteri Bulan terjadi migrasi Sukubangsa Tumi ke berbagai penjuru, yakni hampir seluruh wilayah Lampung, hingga ke Sumatera Selatan bagian selatan dan pantai utara Banten. Dari Sekala Brak ini kemudian lahir sembilan keturunan (kebuayan) besar yang berkembang menjadi puluhan marga.
Melupakan Pagaruyung
Asal usul orang Lampung menurut mitologi hanya menyebut berasal dari Sekala Brak yang saat itu didiami Sukubangsa Tumi. Dari catatan cerita tutur saja ada satu realitas yang sering dilupakan: orang Lampung juga memiliki garis keturunan dari Pagaruyung. Ada dua rekonstruksi mengenai nenek moyang orang Lampung sejak kedatangan empat umpu yang datang ke Sekala Brak. Pertama, umpu-umpu ini mengalahkan Sukubangsa Tumi dan menguasai Sekala Brak. Bila tesis ini benar, berarti empat umpu yang datang memimpin wilayah dan yang menurunkan orang Lampung adalah umpu-umpu dari Pagaruyung. Kedua, umpu yang datang hanya singgah, dan mengajak sebagian warga Sekala Brak melakukan migrasi sehingga nenek moyang orang Lampung berasal dari Sekala Brak dan Pagaruyung.
Rekonstruksi migrasi dari Pagaruyung ini menarik untuk didiskusikan karena beberapa sebab. Selain bersumber dari tambo, adakah alasan pembenar lain yang menguatkan kemungkinan kedatangan umpu dari Pagaruyung. Alasan pembenar ini dapat berupa analisis konteks terhadap pengaruh budaya Pagaruyung terhadap kebudayaan Lampung saat ini. Bila migrasi dilakukan antara abad XV atau XVI, Pagaruyung kuat dugaan telah memeluk Islam. Islam mewarnai kehidupan sosial masyarakat Pagaruyung sehingga kita mengenal istilah: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Masyarakat Lampung juga paralel dengan masyarakat Pagaruyung adalah pemeluk agama Islam yang taat. Kuntara Raja Niti, kitab (hukum) adat Lampung juga banyak memuat kodifikasi yang dipengaruhi hukum agama Islam.
Namun bila kita bandingkan dengan sistem kekerabatan yang dianut masyarakat Lampung, terlihat perbedaan yang mencolok. Masyarakat Pagaruyung dikenal luas sebagai masyarakat dengan tradisi kekerabatan yang bersifar matrilineal, berbeda dengan sebagian besar kebudayaan Indonesia termasuk Lampung yang menganut sistem patrilineal. Bila umpu Sekala Brak berasal dari Pagaruyung tentunya akan memengaruhi sistem kebudayaan masyarakat Lampung juga, termasuk sistem kekerabatannya.
Tidak Tunggal
Saya cenderung percaya bahwa nenek moyang orang Lampung tidak berasal dari satu wilayah atau keturunan yang tunggal. Artinya, nenek moyang orang Lampung tidak mutlak berasal dari Sekala Brak. Dalam sejarah Sekala Brak saja setidaknya menyebut-nyebut Pagaruyung. Ada beberapa tesis yang dapat direkonstruksi mengenai kemungkinan nenek moyang orang Lampung berasal. Yang perlu diteliti lebih lanjut adalah kemungkinan nenek moyang orang Lampung berasal dari Tanah Batak. Meski mitologi masyarakat Lampung tidak menyebut Batak, justru mitologi Batak menyebut salah satu garis keturunan mereka melakukan migrasi ke Lampung. Isneini (Lampost, 23 Desember 2007) menulis bahwa masyarakat Batak terdiri dari Raja Batak yang bernama Toba, dengan dua adik bernama Lapung yang bermigrasi ke Lampung dan Sumatera Selatan dan Boni (Bone) yang bermigrasi ke Sulawesi Selatan.
Dalam buku Sejarah Daerah Lampung (1977), disebutkan bahwa orang Lampung adalah keturunan Ompu Silamponge (Silamponga) yang melakukan migrasi dari Tanah Batak setelah terjadinya gunung meletus yang mengakibatkan terbentuknya Danau Toba. Ompu Silamponge beserta rombongan berlayar dan terdampar di Pantai Krui. Mereka kemudian mendaki Gunung Pesagi, sebagian rombongan menuju Rejang Lebong dan Komering, sebagian lagi menetap di Sekala Brak. Asal kata Lampung diduga berasal dari nama Ompu Silamponge. Dugaan keterkaitan antara Batak dengan Lampung dapat dilacak dari beberapa kesamaan bentuk Aksara Batak dengan Aksara Lampung serta kesamaan sejumlah kata dalam Bahasa Batak dan Bahasa lampung. Meskipun kesamaan ini dapat diartikan bukan saling memengaruhi namun karena sama-sama berasal dari sumber aksara dan bahasa yang sama dan kemudian berkembang di wilayah masing-masing.
Saat melakukan riset mengenai Etnografi Way Kanan saya mendapat informasi bahwa ada kemungkinan nenek moyang orang Lampung sebagian berasal dari Jawa. Hal ini dapat dirujuk pada sejumlah toponimi kota-kota di Lampung yang menunjukan pengaruh Jawa. Seperti toponimi Blambangan Umpu di Way Kanan. Ada dugaan, istilah ‘Blambangan’ merujuk pada Kadipaten Blambangan wilayah Majapahit di bekas Karesidenan Besuki sekarang (Banyuwangi dan sekitarnya). Meskipun analisis berdasarkan toponimi sebenarnya masih lemah secara metodologis.
Pengaruh Sumatera Selatan dan Banten tentu juga cukup mewarnai kehidupan masyarakat Lampung, termasuk kemungkinan asal keturunan masyarakat Lampung sebagian dari wilayah tetangga ini. Di Lampung misalnya terdapat marga Rebang Pugung di Talang Padang, marga Rebang Kasui di Kasui, marga Rebang Seputih di Tanjungraya, marga Way Tenong di Way Tenong (yang beradat dan berbahasa Semendo), serta marga Way Tuba di Bahuga yang beradat dan berbahasa Ogan. Di pesisir selatan Lampung, pengaruh Banten lebih terasa lagi. Terlebih menurut catatan sejarah, Lampung pernah dikuasai Banten.
Hampir sulit kita mengatakan nenek moyang orang Lampung berasal dari satu wilayah dan keturunan yang tunggal. Keturunan bermula dari perkawinan. Dan hampir dapat dipastikan bila dalam perkawinan terjadi perilaku eksogami (perkawinan antarsuku, atau antarklan), bahkan pada masyarakat yang disebut menganut sistem endogami sekalipun (pernikahan dengan sesama warga satu suku atau klan). Eksogami membuka ruang bagi terjadinya asimilasi asal keturunan. Eksogami juga memungkinkan pengaruh kebudayaan luar masuk dan mewarnai kebudayaan lokal. Karena seperti yang dikatakan Prof. Slamet Muljana (1964), tidak ada kebudayaan paling murni atau paling asli dalam sejarah peradaban umat manusia. Tabik.
Sejarah Suku Lampung
Orang Lampung mengenal dua kelompok adat yang besar, yaitu kelompok Adat Pepaduan dan kelompok Adat Peminggir atau Pubiyan. Selain itu juga dikenal kelompok masyarakat beradat Semende (Semendo), Adat Ranau, Adat Belalau, Adat Pegagan, dan Adat Ogan. Kelompok Adat pepaduan umumnya mendiami wilayah Lampung bagian timur dan tengah, dicirikan oleh sistem adat kebangsawanan mereka yang cukup kompleks yang disebut Kepunyimbangan. Kelompok Adat Peminggir umumnya mendiami wilayah bagian barat, dicirikan oleh sistem pelapisan sosialnya yang dua tingkat, adat ini disebut juga Sebatin atau Seibatin.
Orang Lampung Pepadun terbagi lagi menjadi empat kelompok, yaitu Abung Siwo Megou (Abung Sembilan Marga), Megou Pak Tulangbawang, Buay Lima, dan Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku). Setiap kelompok masih terbagi lagi atas sejumlah klen besar yang berdiam di wilayah tertentu, yang disebut buay atau kebuayan. Orang Lampung Peminggir terbagi atas lima kelompok, yaitu Peminggir Melinting Rajabasa, Peminggir Teluk, Peminggir Skala Brak (di daerah Liwa), Peminggir Semangka, termasuk ke dalamnya kelompok orang Komering (yang berdiam di daerah Ranau, Komering, dan Kayu Agung, di Sumatera Selatan).
Bahasa Suku Lampung
Mata Pencaharian Suku Lampung
Sundaland dan Bangsa Arya India
Pada sekitar tahun 9600 SM, yakni pada masa berakhirnya zaman es, jazirah Sundaland yang berada di sebelah utara Kendhang, tenggelam. Sebagian penduduk Sundaland, kemudian hijrah ke wilayah Kendhang.
Interaksi antara Penduduk Sundaland, dengan anak keturunan pengikut Dang Hyang Semar, kelak menjadi asal muasal leluhur Bangsa Jawa.
Di dalam kisah mahabharata, di tanah Jawa terdapat Kerajaan Pringgadani, yang lokasinya di sebelah timur Kekaisaran Kuru, setelah melewati negeri gajah Pragjyotisha.
Dari Kerajaan Pringgadani ini, kelak akan muncul sosok Pahlawan Mahabharata, yang merupakan putera dari Bima yakni Raden Gatotkaca,
Diperkirakan pada sekitar 5000 tahun yang silam (sekitar 3000 SM), selepas Perang Mahabharata, Pulau Jawa kedatangan bangsa Arya dari India. Kehadiran Bangsa Arya ini, tercatat di dalam silsilah raja-raja Jawa dan Sunda, yang tertulis sebagai keturunan cucu Arjuna, yang bernama Prabu Parikesit.
Menurut catatan sejarah, pada sekitar tahun 2500-1500 SM, Nusantara kedatangan gelombang pendatang dari ras mongoloid serta tahun 300 SM kedatangan pendatang dari Asia Selatan dan Asia Tengah. Kelompok migrasi inilah, yang kemudian mewarnai peradaban di pulau Jawa, mereka berinteraksi dengan penduduk lokal dan membentuk bangsa yang baru.
Bangsa yang baru ini, dikalangan sejarawan dikenali sebagai Bangsa Proto Melayu dan Deutero Melayu, yang saat ini merupakan mayoritas penduduk Jawa pada khususnya dan masyarakat Nusantara (Asia Tenggara) pada umumnya.
Membahas asal-usul suku-suku di Indonesia selalu menarik, termasuk Jawa. Akibat modernisasi sulit melihat perbedaan antara orang Jawa dan suku lain. Buku Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa mencoba menjawab siapa orang Jawa. Di dalamnya juga ditulis berbagai budaya Jawa yang sarat falsafah hidup. Hal ini sebagai pijakan dan bekal orang Jawa mengarungi kehidupan.
Banyak pandangan tentang asal-usul orang Jawa. Para sejarawan mengatakan, sejak 3.000 sebelum Kristus hingga era kerajaan-kerajaan Jawa, orang Jawa bukan hanya penduduk lama yang tinggal di tanah Jawa, tetapi juga para pendatang dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan. Ada juga dari Kasi (India Selatan), Dinasti Kusana (India), keturunan Thailand (Siam), Turki, Arab, dan Campa. Dalam perjalanannya, orang-orang Jawa didominasi keturunan Tiongkok dan India.
Pendapat ini bisa dibuktikan secara ilmiah dari tes deoxyribonucleic acid (DNA). Di mana DNA orang Jawa tidak jauh berbeda dengan DNA orang Tiongkok dan India (hal 19-22). Selain itu, meskipun masih dalam perdebatan, definisi orang Jawa tidak terbatas hanya pada orang yang lahir dan bertempat tinggal di Pulau Jawa, khususnya Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur yang senantiasa berbahasa, berbudaya, berfilsafat, dan berkepribadian Jawa.
Seseorang berkelahiran di Jawa atau keturunan orang Jawa, namun tinggal di luar wilayah Jawa tetap dianggap orang Jawa. Asalkan, orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa, budaya, dan filsafat Jawa. Namun, orang yang sekadar lahir dan bertempat tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa dianggap bukan orang Jawa sesungguhnya (hal 9).
Bila menilik sejarah, orang-orang Jawa tidak hanya berasal dari satu wilayah, bahkan negara, sehingga menghasilkan salah satu ciri kepribadian orang Jawa bisa berbaur dengan orang-orang dan bangsa lain, tanpa memerhatikan suku, agama, dan ras. Contoh, dari kepribadian ini salah satunya dapat ditemukan di Yogyakarta.
Di wilayah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia itu, orang Jawa dapat berbaur dan bersaudara dengan orang-orang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain. Bahkan, orang-orang Jawa bisa bergaul dengan para pelancong mancanegara (hal 42).
Budaya Jawa warisan para leluhur, tidak bersifat menggurui. Sebab budaya Jawa mengandung banyak tanda penuh makna yang menggambarkan pandangan hidup. Hal itu dapat ditemukan antara lain dalam kesenian, seperti pertunjukan tari serimpi yang dimainkan empat wanita. Secara filosofis, jumlah empat penari wanita dalam tarian ini melambangkan empat arah mata angin: utara, timur, selatan, dan barat. Selain itu, juga melambangkan empat unsur alam: api, udara, air, dan tanah (hal 170).
Sajian kuliner pun tak lepas dari simbol yang memberikan pengajaran hidup, salah satu contohnya jajanan pasar, lemper. Lemper hampir selalu ada dalam setiap acara besar, mulai dari resepsi pernikahan, khitanan, hingga pengajian. Oleh masyarakat Jawa, lemper dimaknai yen dialem atimu aja memper (kalau dipuji, kau jangan sombong). Dengan demikian, lemper memiliki ajaran kepada setiap manusia agar tidak mudah sombong saat dipuji orang lain (Hal 201).
Selain makna yang terkandung dalam kesenian dan kuliner, buku ini menjabarkan bermacam-macam makna di balik kesusastraan, peribahasa, aliran kepercayaan, bahasa, upacara adat, arsitektur, busana adat, dan lain-lain. Penjelasan dalam buku ini, tidak bermaksud mengkotak-kotakan antara suku Jawa dengan suku lainnya, sebab negara ini dibangun dari persatuan seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia, yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar