https://azzamganteng-gac.blogspot.com/

Jumat, 02 September 2022

Beberapa cerita Motivasi

 

Beberapa cerita Motivasi

Selalu Ada Tetesan Air Walau Itu Di Padang Gurun

fb_img_15351486330319512580230897965646860.jpg

Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.

Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping.

Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir.

‘Hingga tetes terakhir’, pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton: “Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!”

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras… dan menekan sisa jeruk… tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal.

Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : “Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?”

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. “Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung.” Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras… dan “ting!” setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.

Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, “Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu.

Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?”

“Begini,” jawab wanita itu.

Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku.

Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku. Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir.

Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku.

Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.

Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya, demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut.

MEMBUKA KESADARAN

Alkisah, ada seorang murid baru yang diperintah oleh gurunya untuk mengambil air di dekat sebuah sumur yang terletak di belakang perguruan.

Si murid pun bergegas menuju ke belakang untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan. Tanpa berpikir panjang atau mempelajari situasi di sekitar sana, pikiran dan langkah kakinya langsung tertuju pada sumur dan ember untuk menimba air.

“Ahaa…itu dia ember kosong dan talinya,” serunya. Dengan gembira ,dia pun mulai memegang tali dan mengayunkan ember ke dalam sumur. Tetapi sampai tali yang dipegang di tangan hampir tiba di ujung, dirasakan ember nya tetap kosong, tidak juga menyentuh air di dalam sumur. Maka dia melakukan usaha lebih keras. Tubuhnya ikut dilengkungkan ke bawah seraya matanya menatap nanar berusaha menembus kegelapan sumur sambil tangannya sibuk mengayun-ayunkan ember. Tetapi tetap saja tidak ada apa pun yang tersentuh ember di bawah sana.  Panas yang terik dan usaha sepenuh hati yang dilakukan berkali-kali membuat keringat mengucur deras membasahi bajunya.

Murid itu pun mulai merasa kesal dan jengkel. Usahanya berkali-kali dan keinginannya untuk tidak menyerah tetapi tidak membawa hasil seperti yang diharapkan, membuat emosinya semakin memuncak.

Dari kejauhan, sang guru menyaksikan ulah si murid. Dengan senyum sabarnya dihampiri si murid. Melihat kedatangan gurunya, si murid segera berkata lantang, “Guru, saya sudah berusaha menimba air tetapi kelihatannya sumur ini sudah kering. Jika sumur ini tidak berair, mengapa Guru memerintahkan saya untuk mengambil air?”

Gurunya balik bertanya, “Berapa kali kamu menimba?”

Si murid menjawab dengan emosi, “Sudah berkali-kali. Lihat saja bajuku sampai basah kuyup begini!”

Sang Guru berkata lagi, “Kalau kamu merasa sumur itu kosong, mengapa harus terus menimba? Kamu marah, ya? Kemarahanmu sampai menutup kesadaran dan akal sehatmu ya?” PLAK!  Kepala si murid pun dipukul oleh sang Guru.

“Lihat ke samping sumur itu, di sana ada keran air. Tinggal dibuka krannya, airpun mengalir. Guru suruh kamu mengambil air di dekat sumur, bukan menimba di sumur!”

Seketika wajah si murid merah padam… dia merasa malu sekaligus merasa begitu bodoh karena telah membuang energi dan kemarahan tidak pada tempatnya.

Netter yang luar biasa,

Sering kali kita sibuk mengumbar emosi dan kemarahan, menyalahkan orang lain dan keadaan, tanpa alasan yang jelas dan benar. Karenanya, terkadang kita perlu mendapat “kesadaran” (baik dari diri sendiri maupun orang lain) agar terhindar dari kebodohan dan kesalahan yang tidak bijak. Sehingga,  tidak perlu ada sesal di kemudian hari yang akan membebani langkah kita ke depan.

 

Tetanggaku Yang Kaku Telah Mengajarkanku Hal Terbaik Ini

Cerita berikut ini adalah sebuah kisah fiktif, tentang seorang tetangga yang kaku telah mengajarkan sesuatu hal yang baik. Baca kisahnya.

Aku melihat adikku Nur Rahman sebagai sosok yang kaku dan pendiam, bahkan meski kami kuliah di kampus yang sama dan tinggal bersebelahan rumah. Tak sekalipun kami pergi kuliah bersama, sebab tetanggaku ini memang sedikit pendiam dan sepertinya lebih senang berangkat dan pulang sendirian saja menggunakan sepeda ontelnya yang telah tua. Padahal jika dipikir-pikir, kenapa ia tak berangkat denganku saja naik sepeda motorku, apalagi beberapa jadwal kuliah kami sepertinya sama.

Dibandingkan dengan jam terbangnya yang telah tinggi dan telah semester akhir, tentunya adikku Nur Rahman seharusnya memiliki teman yang lebih banyak di kampus, dibandingkan dengan aku yang baru saja memasuki semester kedua.

Namun tidak, sama halnya seperti di rumah, di kampus juga adikku Nur Rahman tidak memiliki banyak teman dan lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan.

Aku bahkan sangat jarang melihatnya kumpul-kumpul dengan teman lainnya, hanya satu atau dua kali saja dalam sepekan. Kehidupannya terlihat sangat membosankan dan bahkan tidak menarik sama sekali, bahkan aku yang bertetangga saja sangat jarang bertegur sapa.

Kaku dan Terlihat Galak

Rumah kami yang yang satu atap memang membuat adikku Nur Rahman sedikit disegani.

Orangtua kami ramah dan bahkan selalu saja ada pembahasan atau bahan obrolan, begitu juga dengan aku, adik laki-laki nomor 3 dan adik perempuan ku selalu ceria dan humoris.

Hanya adikku Nur Rahman seorang saja yang begitu kaku dan seperti tidak pernah bergaul dengan yang lain, sehingga kesan galak sangat melekat di wajahnya yang sedikit tirus.

Rumah kami memiliki pekarangan yang tidak begitu luas.  Kami memiliki sebatang pohon Alpukat, dan Rambutan.

Seperti biasa, pohon yang begitu rajin berbuah ini tidak pernah dipanen dan dijual buahnya, sebab hanya akan dimakan saja oleh keluargaku dan dibagikan ke tetangga. Jika buahnya banyak, ibu juga selalu membagikannya kepada para tetangga lainnya.

Saat itu buah alpukat dan rambutan belum terlalu matang merata, jadi kami memang belum pernah memetiknya. Namun siang itu, 4 orang anak kecil dari gang sebelah datang dan berupaya memanjat pohon jambu tersebut.

Anak-anak ini memang terkenal nakal dan sering membuat ulah di sekitar rumahku. Aku melihat dari balik tirai jendela kamarku yang galap, sebab hari memang sudah sedikit sore.

Mereka begitu bersemangat, memetik dan memakan rambutan tersebut di atas pohonnya. Aku berniat untuk memarahi mereka, nanti setelah semua anak tersebut memanjat, sebab seorang lagi masih berdiri di bawah.

Tiba-tiba saja adikku Nur Rahman datang dan menghampiri mereka, lengkap dengan wajah kakunya yang jarang senyum itu. Anak-anak itu tak menyadarinya, hingga adikku Nur Rahman berdiri di bawah pohon rambutan tersebut.

Aku penasaran dan mulai membayangkan bagaimana wajahnya ketika marah nanti, karena pohon rambutan kami dipanjati anak-anak itu.

Namun sepertinya aku harus kecewa, karena penilaian aku salah. adikku Nur Rahman tersenyum dan melambaikan tangannya yang memegang beberapa lembar kantong plastik warna-warni seraya berkata, “Ayo ambil ini dan masukkan rambutan ke sini. kita makan bersama, ambilkan buat saya juga, rambutan ini harus dicuci dulu sebelum dimakan, Dek, biar gak sakit perut.”

Aku tercengang, sebab pemuda yang kuanggap kaku dan tidak bersosialisasi ini ternyata bisa ramah juga, bahkan kepada anak-anak nakal tersebut. Sepertinya aku sudah salah menilai adikku Nur Rahman selama ini.

“Tidak perlu marah. Tunjukkan yang benar, maka mereka akan belajar,” katanya padaku beberapa hari kemudian, saat aku dan dia berangkat kuliah bersama.

Perkataannya tersebut telah mengajarkanku, terkadang untuk memberi tahu anak anak yang nakal tidak selamanya harus dengan kekerasan.

TIDAK ADA JALAN YANG RATA UNTUK MENUJU SUKSES

Suatu pagi hari yang buta, terlihat seorang pemuda dengan tas di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal. Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan yang sangat indah.

Ketika sampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua. Setelah menyapa pemilik rumah, si pemuda segera mengutarakan maksudnya. “Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong tunjukkan jalur yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung.”

Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan si pemuda, “Ada tiga jalan untuk menuju puncak gunung ini. Kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah, atau sebelah kanan.”

“Kalau saya memilih sebelah kiri…?” tanya si pemuda.

“Jalur sebelah kiri ada banyak bebatuan,” jawab sang kakek pendek sambil berbalik masuk ke dalam rumah.

Si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa waktu kemudian, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah sang kakek.

“Saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan,” keluhnya. “Jalan sebelah mana lagi yang bisa aku lewati?”

Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi tiga jari tangannya sambil menjawab, “Pilih saja sendiri, jalur kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Hmmm, jika saya memilih jalan sebelah kanan…?”

“Jalur sebelah kanan banyak semak berduri!”

Setelah beristirahat sejenak, si pemuda  kembali berangkat untuk mendaki. Tak lama kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek. Sambil mengatur napas, si pemuda berkata, “Saya sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah kutempuh,  tapi rasanya saya tetap berputar-putar di tempat yang sama. Saya tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil. Tolong tunjukkan jalan lain yang lebih rata dan lebih mudah agar saya sukses mendaki hingga ke puncak gunung.”

Sang kakek dengan serius mendengarkan keluhan si pemuda. Kemudian sambil menatap tajam, dia berkata tegas, “Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu. Jangan lupa, nikmati juga pemandangan yang luar biasa! Apakah kamu mengerti?”

Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek. Lalu, sambil tersenyum gembira, dia  menjawab, “Saya mengerti, saya mengerti! Terima kasih! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.”

Dengan senyum puas , sang kakek berkata, ”Anak muda, aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu!”

Sahabat  yang Luar Biasa,

Untuk mencapai kesuksesan seperti yang kita inginkan, sama seperti analogi mendaki gunung tadi. Tidak ada jalan rata dan pintas menuju sukses! Sewaktu-waktu, rintangan,  kesulitan, dan kegagalan selalu datang menghadang. Hanya dengan mental dan tekad yang kuat, tetap menjaga komitmen dan berjuang menyingkirkan/menyelesaikan halangan & rintangan, kita akan mencapai puncak kesuksesan.

DIPOSKAN PADATAK BERKATEGORI

Kronologi dan Proses Ahmad Sugiarto

Perkenalkan nama Ahmad Sugiarto, anak pertama dari 4 bersaudara (kandung), dari Bapak Slamet Prawira dan Ibu Alm. Ratna Suciati. Anak ke-5 dari 10 bersaudara (kandung-tiri), Bapak Slamet Prawira dan Ibu Sri Suparmi. Lahir di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah tanggal 26 Juni 1992. Alamat tempat tinggal keluarga di Kelurahan Dayamurni, Kec. Tumijajar, Kab. Tulang Bawang Barat, Prov. Lampung. Alamat tempat tinggal perantauan di jl. Dempi 3, no.50. Kelurahan Labuhan Ratu, Kec. Kedaton. Kota Bandar Lampung.

Riwayat Pendidikan :

  • TK : TK Aisyah Dayamurni (1999-2001)
  • SD/Mi : SD 1 Daya Murni (2001-2008)
  • SMP/MTs : MTs MHM (2008-2011)
  • SMA/SMK/Ma : SMK 1 Muhammadiyah Tumijajar (2011-2014)
  • Perguruan Tinggi : S1-Pendidikan Agama Islam (2013-Sekarang)

Gambar 1

Sedikit menceritakan kisah dan perjalanan hidup, dari yang merasakan bahagia sampai hati yang paling sedih dan keadaan paling susah.

Jika melihat gambar pertama, itu adalah keberanian yang sangat luar biasa bagi saya. Berani mengemban Amanah, setelah banyak beberapa pertimbangan dan masalah serta lika-liku di sana sebagai Ketua Pelaksana dalan acara tingkat Nasional. Nanti akan saya ulas di bawah.

Kita mulai cerita dan kisah dari kecil. Karena jika kita presentasekan untuk hati yang bahagia adalah 20% dan kurang puas adalah 60 %, yang 20% adalah hal-hal yang biasa saja seperti yang teman-teman rasakan.

Sebelum saya lahir, bapak saya pernah menjadi tentara di Jawa. Tetapi karena suatu masalah dan kendala, bapak saya tidak melanjutkan dan merantau ke beberapa tempat di Indonesia seperti : Kalimantan, Bengkulu, Palembang, Jakarta, Kotabumi, Dan beberapa tempat lainnya. Terakhir bapak menentukan tempat perantauan yang tepat yaitu di lampung setelah sempat berjuang di Kotabumi dan Kedaton Bandar Lampung, akhirnya bapak finish di Tulang Bawang Barat, Desa Dayamurni, Kec. Tumijajar. Kita ulas terlebih dahulu, saat bapak pertama merantau ke Lampung, bapak bertemu dengan Ibu di daerah Kotabumi, saat itu ada beberapa kisah mereka berdua.

Bapak dan ibu bertemu di Kotabumi dengan keadaan ibu sedang sedih dan seperti ada masalah. Dan bapak bertanya “enten masalah nopo dek, sanjange mboten tenang, gelisah mawon?“. Ibu menjawab “kulo kabur saking griyo, bojo kulo ajeng mateni kulo mas, bojo kulo kasar, kulo mboten saget maleh, ajeng pegatan!”. Bapak berkata, “Nggeh mpun, melu aku wae, binjing melu teng jawi, griyane kulo, mboten usah khawatir”. Ibu ibu menjawab “kersane mas, nopo mboten ngereptne?”. Bapak menjawab “mboten dek” “pripun, melu wangsul teng jawibkaleh kulo?”. Ibu menjawab “enggeh mas, kulo puron”.

Setelah bapak dan ibu sampai di jawa, dan ibu mulai akrab dengan keluarga bapak dengan keterbukaan mereka, dan akhirnya keluarga bapak bisa menerima ibu dengan baik. Setelah beberapa hari ibu dirumah, karena takut ada omongan yang tidak enak di dengar di telinga, bapak memutuskan untuk menikahi ibu.

Bapak berkata “dek, sanjange awakmu sampun cocok kaleh keluarga ku, gak penak di delok tonggo, lan wedine entok omongan seng gak apik seko tonggo, aku yo wes kadong tresno kaleh awakmu, ben gak dadi omongan tonggo, awakmu gelem ora lek tak pek bojo, tak rabi dek?”. Ibu menjawab “tapi sanjange kulo rondo mas, nopo sampean mboten isin?”. Bapak berkata “mboten usah di perdulikne kui nggeh, sampean mboten puron tak rabi?”. Ibu menjawab “tapi sampean nembung kaleh mak’e. Kulo sanjange langsung nyuwun pegat kaleh bojo kulo”. Bapak mejawab “nggeh mpun, monggo. Tak nemoni ibu’e sampean, mboten usah wedi kaleh bojone sampean, enten kulo!”. Ibu menjawab “Enggeh mas, kulo purun, matur suwun sanget”. Bapak bertanya “nggeh mpun, kapan aku tak nemoni ibu mu, tak nembung, tapi lak awakmu jek wedi, awakmu neng kene mawon nggeh?”. Ibu menjawab “enggeh mas, kulo manut mawon”.

Dari kejadian tersebut maka menikahlah mereka setelah bapak berhasil dan mendapatkan restu dari nenek (Ibunya ibu). dengan penjelasan yang dijelaskan oleh bapak terhadap nenek, dengan sigap nenek merestu dan mengizinkan. segeralah ibu pulang dan mengurus perceraian den suaminya yaitu bapak samsul.

Beberapa hari kemudian, bapak dan ibu langsung menikah dengan resepsi yang sederhana, dan resmilah lah ibu bercerai dengan bapak samsul, resmi pula ibu menjadi istri sah bapak slamet. selain itu ibu sudah memiliki satu anak yang bernama Hadi Siswanto, yang biasa dipanggil sis. sis adalah kakak pertama satu rahim ibu beda bapak, dan mas sis akhirnya ikut ibu dan bapak. Setelah bapak ibu menikah dan hidup bersama dengan tentran dan juga ditemani oleh mas sis.

mas sis lahir di Kasui, Kec. Waykanan. Provinsi Lampung pada tanggal 21 Maret 1986. mas sis lah yang selalu menemani bapak dan ibu hingga mas sis menikah. beberapa bulan kemudian, Hamillah ibu, dengan bahagianya anak pertama dari bapak slamet dan ibu ratna suciati, dan selama 9 bulan mengandung, ssebelum melahirkan bapak dan ibu pulang kejawa, lahirlah anak pertama di Provinsi Jawa Tengah, Kab. Sragen, Desa Pengkol pada hari Jum’at tanggal 26 Juni 1992 dan diberi oleh nenek yaitu Nama Giarto, namun bapak dan ibu melengkapi menjadi Ahmad Sugiarto. Kala itu usia ku masih belum genap 4 Bulan, bapak sudah kembali merantau ke Lampung. dan usiaku lebih kurang satu tahun, aku dan ibu ikut bapak ke Lampung untuk mebantu bapak beserta mas sis. setelah genap usiaku 2 tahun 1 bulan, ibu kembali hamil, dan 9 bulan mengandung kami kembali lagi pulang kejawa, lahirlah adik saya yang bernama Nur dan di lengkapi kembali oleh ibu dan bapak menjadi Nur Rahman pada hari Minggu tanggal 26 Februari 1995 di Sragen, desa Pengkol juga. dan kemudian setelah lahirnya Adik saya Nur Rahman, kami kembali kelampung sampai kami berdua sekolah, saat kami SD (Sekolah Dasar) pada tahun 2001 ibu kami hamil anak ketiga adik kami, dan lahirlah di Desa Dayamurni, Kec. Tumijajar, Kab. Tulang Bawang Barat pada tanggal 14 Desember 2001 yang di beri nama Rizky Fitra Ramadhan, dengan panggilan Rama., bertepatan H-1 sebelum hari raya Idhul Fitri dalam keadaan Malam Takbiran atau puasa terakhir. Tidak lama setlah kehadiran adik kami yang ketiga, 2 tahun kemudian lahirlah adik terakhir kami di Desa Dayamurni, Kec. Tumijajar, Kab. Tulang Bawang Barat, pada tanggal 3 Juli 2003 yang diberi nama Yulia Khomsyah Almawadah dengan panggilan rama. jadi dari keempat anak bapak dan ibu terdiri dari 3 laki-laki 1 perempuan. Adik perempuan kamilah anak terakhir atau bungsu. Selama ini Mas Sis lah yang selalu membimbing dan menemani kami, ia sudah seperti kakak kandung kami dan kami tidak terima jika ia di anggap kakak tiri.

Seiring berjalannya waktu, saat saya masih duduk di Bangku SMA, ada beberapa masalah yang bisa dikatakan sangat urgent. kala itu saya ingin sekolah di SMA N 1 Tumijajar, Namun saya tidak keterima. lalu ingin melanjutkan ke MA Al-Munawaroh, akan tetapi oleh bapak tidak di izinkan karena depan rumah itu adalah sekolah Madrasah Aliyah juga, bahkan kepala sekolahnya teman dekat bapak sekaligus rekan di Partai PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). saat bapak aktif di partai, sangat sibuk dan jarang ada dirumah, bapak bisa masuk ke dunia politik terutama partai PKB itu karena bapak Penggemar berat Abah Gus Dur (Abdurrahman Wahid) mantan Presiden kita. sampai-sampai bapak berniat untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan DPRD Tulang Bawang Barat. semasa bapak aktif di partai sampai dengan tahun 2012, bapak dipercaya menjabat sebagai Bendahara Partai PKB. Lika-liku politik dan kehidupan bapak lebih puas dan kenyang merasakannya. bahkan sebelum aktif di partai, bapak selalu dipercaya jadi pengurus Pasar. pertama Sekretaris Pasar Dayamurni lalu Bendahara Pasar Pulung Kencana. selain itu bapak pun sempat di datangi orang-orang yang tidak suka dengan bapak dan hampir sampai berkelahi.

Setelah 2 kali bapak gagal menjadi anggota dewan, bapak lebih fokus untuk berdagang dan membesarkan usahanya demi anak istrinya. bapak adalah panutan dan motivasi terbesar kami. dengan keadaan apapun bapak mampu mengelola dan management yang sangat baik dalam ekonomi.

Keadaan yang mulai membaik dan meningkat di landa masalah yang benar-benar hampir tidak bisa kami terima. pada tahun 2010 ibu terserang penyakit yang berbahaya, yaitu Kanker Servick (Rahim). Ibu berjuang menahan sakit tersebut, awalnya bapak menyuruh ibu untuk operasi tapi ibu tidak mau, ibu ditakut-takuti temannya, karena operasi banyak yang gagal dan berakhir tak terselamatkan. namun ibu tetap berobat kesana kemari dimanapun ibu datangi demi kesembuhan. kami pun terus berdoa dan berusaha tiada henti. kami tidak mau ibu kenapa-kenapa, kami sangat menyayangi ibu, ibu adalah wanita yang sempurna dan berhati mulia, ibu adalah malaikat dunia kami. ibu sangat sayang kepada kami, selalu membimbing kami, tidak pernah lelah mengajarkan kami, menegur kami dan membela kami dari kemarahan bapak. Dari Sesuatu hal yang terkecil sampai benar-benar itu keinginan kami, hanya ibu yang menuruti semua itu. karena bapak tegas dan management yang sangat luar biasa. bapak memenuhi kebutuhan kami semua, dan ibu menuruti keinginan kami semua.

Pada tahun 2012 sakit ibu semakin parah, sebelum separah itu, ibu sempat membaik dan beraktifitas kembali. Bapak dan nenek mengantarkan ibu kejawa, RS. Dr. MOEWARDI, di Solo. Dengan tahap berobat jalan serta rawat inap keadaan ibu semakin memburuk, akhirnya kami anak-anaknya memberanikan diri berempat untuk menyusul kejawa dengan transportasi bis, tanpa didampingi keluarga lain.

Darah ibu golongan B sama dengan Nur. saat itu darah nur yang dibutuhkan dan ditambah tukang becak sekitar RS. Dr. Moewardi, Solo. Selama proses rawat inap, ibu terlalu banyak perawatan Kemo, sampai Operasi tiba kami selalu standby untuk menjaga ibu dan kami di temani sahabat SMK, Teguh Hardiyanto yang sekarang sudah sukses bekerja di Yogyakarta. setibanya operasi ibu, kami sangat bahagia, ibu pasti pulih dan sehat kembali, namun semua dugaan tersebut salah besar. Ternyata ini kesalahan Dokternya, yang mereka prediksi bahwa ibu siap operasi dan ternyata keadaan ibu sudah parah serta Stadium akhir. Kanker Rahim tersebut sudah menyebar kebagian kantung kemih. dan saat berjalannya proses operasi ibu, bapak di panggil oleh Dokter dan masuk kedalam ruangan operasi. kejadian yang mengejutkan saat bapak dijelaskan oleh dokter saat di ruangan operasi, dan ternyata operasinya gagal, lalu rahim tidak jadi di angkat dan rahim di masukkan kembali kedalam perut karena kanker tersebut sudah menyebar sampai kantung kemih. bapak dengan rasa kecewa dengan dokter tersebut, shok dan juga pasrah kepada yang diatas.

Saat itu saya sedang bermain di Rel Kereta api dekat rumah bapak yang dijawa bersama Nur dan Teguh, kami tahunya operasi berhasil, maka dari itu kami bahagia, ternyata Nur sudah tahu dari bapak bahwa perasi gagal, dan Nur berkata “Kamu jangan seneng-seneng dulu mas, kamu gak tau apa yang sebenarnya terjadi saat ini, operasi mamak gagal, dan kata bapak, mamak lanjut rawat Kemo sampai Laser”. Disitu saya dan Teguh spontan sangat terkejut dan makin tidak tenang serta sedih. kami hanya bisa berdoa, pasrah kepada Allaw SWT akan kesembuhan ibu. karena Presentase kesembuhan ibu sangat kecil. Beberapa hari setelah operasi ibu, Saya, Nur, Rama, Lia dan juga teguh langsung di suruh pulang ke Lampung leh bapak, dikarenakan mereka sudah mulai masuk sekolah. saya dan teguh sudah selesai UN (Ujian Nasional) dan siap mencari Perguruan Tinggi untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Namun takdir berkata berbeda seperti angan-angan kami, Ibu bercita-cita saya kuliah di Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah. namun yang terjadi saat kami sudah pulang di Lampung, bapak mengabarkan bahwa Ibu, bapak dan nenek akan pulang ke Lampung juga, berobat jalan di Lampung, rasa senang dan sedih yang bercampur aduk tidak karuan. ada beberapa kesalahan masalah yang dilakukan oleh nenek (mbok) dan bapak lakukan, dan mereka melakukannya di depan ibu yang sedang berbaring lemah di Rumah Sakit. maka dari itu, ibu memaksa untuk minta pulang ke Lampung.

Dalam proses permintaan ibu untuk pulang sampailah bapak dan ibu dalam kesepakan menuju pulang ke Lampung, disitulah mulai tanda-tanda yang tidak baik, yang tidak kami inginkan saat perjalanan pulang. pertama, ibu ingin pulang dengan permintaan menggunakan mobil ambulan, tidak mau mobil pribadi. kedua, saat di jalan tol, ibu minta untuk istirahat dan ingin berbaring ditanah tepi jalan tol. ketiga, ibu selalu memanggil ayahnya yaitu kakek yang sudah tiada saat saya masih SD kelas 5. keempat, ibu lagi-lagi meminta istirahat berbaring di tanah saat berhenti istirahat di Rest Area. Setibanya mereka di Kapal, ibu ingin keluar dan merasakan angin serta air laut. namun tidak ada yang bapak turuti. dan kejadian yang paling sedih, saat sudah tiba di Lampung, sopir mengambil jalan pintas melalui lintas timur, dan setelah tiba di Sukadana, Lampung Timur, ibu menyuruh mereka berhenti untuk istirahat serta makan siang. Turunlah semua untuk makan di Rumah Makan Sukadana, dan nenek pun disuruh ibu untuk turun dan makan. tidak lama dari mereka sedang makan, ada seseorang yang lewat dekat mobil, mendengar suara ibu memanggil bapak sampai mengucap Istighfar dan Allah Allah Allah berulang kali. dengan panik orang tersebut memanggil nenek dan nenek pun memanggil bapak. disaat itu lah bapak dan nenek histeris menangis, dengan kepergian Ibu untuk selama-lamanya menjemput kakek di Syurganya Allah. Bapak mengabarkan Pak Bukhori tetangga sebelah saya, bahwa ibu sudah tiada.

Awalnya kami tidak menyangka secepat itu ibu pergi, kami sudah siap menyambut kedatangan ibu, dengan membersikan rumah, lantai tengah kami semen, dan rudah ramai dirumah dengan kedatangan tetangga. ternayata kata mbak fitri, jangan terlalu seneng-seneng le, daoin ibu. kami tidak paham apa kalimat itu. dan saya mencari mas sis, ternyata mas sis berada dibelakang rumah, dan disitu mas sis sedang menangis, saya di panggilnya ” to, sini le ?, adek rama dan lia jangan sampe tau dulu, nur mana?. le, kamu yang sabar ya, mamak udah gak ada.!”. disitu saya awalnya gak percaya, dan sayalah yang menangis serta paling histeris dari adik-adik saya, sangat terpukul serta merasa kehilangan seorang yang paling berharga lebih dari diri saya. dengan tangisan itu para tetangga berusaha menenangkan saya, hingga abah sutisna dan mbak lisda tetangga sekaligus guru ngaji bmemberikan air putih yang telah di doakan oleh abah supaya saya tetap tenang, namun saya tetap histeris sangat terpukul dan merasa kehilangan dengan sangat paling dalam.

Setelah beberapa jam kami menunggu, Mobil datang, dan ibu, nenek, bapak telah sampai, saya dan paman (Adik kandungnya ibu) menyambut pertama kali serta membuka pintu. dan benar-benar ibu sudah tiada. Raut wajah ibu yang cantik dan tersenyum, saya semakin sedih, hampir saya pingsan. sebelumnya saya tidak pernah selemah ini. Ibu segalanya buat kami, namun apadaya jika ibu telah di panggil oleh Allah. Saat ibu diletakkan di tempat tidur sebelum dimandikanpun kami masih histeris dengan banyak orang yang berusaha menenangkan kami, sampai adik lia pun berusaha menenangkan saya, Adek lia berkata “Udah mas, sabar mas, mamak udah di Syurga sama Allah, udah mas, tenang, sabar mas?”. dan bapak melanjutkan “Sabar le, sabar. kamu yang paling ngalah demi mamakmu, sampai-sampai kamu rela gak lanjut kuliah, dan ngurusin adik-adik, kamu luar biasa le, sabar le, bapak tau perasaan mu, kamu paling besar, tapi paling dimanja sama mamak, sabar le, udah, mamak udah tenang disana le, biar mamak gak kelamaan juga nahan rasa sakitnya, mamak udah bahagia sama Allah le, kamu yang kuat ya le?”.

Saya tetap tidak kuat, dan histeris. Sampai memandikan jenazah ibu pun, saya hampir terjatuh dan pingsan. sampai ke pemakaman pun saya masih belum sanggup atas kepergian ibu, kelianglahat saya hanya menangis dan terduduk lemah, mas sis, lek paino dan dibantu tetanggu yang menurunkan jenazah mamak ke liang lahat, saya, bapak dan nur masih sangat lemah dan sangat kehilangan.

Padalah, saya dulu semasa sekolah sangat malas belajar saat duduk di Bangku SMA. itu karena paksaan bapak untuk sekolah didepan rumah. setelah saya pindah ke SMK Muhammadiyah Tumijajar, saya ingin menunjukan usaha dan kerajinan saya untuk membuktikan kepada ibu bahwa saya bisa mendapatkan nilai yang baik. dan disitu saya berhasil mendapatkan nilai baik, dengan Nilai Ijazah 8,1. peringkat 16 seluruh kelas 3 di SMK Muhammadiyah. Namun ibu sudah tiada, dan saat perpisahan diskolah pun, kami ingin menjadi kebanggan ibu dan bapak atas penampilan Band kami yang belum bisa Naik ketingkat lebih tinggi. Saat itu Saya sebagai Drummer, Nur sebagai Gitaris, Teguh sebagai Vokalis, Awi Sebagai Gitaris, dan Ari sebagai Bassis. Saat perpisahan itupun bapak datang terlambat.

Kami sudah tidak tau lagi, apa yang kami rasakan kala itu. setelah perpisahan, saya yang meneruskan usaha ibu untuk berjualan pakaian.  Dan itu tadi sedikit cerita.

Dibawah inilah keluarga sederhana kami yang luar biasa. kami saling menyayangi, saling perduli dan support.

Gambar dibawah ini adalah ciri-ciri anak pertama, yang setuju silahkan share ya? jika tidak setuju, hubungi kontak saya, kita sedikit berbincang-bincang. (082269246778)

kalau menurut saya, bisa dikatakan fakta dengan ciri-ciri diatas.

Sedikit bercerita tentang diri saya dan perjalanan saya.

Dari gambar diatas, 99% benar itu sifat saya. tetapi saya bisa dikatakan orang paling sabar terhadap teman atau orang terdekat. menyayangi dan mengayomi adalah hobi. bekal hidup yang tenang adalah bersikap ramah dan mudah akrab, perbanyak teman dan sahabat serta bermodalkan sifat jujur serta tidak memilih-milih. Bantulah orang sekitar yang sangat membutuhkan maka kita akan banyak dibantu oleh orang lain. jangan pernah melupakan orang yang telah berjasa dan baik dalam kehidupan kita, karena “kita butuh mereka dan mereka butuh kita”.

Ahmad Sugiarto (saya) merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Agama islam. Seperjuangan dengan Reffan Dwi Susilo dan Lukman Maulana di UIN RIL. mereka teman sekelas dan bisa dikatakan sahabat. Masuknya kuliah di UIN RIL pada tahun 2013. saya lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan, Jurusan Multimedia pada tahun 2012, namun saya tidak langsung meneruskan ke jenjang kuliah. Tahun 2012 – 2013 saya bekerja mengajar di SMK Muhammadiyah Tumijajar pada kegiatan Ektrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), dalam sejarah PMR unit Smk Muhammadiyah Tumijajar tersebut awal berdirinya tahun 2010, dan Ahmad Sugiarto salah satu dari pendirinya, bisa dikatakan saya paling banyak berkontribusi di PMR tersebut hingga saat ini. Selain mengajar PMR, saya berdagang di pasar setiap hari. Demi orang tua, saya rela menunda kuliah. awalnya sempat menghapus tujuan untuk kuliah dan fokus berbisnis atau usaha meneruskan usaha Alm. Ibu berjualan pakaian dipasar setiap hari, hari senin, selasa dan Jum’at berjualan di Pasar Dayamurni, Hari rabu dan sabtu berjualan di pasar Ujung Batu, Kec. Lampung Utara. dan Hari kamis juga minggu berjualan di pasar Pulung Kencana.

Dalam kurun waktu satu tahun berjalan Alhamdulillah saya bisa menabung dan hidup tenang dengan usaha yang saya teruskan, perkembangan sedikit membaik meski belum maksimal. akan tetapi entah kenapa diri ini masih dan tiba-tiba sempat berfikir ingin melanjutkan kuliah, ingin terus menimba ilmu dan mencari pengalaman dengan tujuan menjadi orang besar serta disegani orang. pada awal tahun 2013 kami sekeluarga mudik ke Jawa, Kec. Sragen dengan Keluarga paman atau adiknya bapak.

Dan sepulangnya dari mudik, bapak sempat berbicara dan meminta izin kepada kami, bapak ingin menikah lagi, karena sepulangnya dari pasar, bapak lelah dan harus masak, beresin rumah. bapak pria yang bisa merangkap sebagai ibu, bapak luar biasa. Kami bangga menjadi anak dari Bapak Slamet dan Ibu Suci. dan kami mengizinkan bapak untuk menikah lagi, meski belum lama ditinggal oleh ibu, tapi demi kebaikan bapak kami izinkan.

setelah bapak menikah dlagi dengan ibu Sri Suparmi, Ibu sri siap untuk melanjutkan usaha berdagang dipasar milik ibu, dan saya juga berterimakasih kepada ibu Sri, telah berhasil membujuk bapak supaya saya diizinkan untuk kuliah. Alhamdulillah sempat meneruskan usaha Alm. Ibu dan saya memiliki tabungan. Alhamdulillah banyak Universitas yang menerima saya. Kecuali UNILA (Universitas Lampung) dan Poltekkes Lampung. serta UGM (Universitas Gajah Mada) Yogyakarta. saya keterima di beberapa Perguruan tinggi dan Universitas yaitu IBI Darmajaya, Universitas Teknokrat Indonesia, Polinela, UIN Raden Intan Lampung (Wilayah Lampung. untuk pulau jawa adalah STMIK Akakom, STMIK AMIKOM, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Sebelas Maret.

Namun karena saya baru saja ditinggal oleh Alm. Ibu tercinta, dan ekonomi bapak belum pulih, saya memutuskan melanjutkan kuliah dengan kesanggupan biaya yang saya punya dan cukup yaitu di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, di Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Agama Islam. Dengan biaya kos sendiri, SPP sendiri di setahun pertama. Basic saya adalah Multimedia dan Akutansi, namun saya lebih memilih UIN Raden Intan Lampung sesuai dengan Tabungan yang saya miliki. meskipun tawaran bapak untuk menunda setahun lagi supaya bisa kuliah di tempat yang saya inginkan, tapi saya tidak memaksa kehendak. saya bisa kuliah saja sudah sangat bersyukur.

Setelah itu pada tahun pada tahun 2013 ia melanjutkan ke bangku kuliah. Manis dan pahit nya serta perjuangan yang tidak mudahpun telah ia rasakan.

saya sudah pernah merasakan bekerja di cafe, mengajar, dan juga ikut orang. Bahkan kuliah dengan problem nilai hingga bersamaan menghadapi maupun melalui proses tersebut sama persis dengan Lukman Maulana.

Pada awal kuliah sampai semester 4 pun ia masih sering pulang pergi dari Bandar Lampung ke Tulang Bawang Barat dalam satu minggu sekali hanya untuk melatih dan mendampingi adik-adik atau murid PMR nya, ia berhenti mengajar PMR di SMK Muhammadiyah Tumijajar pada Tahun 2015. Semasa masih semester 1 sampai 4, ia tergolong mahasiswa yang aktif organisasi, organisasi Ekstra maupun Intra, meskipun tidak aktif 99%, tapi ia pernah mengikuti beberapa organisasi kampus, seperti : UKM Puskima, UKM HMI, UKM PMII, dan juga UKM Bapinda.

Ia pernah mengikuti pelatihan Sertifikasi Nasional. Seperti LSP TIK dan LSP Komputer di Hotel Bukit Randu, Hotel Horison dan Hotel Novotel Bandar Lampung, dengan Klaster Multimedia, Practice Office Advance (POA) dan Designer Graphic. Bersama adiknya Nur Rahman, namun berbeda klaster. Nur Rahman mengambil klaster Junior Networking dan Operator Komputer.

Pada tahun 2015, setelah ia berhenti mengajar dan kondisi Pergi Pulang dari Bandar Lampung – Tulang Bawang Barat di Smk Muhammadiyah pada ekskul PMR selama dua tahun dan dilakukan satu minggu sekali setiap hari jum’at-minggu, ia langsung meneruskan ketingkat diatas PMR, yaitu KSR di kampus UIN RIL. Dalam kampus di sebut UKK KSR PMI Unit UIN RIL. Gerakan dan tindakan yang luar biasa dilakukan oleh Ahmad Sugiarto. setelah ia menjadi anggota UKK KSR PMI Unit UIN RIL, ia memberanikan mengambil keputusan dan bertindak dengan bijak. Pada tahun 2016, UKK KSR PMI Unit UIN RIL pernah menjadi tuan rumah dalam acara Gladian Relawa VI Perti se-Indonesia yang berhasil di rekomendasikan saat Gladian Relawan V di Aceh. Disitulah ahmad sugiarto memberanikan diri menjadi Ketua Pelaksana dengan beberapa problem sebelum Ahmad Sugiarto menjadi ketua pelaksana.

Event tersebut tingkat nasional, dengan penuh perjuangan dan upaya yang luar biasa. Yang dihadiri dari ujung pulau jawa, Pulau kalimantan, Makasar, sampai Banda Aceh. Dan juga ia sering menjadi Panitia inti, seperti Ketua Pelaksana sampai Koordinator Sie yang ada.

Mengapa saya kuliah bisa sampai semester 11. itu ada beberapa hal yang harus kita ketahui semua, untuk pelajaran yang sangat berharga, supaya teman-teman tidak terjerumus. pertama, jangan pernah melakukan hal konyol, seperti malas untuk kekampus, dan paling fatal adalah mengenal wanita dengan rasa lebih atau pacaran pada saat kita sedang Proses Skripsi atau semester Akhir. kedua, jika saat bimbingan, apapun masalah, rintangan, ujian, dan keadaan yang kita alami, tetaplah semangat dan rajin, jadikan motivasi paling utama adalah orang tua, bukan pacar. jangan pernah menunda untuk kekampus, jangan pernah bermalas-malasan. bersiaplah menghadapi keadaan ekonomi yang tidak terduga, dan sebelum itu terjadi kita harus bisa mandiri serta bekerja untuk menghasilkan uang sendiri tanpa meminta orang tua. ketiga, jika ingin fokus wisuda cepat atau tepat waktu, tinggalkan kegiatan yang sekiranya sangat mengganggu dan menunda untuk proses skripsi serta wisuda. kelima, jangan pernah membohongi orang tua kita dengan segala cara demi kita memiliki atau memegang uang. karena kita tidak tahu, apakah uang pemberian orang tua di saat kita minta itu dari hasil usaha atau pekerjaan mereka ataupun mereka meminjam kepada orang lain. keenam, segeralah perbaiki sikap dan sifat, jika kita mulai jauh dengan Allah, segeralah mendekatkan diri kembali kepada Allah. “kita tidak meminta saja, Allah selalu memberikan dan kita kurang bersyukur, apalagi kita meminta kepada Allah, tetapi sebelum meminta kepada Allah, bertaubatlah serta mendekatkan diri kepada Allah, lebih rajib beribadah, dan jauhi maksiat.”. ” Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, dan jangan mengharapkan apa yang kita inginkan”. 

Maaf, Bukan saya mengajari teman-teman. tapi itu yang sudah saya alami semua. jangan sampai teman-teman mengalami hal yang sama.

Jadilah pribadi yang aktivis, jangan telalu fokus pada nilai kuliah. Organisasi dan Keluarga sangat penting, kita memiliki Keluarga dirumah tapi kita lebih eratkan silaturahmi keluarga kita di perantauan. Saya terlalu baik dan sabar, serta terlau perduli dengan orang sekitar yang membutuhkan saya.

Bahkan loyalitasnya terhadap teman-teman, senior, adik-adik organisasi. Selain itu saya di percaya oleh senior yang meresmikan suatu lembaga para alumni yaitu Ikatan Relawan Alumni Raden Intan (IKRAR) yang telah resmi sebagai Dewan Pengurus Pusat Ikatan Relawan Raden Intan. Dan saya menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum III, dengan masa periode 2018-2021.

Selain mempunyai jabatan di Lembaga Ikrar, saya juga menjabat sebagai sekretaris di Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMR Kmushada unit SMK Muhammadiyah Tumijajar, dan juga Sekretaris di suatu TIM Shafpro.

Beberapa logo dan Organisasi yang saya dan teman-teman dirikan, semoga bermanfaat kedepannya.

PMR Wira Kushada Unit SMK Muhammadiyah Tumijajar, Shafpro 99 Bandar Lampung, Ikatan Keluarga Alumni Kmushada (Alumni PMR Wira SMK Muhammadiyah Tumijajar), dan Juga Ikatan Relawan Alumni Raden Intan (Dewan Pengurus Pusat / DPP IKRAR).
Apapun kegiatan dan pekerjaan akan saya lakukan selagi saya siap. Hidup tidak ada yang mudah dan instan, semua proses butuh keringat yang deras untuk kita menuju sukses.

Meskipun saya penuh kegiatan dan bekerja, saya juga mengajar Ekskul PMR di SMP Al-Kautsar Bandar Lampung bersama adiknya Nur Rahman.

Dengan sejuta pengalamannya tersebut, ia merasa masih harus banyak belajar lagi. Butuh ilmu yang lebih banyak.

Demikian Cerita dan sedikit pengalaman dari saya, Semoga Bermanfaat.

(Ahmad Sugiarto Prawira)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar