https://azzamganteng-gac.blogspot.com/

Jumat, 02 September 2022

SKRIPSI KUALITATIF

 

DIPOSKAN PADATAK BERKATEGORI

Skripsi PAI UIN RIL 2017

 

PERAN HIZBUL WATHAN (HW) DALAM MENUMBUHKAN JIWA KEPEMIMPINANSISWA DI SMK MUHAMMADIYAH

TUMIJAJAR

 

 

Skripsi

 

Diajukan untuk melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

 

 

 

Oleh :

 

Ahmad Sugiarto

NPM : 1311010309

 

Pembimbing 1 : Dra. Istihana, M.Pd

Pembimbing 2 : Saiful Bahri, S.Ag, M.Pd.I

 

 

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

 

 

 

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

1439/2018

 

 

MOTTO

 

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

 

 

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan untuk :

  1. Kedua orang tuaku, Ayahanda Slamet Prawira dan Ibunda Ratna Suciati tercinta yang telah melindungi, mengasuh, menyayangi dan mendidik saya sejak dari kandungan hingga dewasa, serta senantiasa mendo’akan dan sangat mengharapkan keberhasilan saya. Berkat do’a restunya penulis dapat menyelesaikan kuliah ini. Semoga semua ini merupakan hadiah terindah untuk kedua orang tua saya.
  2. Dan tak lupa penulis persembahkan untuk Ibunda Sri Suparmi yang telah mendukung saya untuk melanjutkan ke jenjang bangku perkuliahan dan sebagai pengganti Ibunda Kandung saya. Mbak Triana Wulandari, Mas Dwi, Mas supri, dan segedap keluarga di jawa yang selalu memngingatkan menyelesaikan dalam studi ini.
  3. Kakak ku tersayang Hadi Siswanto dan adiku tercinta Nur Rahman, Rizky Fitra Ramadhan, Yulia Khomsyah Almawadah yang selalumendo’akan serta memberikan motivasi bagi saya selama studi.
  4. Nenek ku tersayang Mbok Fatimah, yang selalu memberikan semangat, motivasi dan selalu mendoakan selama studi.
  5. Lek Paino, Lek Mul, Imam Mualimin dan Fitri Andriyani yang selalu memberi semangat menyelesaikan studi.
  6. Sahabat-sahabatku Lukman Maulana, S.Pd, Reffan Dwi Susilo, S.Pd, Wiwin Azizah, S.H, Resty Ramayanti, S.H. Dion Alfarizi yang telah memberi semangat, motivasi dan membantu dalam menyelesaikan skripsi serta studi ini.
  7. Sahabat yang sudah seperti saudara, Samsul Huda, S.Pd, Lian Sfrudin, S.E, Ridho Dinata, M. Arrofi. Tanpa kalian apadaya penulis di perantauan Kota Bandar Lampung ini. Terkhusus Lian Safrudin dan Samsul Huda yang telah banyak membantu dan menemani dalam keadaan susah.
  8. Keluarga besar pakde Mul, Hendra Dian Kusuma, mbak sur, mas agus yang telah mengingatkan untuk segera menyelesaikan studi. Sekaligus sudah seperti keluarga saya sendiri.
  9. Keluarga besar UKK KSR PMI Unit UIN Raden Intan Lampung dan abang-abang Ikatan Relawan Alumni Raden Intan yang selalu memberi dukungan dan mengingatkan saya dalam menyelesaikan studi. Yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
  10. Adik-adik Ekstrakurikuler PMR (Palang Merah Remaja) Al-Kautsar Bandarlampung dan PMR SMK Muhammadiyah Tumijajar yang selalu memberikan semangat.
  11. Kepala sekolah SMK Muhammadiyah Tumijajar dan segenap dewan guru yang telah mendukung serta memberi izin penelitian, dan memberi motivasi dalam studi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
  12. Guru pembina dan adik-adik Ekstrakurikuler Hizbul Wathan yang telah bersedia membantu untuk menyelesaikan penelitian skripsi ini.
  13. Almamater Tercinta, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi dengan judul “Peran Hizbul Wathan Dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, motivasi, saran dan kritik yang telah diberikan oleh semua pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih seluruhnya kepada :

  1. Dr. H. Chairul Anwar, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung.
  2. H. Imam Syafe’i, M.Ag., Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung.
  3. Istihana, M.Pd., selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu dalam membimbing penulis untuk penyelesaian skripsi ini.
  4. Saiful Bahri,S.Ag, M.Pd.I., Selaku Pembimbing II yang telah banyak memotivasi dan meluangkan waktu untuk penyelesaian skripsi ini.
  5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan khususnya Program Studi Pendidikan Agama Islam , atas ilmu dan didikan yang telah diberikan.
  6. Bapak dan Ibu Staf Karyawan Perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan Perpustakaan Pusat UIN Raden Intan Lampung.
  7. Segenap guruku baik SD, SMP, SMA maupun guru lainnya yang telah memberikan Ilmu kepadaku.
  8. Teman-teman Pendidikan Agama Islam Khususnya PAI G angkatan 2013, yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, terimakasih atas kebersamaan perjuangan selama ini.
  9. Semua pihak yang membantu dan terlibat dalam perjalanan kehidupanku.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan tangan terbuka dan ucapan terimakasih. Namun demikian, penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Aamiin.

Bandar Lampung, 18 April 2017

Penulis

 

Ahmad Sugiarto

 

 

RIWAYAT HIDUP

 

 

Penulis bernama Ahmad Sugiarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah pada tanggal  26 Juni 1992, merupakan anak kandung, anakPertama dari Empat bersaudara kandung, putra pasangan Bapak Slamet Prawiradan Ibu Alm. Ratna Suciati. Dan anak tiri dari Ibu Sri Suparmi. Anak ke lima dari delapan bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan  di:

  1. SDNegeri1Dayamurni, Kec. Tumijajar, Kab. Tulang Bawang Barat, diselesaikan tahun 2005.
  2. MTs MHM Dayamurni, Tumijajar, Kab. Tulang Bawang Barat, diselesaikan tahun 208.
  3. Kemudian melanjutkan di SMK Muhammadiyah Tumijajar, Kec. Tumijajar, Kab. Tulang Bawang Barat, jurusan Multimedia dan lulus pada tahun 2012.
  4. Tahun 2013, penulis diterima sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung pada Falkutas Tarbiyah dan Keguruan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam.

 

 

 

 

 

PERAN HIZBUL WATHAN DALAM MENUMBUHKAN JIWA KEPEMIMPINAN PADA SISWA DI SMK MUHAMMADIYAH TUMIJAJAR

Abstract

AHMAD SUGIARTO. Di lingkungan masyarakat, dalam organisasi formal maupun non formal selalu ada orang yang dianggap lebih dari yang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih tersebut kemudian diangkat atau ditunjuk sebagai orang yang dipercayakan untuk mengatur orang lainnya. Biasanya orang seperti itu disebut pemimpin. Dari kata pemimpin itulah muncul istilah kepemimpinan setelah melalui proses yang panjang. Dalam lingkungan Pendidikan Muhammadiyah, terdapat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kepemimpinan, karena Hizbul Wathan sendiri merupakan organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah khusus dalam bidang kepanduan yang disitu juga dapat digunakan untuk pembelajaran kepemimpinan. Dalam penelitian ini rumusan masalah yang dibahas adalah bagaimana peran Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar tahun 2017/2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar tahun 2017/2018.Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data metode wawancara, observasi, dan dokumentasi, dimana peneliti melakukan wawancara terhadap kepala madrasah, waka kesiswaan, guru, guru pembina Hizbul Wathan ketua Hizbul Wathan, dan siswa kemudian mengamati kegiatan yang dilakukan, dan mengumpulkan bahan dokumentasi yang dianggap mampu dalam mendukung penelitian ini. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan data reduction, data, display, dan conclusion. Dari penelitian ini dihasilkan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar adalah dengan mengadakan kegiatan perkemahan, kegiatan baris berbaris (PBB), kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat), kegiatan outbond, kegiatan hiking, kegiatan upacara, dan pengambilan peran dalam kepengurusan Hizbul Wathan. Siswa juga dibekali pegangan buku SKU guna mengevaluasi kegiatan yang dilakukan. Berdasarkan dari penelitian ini, disarankan bahwa kegiatan ektrakurikuler Hizbul Wathan perlu adanya pembinaan yang lebih intensif dan kebijakan dari sekolah, kemudian dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Hizbul Wathan ditingkat atasnya yang perlu lebih memperhatikan sehingga peran Hizbul Wathan itu tidak hanya berhenti disini, akan tetapi lebih berkembang dikemudian hari.

Kata kunci: Kepemimpinan, Hizbul Wathan, kegiatan ekstrakurikuler

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………….. i

HALAMAN SURAT PERNYATAAN……………………………………………………… ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………………………. iii

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………….. iv

HALAMAN MOTTO………………………………………………………………………………. v

HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………………………………………….. vi

HALAMAN KATA PENGANTAR………………………………………………………….. vii

HALAMAN ABSTRAK………………………………………………………………………….. viii

HALAMAN DAFTAR ISI………………………………………………………………………. ix

HALAMAN DAFTAR TABEL……………………………………………………………….. x

HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………… xi

 

BAB I : PENDAHULUAN……………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………………………. 1
  2. Identifikasi Masalah…………………………………………………………………. 13
  3. Batasan Masalah………………………………………………………………………. 13
  4. Rumusan Masalah……………………………………………………………………. 14
  5. Tujuan Kegunaan…………………………………………………………………….. 14
  6. Penelitian Terdahulu…………………………………………………………………. 16
  7. Sistematika Pembahasan…………………………………………………………… 20

 

BAB II : LANDASAN TEORI………………………………………………………………… 22

  1. Hizbul Wathan (HW)…………………………………………………………………….. 22
  2. Definisi Hizbul Wathan…………………………………………………………….. 22
  3. Sejarah Hizbul Wathan……………………………………………………………… 23
  4. Dokumen Penting Tahun Sejarah Hizbul Wathan…………………………. 28
  5. Sifat Hizbul wathan…………………………………………………………………. 31
  6. Identitas HW…………………………………………………………………………… 32
  7. Ciri khas HW…………………………………………………………………………… 32
  8. Usaha HW………………………………………………………………………………. 33
  9. Tujuan HW …………………………………………………………………………….. 34
  10. Keanggotaan dan Keorganisasian………………………………………………. 34
  11. Kepemimpinan……………………………………………………………………………… 36
  12. Definisi kepemimpinan……………………………………………………………… 36
  13. Tipe-tipe Kepemimpinan…………………………………………………………… 40
  14. Fungsi Kepemimpinan………………………………………………………………. 43
  15. Syarat-syarat Kepemimpinan…………………………………………………….. 45
  16. Ciri-ciri dan indikator Kepemimpinan…………………………………………. 47
  17. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa…………………………………. 49
  18. Ciri-ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab………………………….. 52
  19. Peranan Kepemimpinan…………………………………………………………….. 55
  20. Prinsip-prinsip kepemimpinan remaja………………………………………….. 57
  21. Cara untuk menumbuhkan jiwa kepemimpnan…………………………….. 58

 

BAB III : METODE PENELITIAN………………………………………………………….. 61

  1. Jenis Penelitian……………………………………………………………………………… 61
  2. Data dan Sumber Data…………………………………………………………………… 62
  3. Metode Pengumpulan Data…………………………………………………………….. 63
  4. Analisis Data………………………………………………………………………………… 69

 

BAB IV HASIL PENELITIAN……………………………………………………………….. 72

  1. Sejarah Singkat Berdirinya SMK Muhammadiyah Tumijajar,

Kab. Tulang Bawang Barat……………………………………………………………………….. 72

  1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian…………………………………………………. 72
  2. Kepemimpinan Hizbul Wathan pada Siswa………………………………………. 77
  3. Pembahasan dan Analisis……………………………………………………………….. 80

 

BAB V PENUTUP………………………………………………………………………………….. 98

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………………… 98
  2. Saran………………………………………………………………………………………. 99
  3. Penutup………………………………………………………………………………….. 99

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Setiap individu mempunyai keunikan masing-masing, mempunyai kemampuan dan karakteristiknya masing-masing. Mulai dari yang cepat memahami pelajaran, hingga yang lamban. Mulai dari siswa yang berprestasi, hingga anak yang sarat akan masalah. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]

Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusu, dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu, yang dilandasi oleh metodologi ilmiah untuk menerangkan gejala alam dan kemasyakatan tertentu. Serta humaniora merupakan displin akademik yang mengkaji nilai intrinsik kemanusaiaan.[2]

Di era globalisasi seperti sekarang ini, menempuh jalur pendidikan merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh generasi penerus bangsa untuk mencari wawasan ilmu pengetahuan. Selain mendapatkan ilmu-ilmu, pelajar juga mendapatkan berbagai pengalaman menarik dan diharapkan dapat juga mendapatkan materi pelajaran yang diperoleh sebagai bentuk dalam belajar yang mereka terima. Peran seorang guru dalam sebuah sekolah sangat penting. Untuk itu, seorang guru harus tahu benar bagaimana situasi dan kondisi sekolah tempat guru tersebut mengajar. Kita sebagai calon guru merupakan calon pendidik yang nantinya berperan penting dalam mencerdaskan anak bangsa dan berkontribusi dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk itu mahasiswa harus mengetahui lebih awal tentang kondisi sesungguhnya yang ada di sekolah sehingga pada saat terjun ke sekolah dapat mempersiapkan dan merencanakan pelaksanaan pendidikan yang bermutu.[3]

Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, istilah peran menurut bahasa adalah fungsi, kedudukan, dan bagian kedudukan. Secara istilah diartikan dengan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang yang memiliki kedudukan dalam masyarakat.[4] Dalam pengertian lain peran berarti tindakan yang menjadi bagian atau memegang pimpinan, terutama dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa.[5]

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa peran merupakan sesuatu yang mempunyai kedudukan atau fungsi tertentu dalam kehidupan yang diharapkan di dalam masyarakat. Sedangkan yang dimaksud peran dalam skripsi ini adalah fungsi dan kedudukan Hizbul Wathan untuk melihat sejauh mana peran Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa leadership bagi siswa.

Maka dari itu kita tinjau dari Peran seorang guru PAI dalam pengembangan pendidikan agama Islam multikultural di madrasah maupun sekolah kejuruan sangat penting. Amin Maulani menyatakan bahwa peran guru dalam hal ini meliputi; Pertama, seorang guru harus mampu bersikap demokratis, baik dalam sikap maupun per- kataannya tidak menunjukkan sikap yang diskriminatif; Kedua, seorang guru seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kejadian-kejadian tertentu yang ada hubungannya dengan agama; Ketiga, seorang guru seharusnya menjelaskan bahwa inti ajaran agama adalah menciptakan kedama- ian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, dia bisa menjelaskan bahwa segala bentuk kekerasan seperti pengeboman, invasi militer, dan semacamnya merupakan sesuatu yang dilarang agama; Keempat, seorang guru seharusnya mampu memberikan pemahaman tentang pentingnya dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan keragaman budaya, etnis, dan agama atau aliran.[6]

Berdasarkan hal di atas, tentu saja seorang guru PAI harus benar-benar menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya. Sebab suri tauladan seorang guru, akan menjadi penentu keberhasilan terwujudnya pendidikan agama Islam multikultural di madrasah maupun sekolah umum tersebut. Susanti menyatakan bahwa peran guru dalam pendidikan multikultural sangat penting dan signifikan. Seorang guru harus mengatur dan mengorganisasi isi, proses, situasi, dan kegiatan sekolah secara multikultural, di mana setiap peserta didik dari berbagai suku, ras, dan gender berkesempatan untuk mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan.[7] Muhammad dan Somadayo  menambahkan bahwa peran seorang guru harus responsif terhadap setiap ekspresi yang mengandung unsur diskriminasi. Dengan peran guru PAI yang demikian, maka pengembangan pendidikan agama Islam multikultural di madrasah maupun sekolah umum diharapkan akan bisa berja lan secara maksimal mulai dari proses hingga hasil yang ingin dicapai.[8]

Teori peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan antara teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal dari sosiologi dan antropologi. Dalam ketiga ilmu tersebut, istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam teater, seorang aktor harus bermain sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berperilaku secara tertentu. Posisi aktor dalam teater (sandiwara) itu kemudian dianologikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat. Sebagaimana halnya dalam teater, posisi orang dalam masyarakat sama dengan posisi aktor dalam teater, yaitu bahwa perilaku yang diharapkan daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam kaitan dengan adanya orang-orang lain yang berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. Dari sudut pandang inilah disusun teori-teori peran. [9]

Teori Peran Menurut Robert Linton Robert Linton mengembangkan  teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut.[10]

Untuk meningkatkan produktivitas individual dan produksi nasional, pendidikan memiliki kedudukan penting dan krusial bahkan strategis. Pendidikan pada dasarnya akan memudahkan setiap orang untuk menyadari diri dan ekstensi diri di lingkungannya. Pendidikan memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan zaman dan menuntut adanya perubahan. Perubahan yang begitu pesat ternyata membawa dampak terhadap berbagai perilaku yang ada di masyarakat, perilaku tersebut ternyata disebabkan oleh kualitas manusia itu sendiri.[11]

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup manusia, terutama bagi umat Islam. Sumber utama ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga setiap manusia yang berpedoman kepada keduanya, niscahya akan memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat, serta tidak akan tersesat untuk selama-lamanya. Sebagaimana hadits Nabi Saw.,

Artinya : Aku tinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah nabi. (HR. Bukhori Muslim)[12]

 

Falsafah Pendidikan Nasional Indonesia berakar pada nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pancasila. Adapun dua pandangan yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan landasan filosofis pendidikan nasional Indonesia. Yang pertama adalah pandangan tentang manusia Indonesia. Yang kedua adalah pandangan tentang pendidikan itu sendiri.[13]

Berbicara tentang bagaimana langkah kegiatan merubah peserta didik sangat beragam, pendidik dapat menggunakan penetapan tujuan melalui, pelatihan, bimbingan, maupun pemberdayaan langsung, untuk merubah prilaku dan pola pikir maju dengan study kasus di masyarakat. Dari banyak hal yang dialami peserta didik tersebut, tentunya akan mempunyai koleksi pengetahuan situasional yang banyak juga yang akan mendorong tajamnya rasa tanggung jawab, ini sangat penting dan berguna dalam hidup bersosial di masyarakat, hal ini tidak bisa dipisahkan dengan tujuan pendidikan, undang-undang sistem pendidikan nasional pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang tujuan pendidikan nasional yang menyatakan bahwa:

“Tujuan Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.“[14]

 

Kepemimpinan sangatlah penting bagi setiap manusia dan perlu diajarkan serta dipupuk sejak dini untuk melatih sikap tanggung jawab dan mampu berfikir kritis serta mampu menjunjung tinggi nilai-nilai sosial sehingga dapat terbentuk Sumber Daya Manusia yang berkualitas melalui pendidikan. Disaat kinerja perusahaan mulai memburuk dan mengalami kerugian, diperlukan seseorang pemimpin yang mampu menyelamatkannya. Dalam kondisi demikian, seorang pemimpin harus melakukan langkah nyata demi memperbaiki angka kinerja perusahaan.[15]

Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam hal ini kepemimpinan dapat berperan di dalam melindungi beberapa isu pengaturan organisasi yang tidak tepat, seperti : distribusi kekuasaan yang menjadi penghalang tindakan yang efektif, kekurangan berbagai macam sumber, prosedur yang dianggap buruk, dan sebagainya yaitu problem-problem organisasi yang lebih bersifat mendasar.[16]

Kepemimpinan memiliki arti yang lebih dalam daripada sekedar jabatan yang diberikan kepada seorang manusia. Ada unsur visi jangka panjang serta karakter di dalam sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan pengikut untuk mencapai tujuan organisasi.[17]

Dalam hadits Rasullah SAW, bersabda :

Artinya : Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. Bersabda: sesungguhnya kamu akan menginginkan kekuasaan (Jabatan sebagai pengusaha/ pimpinan) yang hal itu akan membawa penyesalan pada hari kiamat, maka sebaik-baiknya adalah pemberi susu. Dan sejelek-jeleknya adalah memutuskan pemberian itu.[18]

 

Dari hadits ini menunjukkan adanya kejelekan sebagai penguasa atau pemimpin rakyat jika kedudukannya sebagai pemutus pemberian susu, artinya tidak memberikan kebaikan kepada rakyat yang dipimpinnya atau yangdikuasainya, tetapi jadilah sebagai pemberi susu yang akan memberikan ganjaran kepada yang memberikannya, artinya harus memimpin rakyat dengan penuh kebaikan.

Sementara di dalam Islam, tanggung jawab juga sudah ditegaskan dalam firman Allah SWT.

Artinya : “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya”. (QS. Al Mudatstsir: 38)[19]

Oleh karena itu pada pokoknya tugas dasar kepemimpinan bersifat emosi, atau dengan kata lain pemimpin menentukan standart emosi, semakin besar keterampilan seorang pemimpin dalam menularkan emosinya akan semakin kuat penyabaranya. Didalam setiap kelompok orang, jiwa kepemimpinan mempunyai daya maksimal untuk “mempermainkan” emosi setiap orang. Jika emosi orang orang didorong kearah antusiasme, kinerja akan meningkat.  Efek ini desebut dengan resonance; Jika orang-orang didorong ke arah kebencian dan kecemasan, kinerja akan merosot. Efek ini disebut dengan dissonance.[20]

Untuk memperoleh kecakapan/pengalaman hidup bermasyarakat yang baik, maka perlu bagi siswa untuk belajar terjun dalam suatu organisasi dalam lingkup yang sempit maupun lingkup yang luas. Pengalaman dalam organisasi dapat menempa kepekaam terhadap lingkungan sekitar dan sekaligus dapat mengikuti perkembangn keadaan sekitar aktual.Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai jenis organisasi yang mempengaruhi semua tingkatan kehidupan. Fakta menunjukkan bahwa kebanyakan di antara kita menjalani sebagian besar dari kehidupan dalam organisasi-organisasi (atau sedikitnya dipengaruhi oleh berbagai macam organisasi).[21]

Kita merupakan anggota dari organisasi yang paling kecil yang dinamakan keluarga, menjadi menjadi anggota organisasi pendidikan sebagai murid atau mahasiswa. Pada umumnya organisasi dibentuk oleh manusia. Tujuannya untuk melaksanakan atau mencapai hal-hal tertentu yang tidak mungkin dilakukan secara individu. Organisasi adalah wadah para kumpulan orang-orang yang aktif didalamnya, dalam organisasi atau suatu lembaga, ditekankan setiap individu mempunyai sikap tanggung jawab. Sebuah sekolah adalah organisasi yang kompleks dan unik, sehingga memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Oleh karena itu kepala sekolah yang yang berhasil, yaitu tercapainya tujuan sekolah, serta tujuan dari para individu yang ada didalam lingkungan sekolah, harus memahami dan menguasai peranan organisasi dan hubungan kerja sama antara individu.[22]

Dalam Islam, tanggung jawab adalah tanggung jawab personal. Seorang muslim tidak akan dibebani tanggung jawab orang lain. Nabi bersabda :

Dari Abdullah bin Umar ra. Ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “kalian adalah pemimpin dan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelola harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu, kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Tanggungjawab merupakan sifat yang dihargai dan perlu dimiliki oleh setiap anak. Sikap tanggungjawab bukanlah sesuatu yang sudah terpasang dalam diri anak waktu lahir. Anak pun tidak mendapatkannya secara otomatis pada usia tertentu. Sikap tanggungjawab diperoleh secara berthan selama bertahun-tahun. Oleh karena itu diperlukan latihan sehari-hari.

Kegiatan pramuka sudah tidak asing lagi bagi para pelajar Indonesia, baik dari tingkat SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Peran kegiatan pramuka sangat memberikan dampak yang sangat luar biasa terhadap perkembangan karakter siswa, mulai dari sikap disiplin hingga cinta tanah air. Materi dalam kepramukaan yakni materi yang menyangkut pada pembentukan karakter, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, hingga lainnya yang telah disesuaikan dengan kurikulum.

Menurut UU No. 20 Thn 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 bahwa tujuan pendidikan Nasional adalah “pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[23]

 

SMK Muhammadiyah Tumijajar merupakan salah satu lembaga pendidikan swasta di Tulang Bwang Barat yang melaksanakan ekstrakurikuler Hizbul Wathan dengan memiliki banyak siswa yang direkrut dari berbagai kalangan masyarakat baik dari dalam daerah maupun luar daerah Tulang Bawang Barat. Selain itu, dengan merekrut pembina-pembina yang berkompeten, mampu mengantarkan sekolah tersebut kedalam salah satu lembaga pendidikan swasta khususnya yang sukses dalam bidang ekstrakurikuler Hizbul Wathan tersebut. Suksesnya kegiatan Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar tentu tak lepas dari manajemen atau pengelola yang baik pula oleh pihak-pihak yang terkait seperti kepala sekolah maupun para pembina.

Ekstrakurikuler terbagi menjadi dua macam, yakni ekstrakurikuler wajib dan pilihan. Kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diselenggarakan oleh satuan pendidikan dan wajib diikuti oleh seluruh peserta didik, yakni berbentuk pendidikan kepramukaan. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler pilihan merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan sesuai bakat dan minat peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler pilihan tersebut dapat berbentuk latihan olah-bakat dan latihan olah-minat.[24]

Dalam kesempatan ini penulis tertarik dan memilih untuk melakukan sebuah penelitian pada kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di  SMK Muhammadiyah 1 Tumijajar, Tulang Bawang Barat sebagai objek penelitian dengan berberapa pertimbangan diantaranya, adanya izin dari pihak kepala sekolah tersebut kepada kami untuk melakukan penelitian, kondisi sekolah yang memungkinkan dan menunjang untuk dilakukan penelitian.

Penulis tertarik dikarenakan adanya peningkatan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan di SMK Muhammdiyah Tumijajar pada siswa, setelah diketahui didalamynya ada beberapa kegiatan Ekstrakurikuler seperti, PMR (Palang Merah Remaja), Futsal, Basket, Tari, Hizbul Wathan dan lain-lain. Adapun waktu dalam melakukan observasi ataupun izin ke sekolah tersebut pada tanggal 29 mei 2017, meskipun waktu yang digunakan dalam melakukan penelitian ini relatif singkat dan sedikit terkendala pada penyesuaian jadwal sekolah dan kuliah, tetapi tidak menjadi kendala yang signifikan untuk mencapai tujuan dan sasaran dari penelitian itu sendiri, selanjutnya penulis akan melakukan penelitian pada waktu tertentu.

Pada dasarnya SMK Muhammadiyah Tumijajar merupakan lembaga pendidikan yang mampu membimbing para siswanya dalam hal meningkatkan karakter dan jiwa kepemimpinan dalam akademik maupun sosial. Berpijak dari asumsi maupun gambaran yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut yang tertuang, dan penulis akan mengadakan penelitian skripsi dengan judul “Peran Hizbul Wathan dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar”.

 

 

  1. Identifikasi Masalah

Dari penjelasan diatas, penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang terkait dengan penelitian ini, diantaranya:

  1. bagaimana cara efektif menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar melalui ekstrakurikuler Hizbul Wathan, cara disini menyangkut penekanan-penekanan intrinsik yang dimunculkan dalam kegiatan Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar.
  2. Batasan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan bahwa pada masa modern ini, dunia pendidikan Islam masih dihadapkan kepada beberapa problem pendidikan.  Agar masalah yang diteliti lebih terarah dan tidak keluar dari jalur pembahasan, karena sepengetahuan penulis sekolah kejururan terutama dalam pendidikan Islam masih memiliki banyak sudut-sudut pandang yang beragam terutama dalam bagaimana mengkombinasikan dua bidang ilmu pengetahuan tersebut, yakni antara ilmu agama dan ilmu kejuruan. Oleh karena itu, penulis memberi batasan masalahnya sebagai berikut:

  1. Gagasan akan faktor-faktor apa yang menjadikan Hizbul Wathan menjadi solusi Pendidikan dalam ilmu pengetahuan dan Organisasi.

Dari batasan masalah tersebut diharapkan terdapat fokus yang mendalam untuk menjawab tumbuhnya Jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar melalui kegiatan Hizbul Wathan.

  1. Rumusan Masalah

Dari ulasan singkat mengenai latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti akan merumuskan suatu masalah yang akan menjadi panduan pada peneliti selanjutnya, yaitu :

  1. Bagaimana Peran Hizbul Wathan dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar?
  2. Tujuan dan Keguanan Penelitian
  3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan, yaitu :

  1. Untuk mengetahui peran Hizbul Wathan dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar.
  2. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Kegunaan Teoritis
  • Penyusunan skripsi ini dapat dijadikan sebagai informasi yang bermanfaat bagi pihak sekolah.
  • Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengevaluasi pelaksanaan program Hizbul wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar.
  1. Kegunaan Praktis
  • Untuk menambah wawasan bagi penulis dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pendidikan.
  • Untuk menumbuhkan jiwa leadership dan keaktifan siswa dalam melatih tanggung jawab.
    1. Bagi Guru.
  1. Memudahkan dalam melaksanakan tugas pembelajaran sebab telah jelas langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan waktu yang tersedia, tujuan yang hendak dicapai, kemampuan daya serap peserta didik, mengatasi tingkat kenakalan peserta didik, serta ketersediaan media yang ada.
  2. Dapat dijadikan sebagai alat untuk mendorong aktifitas peserta didik dalam pembelajaran.Memudahkan untuk melakukan analisa terhadap perilaku peserta didik secara personal maupun kelompok dalam waktu relative singkat.
  3. Bagi Siswa
  4. Kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dan di organisasi.
  5. Memudahkan siswa dalam bercakap dan bersosial
  6. mendorong semangat belajar serta ketertarikan mengikuti pembelajaran secara penuh dan meningkatkan jiwa sosial yang tinggi.
  7. dapat melihat atau membaca kemampuan pribadi dikelompoknya secara objektif.
  8. Bagi peneliti

Merupakan bentuk pengalaman yang sangat berharga guna menambah wawasan dan profesionalisme. Mampu membantu mengurangi dan mengatasi tingkat kenakalan siswa serta meningkatkan daya serap siswa dalam pembelajaran. Dan membantu siswa untuk berani dalam kelas, sekolah, organisasi di intern maupun ekstern.

  1. Penelitian Terdahulu

Ekstrakurikuler dalam bentuk pendidikan bukanlah hal yang asing, bahkan hampir di setiap pendidikan formal terdapat Ekstrakurikuler baik setingkat dasar maupun sampai sekolah lanjutan, maka terdapat juga pembahasan dan penelitian tentang Ekstrakurikuler, akan tetapi dari penelitian itu tentunya mempunyai sisi fokus dan pengembangan yang berbeda, beberapa kajian dan penelitian yang pembahasannya menyangkut Ekstrakurikuler dan kepemimpinan diantaranya :

  1. Kepemimpinan Empati menurut Al-Qur’an. Oleh, Asep Dika Hanggara. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep kepemimpinan empati menurut al-Qur’an? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui kajian literatur-literatur yang terkait dengan topik kepemimpinan empati (Library Reseacrh). Data yang dihimpun melalui kajian literatur tersebut kemudian dianalisis berdasarkan prosedur dalam metode maudhu’i dengan merujuk pada karya-karya tafsir al-Qur’an yang terkait dengan topik kepemimpinan empati. Terdapat tiga poin konsep kepemimpinan empati menurut al-Qur’an. Pertama,penghormatan pada harga diri orang lain. Konsep ini terdapat dalam surat an-Nisa’: 86, al-Furqan: 63, Thaha: 44, an-Nisa’: 9, al-Isra’ 23, alMaidah:54, al Hujurat: 11, dan Ali Imran: 134. Kedua, kiat mendengar dan merespon yang baik. Konsep ini terdapat dalam surat Shad: 24, al-Baqarah: 30, dan an-Nisa’: 63. Ketiga, peka terhadap masalah dan bersinergi dalam menyelesaikannya. Konsep ini terdapat dalam surat Ali Imran: 159, al-Anbiya’: 73, dan asy-Syura: 23. Jumlah ayat yang relevan dengan kepemimpinan empati berjumlah 19 ayat. Ayat yang paling tepat sebagai ayat kepemimpinan empati adalah Q.S at-taubah ayat 128. Menurut ahli tafsir, ayat ini menjelaskan, bahwa sebenarnya hati Nabi Muhammad SAW teriris-iris melihat kesulitan dan penderitaan yang dialami kaum Muslimin. Terasa berat olehnya penderitaan mereka, baik lahir maupun batin. Nabi sangat menginginkan keselamatan, kebaikan bahkan segala sesuatu yang membahagiakan bagi mereka semua, baik mukmin maupun kafir. Ayat ini menjelaskan empat sifat pemimpin empati, yaitu ‘aziz, haris, ra’uf, dan rahim.
  2. Manajemen Ekstrakurikuler Hizbul Wathan Untuk Membentuk Karakter Kepemimpinan Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Oleh Puji Kusumandari. Universitas Islam Negeri Sunan KaliJaga. Latar belakang penelitian ini adalah bermula dengan adanya fungsi pendidikan Latar belakang penelitian ini adalah bermula dengan adanya Fungsi Pendidikan Nasional yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka membentuk karakter akhlakul karimah dalam kehidupan bangsa, bertujan untuk berkembangnya poyensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman serta minimnya nilai-nilai sosoial dan nilai kepemimpinan pada para pemimpin negara saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan manajemen kegiatan Ekstrakulikuler Hisbul Wathan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan dalam rangka membentuk karakter kepemimpinan siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi yang dilakukan setelah data terkumpul dan telah teruji kebenarannya. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi teknik. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Manajemen ekstrakurikuler di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yakni meliputi Perencanaan kegiatan, pengerganisasian, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan. 2) Faktor pendukung manajemen ekstrakulikuler Hizbul Wathan adalah: adanya dukungan dari sekolah, tersedianya SDM yang berkompeten, sarana dan prasarana yang memadai, pengalokasian waktu, dan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Faktor penghambat manajemen ekstrakulikuler Hizbul Wathan adalah: siswa, yakni siswa yang jarang mengikuti kegiatan Hizbul Wathan, adanya acara mendadak serta adanya kegiatan yang bertabrakan dengan kegiatan Hizbul Wathan. 3) Hasil kegiatan Hizbul Wathan di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta adalah: 1) tumbuhnya sikap tanggung jawab, mandiri dan sifat jujur pada diri siswa, 2) siswa mampu memahami dan mengaplikasikan materi kegiatan dalam kegiatan sehari-hari, dan 3) meningkatnya minat siswa terhadap kegiatan Ekstrakulikuler Hizbul Wathan.
  3. Smart Character sebagai upaya Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan siswa di SMAN 1 Jiwan. Dari kegiatan PKM bidang Pengabdian Masyarakat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Smart Character sebagai upaya menumbukan jiwa kepemimpinan siswa di SMAN 1 Jiwan dapat meningkatkan karakter jiwa kepemimpinan siswa. Saran setelah dilakukan kegiatan PKM bidang Pengabdian Masyarakat ini adalah sebagai berikut: a. Untuk melaksanakan kegiatan Smart Character diperlukan kerjasama yang baik dari pihak sekolah, guru dan juga siswa, Kegiatan diharapkan terus berjalan secara berkesinambungan bahkan dapat dijadikan kegiatan Ekstrakurikuler di sekolah c. Kegiatan pembinaan karakter yang dikemas dalam bentuk Smart Character sebagi upaya menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa tidak hanya dilakukan di SMAN 1 Jiwan Madiun tetapi juga sekolah lainnya.

Dari beberapa penelitian terdahulu diatas belum terdapat penelitian yang memfokuskan terhadap Peran Hizbul Wathan (HW) dalam meningkatkan Jiwa Leadership Berorganisasi Peserta didik di SMK Muhammadiyah Tumijajar, sehingga Penelitian ini mempunya harapan besar untuk bisa menambah Khazanah keilmuan serta pengembangan di dunia pendidikan.

  1. Sitematika Pembahasan

Pada garis besarnya, untuk memberikan gambaran pembahasan secara menyeluruh dan sistematis dalam skripsi ini, penyusun membaginya menjadi tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman surat pengesahan, halaman persetujuan pembimbing, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.

Bagian inti berisi uraian penelitian, mulai dari bagian pendahuluan sampai dengan penutupan yang tertuang dalam bentuk bab-bab sebagai satu kesatuan. Pada skripsi ini penulis menuangkan hasil penelitian ke dalam lima bab. Pada setiap bab terdapat sub-sub bab yang menjelaskan pokok bahasan dari setiap bab yang bersangkutan.

BAB I berisi pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, Latar Belakang masalah, Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan  dan Kegunaan Penelitian, Kajian Pustaka, Landasan Teori, Hipotesis, Metode Penelitian, Analisis Data, Sistematika Pembahasan, Daftar Pustaka, dan Out Line.

BAB II berisi tentang Landasan Teori, meliputi: Kajian Peran, Kajian Hizbul Wathan (HW), kajian kepemimpinan, kajian Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan.

BAB III berisi tentang Metode Penelitian, meliputi Jenis Penelitian Populasi dan Sampel, Indentikasi Variabel, Instrument Pengumpulan Data, Metode atau Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data, danAnalisis Data

BAB IV yaitu berisi tentang Hasil Penelitian dan analisa data, meliputi gambaran lokasi di SMK Muhammadiyah Tumijajar, letak geografis, sejarah berdiri dan berkembangnya, visi dan misi serta tujuan, struktur, kurikulum, keadaan guru, sarana dan prasarana, pelaksanaan kegiatan Hizbul Wathan dan hasil penelitian peran Hizbul Wathan dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar.

BAB V yaitu penutupan yang meliputi : kesimpulan, saran-saran, kata penutup, dan daftar pustaka. Skripsi ini diakhiri dengan bagian akhir yang berisi lampiran-lampiran (catatan lapangan) dan daftar riwayat hidup.

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Tinjauan Tentang Hizbul Wathan (HW)
    1. Definisi Hizbul Wathan

Kegiatan Hizbul wathan sangat diperlukan dalam sekolah muhammadiyah guna menumbuhkan jiwa leadership siswa. Hizbul wathan adalah sama halnya pramuka. Adapaun identitas Hizbul wathan, yakni HW adalah kepanduan islami, artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik berakhlak mulia” dan juga “organisasi otonom muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik anak didik, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan”.

HW yang artinya Pembela tanah air, adalah nama gerakan kepanduan dalam Muhammadiyah. Kepanduan adalah sistem pendidikan luar keluarga dan sekolah yang membentuk dan membina watak anak, remaja dan pemuda dengan metode menarik, menyenangkan dan menantang serta dilaksanakan di alam terbuka. Gerakan Kepanduan HW adalah organisasi ortonom di lingkungan Muhammadiyah yang khusus dalam bidang kepanduan. Pandu HW adalah anggota Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.[25]

 

 

  1. Sejarah dan detik-detik peristiwa lahirnya Hizbul Wathan

Gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW) merupakan salah satu organisasi ortonom di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka disekolah Muhammadiyah. Hizbul Wathan merupakan kegiatan yang sejenis dengan pramuka, yang berperan dalam membentuk karakter peserta didik. Hizbul Wathan didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 1336 H/1918 Masehi yang di prakarsai oleh KH. Ahmad Dahlan, yang merupakan tokoh pendiri pergerakan Muhammadiyah. Gerakan kepanduan Hizbul Wathan ini termasuk dalam ekstrakurikuler bentuk krida.[26]

Hizbul Wathan adalah sebuah ortonom Muhammadiyah yang bergerak dibidang kepanduan, Hizbul wathan biasa disebut dengan HW. Bahkan, HW pun merupakan satu-satunya kepanduan Islam diakui di Indonesia ini. HW ini didirikan oleh K.H.Ahmad Dahlan do yogyakarta, tepatnya di kauman. Awal mula berdirinya kepanduan ini, karena kekaguman K.H A. Dahlan  sewaktu melihat barisan yang rapi nan indah dengan memakai seragam bagus, yang sedang latihan di Pura Mangkunegaran, solo. Beliau melihat itu sepulang dari pengajian STAV yang diadakan setiap Ahad. Barisan itu itu bernama J.P.O (Javaansche Padvinders Organisatue). Sepulang dari Solo, beliau memanggil Bpk. Somodirdjo dan Bpk. Syarbini untuk membicarakan perihal yang sangat menarik perhatian beliau.[27]

Pada tahun 1336 H bertepatan dengan 1918 M, kepanduan HW resmi berdiri. Tapi, namanya waktu itu adalah “Padvinder Muhammadiyah” (Kepanduan Muhammadiyah), yang kemudian berganti nama menjadi “Hizbul Wathan” dan mempunyai arti “Pembela Tanah Air”. Pergantian nama ini dilakukan dirumah Bpk. H. Hilal di Kauman, dan nama hizbul Wathan ini diterima atas usulan Bpk. Hadjid.

Namun, pada tahun 1943, kepanduan Hizbul Wathan bersama dengan kepanduan lainnya dibubarkan oleh pemerintah penjajahan Jepang. Kemudian, dengan segala upaya pada tanggal 29 Januari 1950 Hizbul Wathan bangkit kembali dengan perubahan-perubahan. Tapi, sungguh sayang pada tanggal 9 Maret 1961, berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor : 238/ 61, kepanduan Hizbul Wathan dan kepanduan lainnya dilebur ke dalam pramuka.

Setelah tertidur lama, pada tanggal 10 Sya’ban 1420 H atau bertepatan pada tanggal 18 November 1999 M. Kepanduan Hizbul Wathan dibangkitkan kembali oleh pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Surat Keputusan No : 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 M dan dipertegas dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor : 10/KEP/1.O/B/2003 M.[28]

Pada suatu hari dipanggilnya oleh K.H. Ahmad Dahlan beberapa guru Muhammadiyah : Bapak Somodirjo (mantri guru Standard School Suronatan, sekarang menjadi SD Suronatan), bersama seorang pembantunya : Bapak Syarbani dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari sekolah Muhammdiyah Kota gede.

Dengan secara kekeluargaan K.H. Ahmad Dahlan sedikit mempersoalkan perjalanannya bertabligh ke Solo, ialah kedatanganya tiap hari Sabtu malam (malam minggu) di pengajian S.A.T.V (Sidik Amanat Tabligh Vatonah) di pendopo rumah Kyai Imam Muchtar Buchori di Kauman Solo. Selanjutnya Kyai berkata kepada para guru tersebut: “Saya tadi pagi di Solo pulang dari Tabligh, sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun, melihat anak banyak berbaris, setengahnya sedang bermain- main, semuanya berpakaian seragam. Baik sekali! Itu apa?”.

Gerakan berbaris semakin ramai. Oleh umum dinamakan “Padvinder Muhammadiyah”. Nama Padvinder Muhammadiyah menjadi populer, juga dalam lingkungan Muhammadiyah. Oleh karena itu oleh hoofbestuurMuhammadiyah pengawasan terhadap Padvinderij itu diserahkan kepada Muhammadiyah Oleh  Bg. Sekolahan dibentuklah pengurusnya :

Ketua               : H. Muchtar

Wakil Ketua    : H. Hadjid

Sekretaris        : Somodirdjo

Keuangan        : Abd. Hamid

Organisasi        : Siradj Dahlan

Komando        : Sjarbini, Damiri

Untuk memajukan gerakan Padvinderij itu direncanakan akan mengambil pelajaran dari Solo kepada J.P.O. Persiapan dikerjakan. Untuk meriahkan keberangkatan ke Solo, maka telah diputuskan oleh Bg. Sekolahan, akan memberikan uniform dengan diangsur pembayarannya. H. Nawawi diutus berbelanja ke Semarang. Dibelinya kain drill kuning, kain biru dan setangan leher. Untuk setangan leher karena yang mudah didapat ialah kacu merah berbintik-bintik hitam (kacu “kedele kecer”), maka kacu itulah yang dibelinya. Uniform disiapkan. Hari keberangkatan ke Solo, berjamu kepada J.P.O telah ditetapkan. Yang boleh ikut hanyalah mereka yang telah beruniform. Pada suatu sore uniform dibagikan. Paginya hari Ahad barisan “Padvinder Muhammadiyah” dengan uniformnya yang baru itu pergi ke Solo, dengan diantarkan oleh Kiyai H.Hisjam sebagai ketua bg. Sekolahan.[29]

Dalam suatu sidang pengurus dibentangkan mengenai nama, di rumah Bp. H. Hilal Kauman. Oleh R.H. Hadjid diajukan nama yang sekiranya dapat sesuai dengan keadaan masa dan mengingat pula pergolakan-pergolakan di luar negeri sehabis perang dunia I, ialah nama Hizbul Wathan yang berarti “Golongan yang cinta tanah air”. Dengan kata sepakat nama itulah yang dipakai untuk mengganti nama “Padvinder Muhammadiyah”. Kejadian ini waktuya bertepatan dengan peristiwa akan turunnya dari tahta Paduka Sri Sultan VII di Jogjakarta. Untuk turut menghormat dan akan ikut mengiringkan pindahnya Sri Sultan VII dari Keraton ke Ambarukmo, diadakan persiapan-persiapan dan latihan-latihan. Pada tanggal 29 Jumadil awal 1851 bertepatan dengan 30 Januari 1921, barisan HW keluar turut mengiringkan Sri Sultan pindah dari keraton ke Ambarukmo (“Jengkar Dalem dateng Ambarukmo”).[30]

Pada waktu itu gerakan padvinderij yang dapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam N.I.P.V tersebut. M. Raneff seorang pemimpin dari N.I.P.V dan yang memegang perwakilan N.P.V telah datang di Jogja menemui HW, mengajak supaya HW masuk dalam organisasi N.I.P.V. Usaha-usaha Komisaris N.I.P.V (Raneff) tiada hentinya untuk menarik HW menjadi anggota N.I.P.V sehingga ketika Kongres Muhammadiyah tahun 1926 di Surabaya, ia mengambil inisiatip mengikuti HW dalam Kongres Muhammadiyah dari semula sampai akhirnya. Selanjutnya diadakan pertemuan lagi di Jogjakarta oleh Wakil N.I.P.V. mengajak HW masuk ke dalam organisasi N.I.P.V. Tetapi, HW tetap ingin mempertahankan kedaulatannya, tiada dapat menerima tawaran dari M. Raneff tersebut, karena HW adalah HW bukannya seperti biasanya disebut padvinder. HW mempunyai prinsip-prinsip yang sukar diterima oleh “padvinder”. Karena akan menyalahi prinsip-prinsip sebagai padvinder. Adapun HW jika akan dikatakan “itu bukannya padvinder”, bagi HW tiada akan keberatan suatu apa, bagi HW adalah Hizbul Wathan, mau dikatakan itu padvinder terserah yang mau mengatakannya.

  1. Dokumen Penting Tahun Sejarah Hizbul Wathan
  1. Tahun 1918

Atas perintah KH. Ahmad Dahlan agar Muhammdiyah mendirikan organisasi kepanduan. Dipelopori oleh Bp. Syarbini dan Bp. Somodirjo (Yogya) didirikanlah organisasi kepanduan dalam Muhammadiyah dengan nama Padvinder Muhammdiyah

  1. Tahun 1920

Nama Padvinder Muhammdiyah diganti dengan Hizbul Wathan (Golongan yang cinta tanah air).

  1. Tahun 1961

Ir. Sukarno (Presiden RI Pertama) mengintruksikan ± 60 organisasi kepanduan di Indonesia untuk menjadi atau organisasi kepanduan yang dinamakan dengan Pramuka.

Tanggal 15 Maret 1961 : Maklumat Keputusan PP Muhammdiyah :

  • Memenuhi dan mematuhi perintah Presinden
  • Meniadakan organisasi Hizbul Wathan

Tanggal 11 April 1961 : Dibentuk panitia pembentukan Gerakan Pramuka

Tanggal 25 Mei 1961 : Kepres No. 238 – 1961 :

  • Penyelenggaraan Pendidikan Kepanduan ditugaskan kepada perkumpulan Gerakan Pramuka
  • Gerakan Pramuka adalah satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan

Badan-badan yang sejenis (sama) sifatnya atau menyerupai Gerakan Pramuka dilarang.

Tanggal 8 Juni 1961 : Majelis HW Yogyakarta menyatakan bersedia meleburkan diri dalam perkumpulam Gerakan Pramuka.

Tanggal 14 Agustus 1961 : Hari Pramuka

  1. Tahun 1980

Pada Muktamar Muhammdiyah di Surabaya sudah terdengar pembicaraan-pembicaraan mengenai kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

  1. Tahun 1985

Pada Muktamar Muhammdiyah di Solo sudah terdengar pembicaraan-pembicaraan mengenai kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

  1. Tahun 1990

Pada Muktamar Muhammdiyah di Yogyakarta juga disertakan pawai alegoris pandu HW

  1. Tahun 1995

Pada Muktamar Muhammdiyah di Aceh gencar lagi pembicaraan-pembicaraan mengenai kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

  1. Tahun 1996

Yaitu tanggal 21 sd 23 Maret 1996 sebagai tindak lanjut dari pembicaraan pada Muktamar Muhammadiyah di Aceh terealisasi dengan diadakannya Reuni Nasional Pandu Hizbul Wathan Wreda dan ada perwakilan dari Pandu NA.

  1. Tahun 1996-1998

Pertemuan-pertemuan rutin pandu HW Wreda dan Pandu NA yang membahas perlunya dibangkitkannya kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dengan mempertimbangkan konsep baru yang selaras dengan kondisi generasi muda pada saat ini.

  1. Tahun 1998

Sebagai hasil rumusan pertemuan ruitn maka dibuatlah proposal Kebangkitan Kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan disampaikan dan di bicarakan dalam sidang Tanwir Muhammadiyah di Semarang pada bulan Juli 1998 dilanjutkan pada bulan Septembeer 1998 pada sidang pleno PP Muhammdiyah yang membahas perlunya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di bangkitkan

  1. Tahun 1999

Pertemuan Pengurus Pandu HW dan NA dengan PP Muhammdiyah pada bulan Mei 1999 sebagai persiapan segala sesuatunya untuk Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Sarasehan dan lokakarya Nasional pada tanggal 24-25 Juli 1999 bertepatan tanggal 11-12 Rabiutssani 1420 H membicarakan kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Sebagai puncaknya pada tanggal 18 November 1999 bertepatan dengan 10 Sya’ban 1420 H Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dideklarasikan Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta

  1. Sifat HW

HW adalah sistem pendidikan untuk anak, remaja, dan pemuda di luar lingkungan keluarga dan sekolah, HW memiliki sifat antara lain :

  1. Bersifat nasional, artinya ruang lingkup usaha HW meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Repulik Indonesia.
  2. Bersifat terbuka, artinya keanggotaan HW terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan gender, usia, profesi, atau latar belakang pendidikan. Penggolongan keanggotaan HW menurut usia hanyalah untuk membedakan status sebagai peserta didik atau anggota dewasa (pembina)
  3. Bersifat sukarela, artinya dasar seseorang menjadi anggota HW adalah suka dan rela, tanpa paksaan atau tekanan orang lain.
  4. Tidak berorientasi pada politik artinya secara organisatoris HW tidak berafiliasi kepada salah satu partai politik dan HW tidak melakukan aktivitas politik praktis. Induk organisasi HW adalah Persyarikatan Muhammadiyah.
    1. Identitas HW
  5. HW adalah panduan islami, artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik berakhlak mulia.
  6. HW adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik anak, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan.[31]
    1. Ciri Khas HW
  7. Ciri khas HW adalah Prinsip Dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan, yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan. Pelaksanaannya disesuaikan kepentingan, kebutuhan, situasi, kondisi masyarakat, serta kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah.
  8. Prinsip Dasar Kepanduan adalah
  1. pengamalan akidah Islamiyah;
  2. pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam;
  3. pengamalan kode kehormatan pandu.
    1. Metode Kepanduan
  4. Pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu;
  5. Kegiatan dilakukan di alam terbuka;
  6. Pendidikan dengan metode yang menarik, menyenangkan, dan menantang;
  7. Penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan;

Sistem satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri.[32]

  1. Usaha HW

Dalam mencapai maksud dan tujuan yang telah diterangkan di atas, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan berusaha :

  1. Mengembangkan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di seluruh Indonesia.
  2. Mengadakan pendidikan dan pelatihan kepanduan bagi anak, remaja, dan pemuda muslim.
  3. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk para pelatih, pimpinan, dan pemimpin anak didik.
  4. Menyelenggarakan pendidikan kepanduan Islami.
  5. Mengadakan kerjasama kelembagaan di dalam dan di luar negeri.
  6. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
  7. Tujuan HW
  • Menjadikan manusia yang berarti, bertaqwa kepada Allah, berbudi luhur, kuat mental dan bermoral tinggi.
  • Memiliki kecerdasan yang tinggi dan mempunyai ketrampilan yang handal.
  • Berbadan sehat, kuat, tangkas jasmaninya.
  • Menjadi warga Negara RI yang setia, patuh serta menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara.
  1. Keanggotaan dan Keorgansisasian

Anggota Kepanduan Hizbul Wathan adalah warga negara Republik Indonesia, beragama Islam, yang terdiri dari :

  1. Anggota Biasa adalah peserta didik putera dan puteri yang dikelompokkan menjadi:
    1. Athfal : berumur 6 sampai 10 tahun
    2. Pengenal : berumur 11 sampai 16 tahun
    3. Penghela : berumur 17 sampai 20 tahun
    4. Penuntun : berumur 21 sampai 25 tahun
  2. Anggota Pembina adalah mereka yang tugas utamanya memimpin dan atau melatih peserta didik serta mengelola dan atau memimpin Kwartir atau Qabilah. Anggota pembina terdiri dari pelatih, Instruktur, Pemimpin Satuan, dan Pimpinan Kwartir atau Qabilah.
  3. Anggota Kehormatan adalah para pecinta Kepanduan Hizbul Wathan, yang karena usia, kesehatan, atau kesibukan kerja tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepanduan. Anggota Kehormatan terdiri dari:
    1. Pandu Wreda Hizbul Wathan dan Pandu Wreda Nasyiatul ‘Aisyiyah.
    2. Orang yang berjasa dalam pengembangan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
    3. Simpatisan Kepanduan Hizbul Wathan.

Jenjang organisasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan diatur sejajar dengan jenjang organisasi di Persyarikatan Muhammadiyah, sebagai berikut:

  1. Di tingkat PP Muhammadiyah disebut Kwartir Pusat
  1. Di tingkat PW Muhammadiyah disebut Kwartir Wilayah
  2. Di tingkat PD Muhammadiyah disebut Kwartir Daerah
  3. Di tingkat PC Muhammadiyah disebut Kwartir Cabang
  4. Di tingkat PR Muhammadiyah disebut Qabilah
  5. Kepemimpinan
  6. Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan atau leadership dapat diartikan sebagai satu kekuatan atau ketangguhan yang bersumber dari kempuan untuk mencapai cita-cita dengan keberatan mengambil resiko yang bakal terjadi. Secara etimologi kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang berarti dibimbing atau dituntun.[33]  Kata kepemimpinan mendapat awalan “ke” dan sisipan “em” dan akhiran “an”.

Menurut tata bahasanya awalan “ke” dan “ke-an” berfungsi sebagai pembentuk kata benda yang mengandung arti atau peristiwa. Sedangkan sisipan “em” pada kata pemimpin membentuk kata baru yang artinya tak berbeda dengan kata dasarnya, artinya sisipan “em” disini mengandung sifat. Jika pemimpin berasal dari kata “pimpin”, imbuhan “pe” mempunyai arti orang yang melakukan, jadi pemimpin adalah orang yang memimpin.[34]

Saat kita mendengar kepemimpinan, kita akan disuguhkan dengan angan seseorang yang mempunyai jabatan, orang yang kuat, yang berpengaruh serta bisa mengendalikan orang lain untuk tujuan bersama. Dari angan seperti itu menurut beberapa pakar yang fokus terhadap bahasan kepemimpinan ada benarnya, namun kepemimpinan sejatinya tidak hanya untuk seseorang yang diamanati sebuah jabatan yang tinggi untuk memimpin, karena kepemimpinan adalah proses individu mempengaruhi individu lain untuk mencapai tujuan bersama.[35]

Pembahasan mengenai kepemimpinan lebih banyak mengenai gaya dan perilaku. Dari sekian banyak pembahasan mengenai gaya dan perilaku kepemimpinan tersebut, pembahasan yang jarang ditemukan adalah mengenai kepemimpinan empati. Salah satu sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah empati, yakni sikap menyelami kondisi faktual, aspirasi, bahkan suasana batin orang-orang yang dipimpinnya. Hal tersebut tercermin dalam diri Rasulullah yang disebutkan dalam Q.S at-Taubah ayat 128.

Artinya : Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

 

Rasulullah menjadi pemimpin yang memiliki sifat melayani serta memiliki rasa kasih sayang dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih sayang itu terwujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.[36] Pemimpin harus sensitif dalam berinteraksi, baik terhadap bahasa verbal, nada suara, maupun nonverbal atau bahasa tubuh. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya interaksi antara satu orang dengan yang lain. Jadi, pemimpin membutuhkan kemampuan interaksi yang baik.

Dari definisi tersebut kata pengaruh menjadi poin penting, setiap individu yang bisa mempengaruhi berarti ia telah mengantongi sebuah kepemimpinan, karena meski mendapat jabatan yang tinggi namun tidak bisa berpengaruh maka bisa dipastikan kepemimpinannya tidak eksis.[37]

Selanjutnya elemen penting kepemimpinan adalah tujuan bersama, hubungan mempengaruhi dengan tujuan adalah sebuah elemen yang tidak bisa dipisahkan, bisa dianalogkan dengan mata uang yang saling melengkapi, dari bahasanya tersebut (pengaruh dan tujuan) maka kepemimpinan selalu terjadi didalam kelompok.[38] Kelompok  tersebut bisa saja dari komunitas, kelompok kerja kecil, atau kelompok besar di suatu organisasi-organisasi besar dalam kelompok tersebut seseorang atau pemimpin mengarahkan energi mereka kepada individu untuk mencapai tujuan bersama, jadi kepemimpinan juga ada karena terdapat pemimpin (Leaders) dan yang dipimpin (Followers). Dua tersebut sangat mempunyai hubungan erat, karena pemimpin butuh dengan pengikut dan pengikut membutuhkan pemimpin. Meski semacam itu pemimpinlah yang lebih dulu mempertahankan hubungan, mengawali jalinan komunikasi intensif disetiap permasalahan.

Kepemimpinan merupakan bentuk yang kompleks dari pemecahan masalah sosial. Dari mumford ini tidak ada konsep sederhana tentang kepemimpinan, dalam mempelajarai apa itu kepemimpinan semua butuh telaah yang mendalam, pengamatan yang terus menerus, dukungan terpentingnya adalah lingkungan, dukungan lingkungan akan mempengaruhi sikap dalam mengambil langkah serta pemecahan masalah. dari pemecahan masalah tersebut ia akan berusaha berinteraksi untuk mendapat dukungan dengan cara mempengaruhi, mengarahkan bahkan mengorganisir.

Dari beberapa pemaparan tentang kepemimpinan dapat diambil garis besar, yaitu kepemimpinan terdapat didalam situasi hubungan individu atau kelompok individu pada proses mempengaruhi, mengarahkan, membimbing, menggerakkan,  sehingga mereka bisa berbuat dan bertanggung jawab, perbuatan itu merupakan sumbangan dalam pencapaian tujuan tertentu. Jiwa kepemimpinan disini melibatkan sisi rasional dan emosional yang didasari oleh logika serta inspirasi dan panggilan jiwa, Sehingga jiwa kepemimpinan akan menyentuh perasaan orang lain untuk patuh, serta  jiwa kepemimpinan akan lebih mudah mempunyai resonansi atau getaran jiwa yang bisa menyalur dari jiwa seorang ke orang lain.[39] Kepemimpinan juga adalah suatu ilmu dan harus dipelajari serta di tanamkan dengan konsisten dan ikhlas. Seperti yang dikatakan oleh Al-Ghazali : “Dulu kita menuntut ilmu tidak dengan ikhlas karena Allah. Akan tetapi, ternyata ilmu tidak mau dicari kecuali dengan ikhlas karena Allah”.[40] Dari pernyataan beliau, semua ilmu harus dengan ridho Allah supaya bisa tertaman dengan baik dan konsisten.

  1. Tipe Kepemimpinan
    1. Tipe Otokratis (Autoritorian Leader Type)

Kepemimpinan Otokratis mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus di patuhi.[41] Sikap dan prinsipnya sangat konservatif, pemimpin dalam konsep kepemimpinan otokratis selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada one man show, sebab setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa komunikasi dengan bawahannya. Jenis kepemimpinan ini dicirikan oleh pemimpin-pemimpin yang tegas serta faktral dan pengawasan yng ditentukan dengan teliti.

Pemimpin dengan tipe otokratis banyak kita jumpai dalam pemerintah fuendal pada abad pertengahan sampai pada zaman perang Dunia II.

  1. Tipe Karismatik (Charismatic Leader Type)

Tipe Kepemimpinan karismatik dapat diartikan sebagai kepemimpinan yang menggunakan keistimewaan atau kelebihan sifat kepribadian dalam mempengaruhi pikiran perasaan dan tingkah laku orang lain, sehingga dalam suasana batin mengagumi dan mengagungkan pemimpin-pemimpin bersedia berbuat sesuatu yang dikehendaki pemimpin.[42]

Dalam buku Yulk. Gary A,[43] Disamping empat macam pokok pendekatan studi kepemimpinan tersebut, erat berkaitan dengan kewibawaan seorang pemimpin ada yang disebut pendekatan karismatik atai charismatic approach atau “Teori kepemimpinan Karismatik” (Theory of Charismatic Leadership). Teori ini dikemukakan oleh R.J. House.[44]

  1. Tipe Militeristik

Dalam kepemimpinan militeristik sifat pemimpin yang tergolong dalam memiliki sifat-sifat ini antara lain sebagai berikut:

  1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando terhadap bawahan.
  2. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
  3. Sangat menyenangi formalitas, ucapan-ucapan ritual dan tanda kebesaran yang berlebihan.
  4. Menuntut adanya disiplin kerja.
  5. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti. Dan kritikan-kritikan dari bawahan serta Komunikasi hanya berlangsung searah saja.
  1. Tipe Paternalis

Paternalis merupakan tipe pemimpin yang memposisikan diri sebagai Bapak dan anggota dalam lembaganya adalah sebagai anak atau dianggap sebagai manusia yang belum dewasa. Pemimpin paternalis selalu merasa serba tahu sehingga anggota lembaga jarang diberikan kesempatan untuk berinisiatif, untuk mengembangkan daya kreasi apalagi mengambil kebijakan lembaga. Dalam tipe paternalis memang lebih mengedepankan azas kekeluargaan. Sehingga sifat kekerasan dan intimidasi tidak pernah untuk dijumpai.

  1. Laissez-faire
    1. kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu, dengan partisipasi minimal dari pemimpin
    2. bahan-bahan yang bermacam-n;acam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberikan informasi pada saat ditanya. Dia tidak mengambil bagian dari diskusi kerja.
    3. Sarna sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas.
    4. Kadang-kadang memberi komentar  sponsor  terhadap  kegiatan  anggota  atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian.

Menurut W.J Reddin dalam artikel nya What Kind Of Manager, dan dikutip oleh Wahjosumidjo (Dept.P&K, Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai,1982) sebagaimana dikutip oleh Kartini Kartono, menentukan watak dan tipe pemimpin atas tiga pola dasar,yaitu:

  1. Berorientasi pada tugas (task orientation)
  2. Berorintasi hubungan kerja (relationship orientation)[45]
  1. Fungsi Kepemimpinan

Fungsi berasal dari kata “function” yang berarti jabatan atau kedudukan.[46] Kata fungsi adalah kata benda yang menyatakan suatu posisi dengan kata lain kata fungsi mencerminkan sesuati yang statis. Dari pengertian kata fungsi dan pengertian kepemimpinan yang telah diperjelas atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi kepemimpinan yaitu suatu posisi dimana seorang pemimpin dapat memfungsikan dirinya sebagai orang yang dapat memimpin disekeliling dirinya. Seorang pemimpin berfungsi sebagai orang yang mampu menciptakan perubahan secara efektif di dalam penampilan kelompok serta menggerakkan orang lain sehingga secara sadar orang lain tersebut mau melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.[47]

Berbicara mengenai fungsi kepemimpinan menurut Veithzal Rivai dalam bukunya “Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi”. Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situai sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang menyelenggarakan bahwa setiap pemimpin berada di dalam bukan di luar situasi itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi snatar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi.[48]

Artinya : Pemuda masa kini adalah bakal pemimpin masa depan. Sesungguhnya pada tangan kekuasaanmu memecahkan problema masyarakat. Karena itu, maju teruslah kamu, bagaikan majunya seekor harimau yang gagah berani. Dan bangkitlah semangat juang bergemuruh dan gegap gempita, niscaya dengan karyamu itu masyarakat hidup sejahtera.[49]

Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi interaksi sosial yang harus diperhatikan.

  • Dimensi kemampuan pemimpin mengarahkan (direction)

Dimensi ini merupakan aktivitas yang berisi tindakan-tindakan pemimpin dalam interaksi dengan anggota organisasi yang mengakibatkan semuanya untuk berbuat sesuatu dibidang masing-masing, yang tertuju pada tujuan organisasi. Dimensi ini tidak boleh dilihat dari segi aktivitas pemimpin, tetapi nampak dalam aktivitas anggota organisasi lainnya.

  • Dimensi tingkat dorongan (Support) dari anggota organisasi

Dimensi ini terbentuk keikut sertaan (keterlibatan) anggota organisasi dalam kegiatan melaksanakan tugas-tugas pokoknya.

Ada empat macam tugas penting seorang pemimpin :

  1. Mendefinisikan misi dan peranan organisasi (involves the definition of the institutional organizational mission and role)
  2. Fungsi kedua seorang pemimpin adalah merupakan pengejawantahan tujuan organisasi (the institutional embodiment of purpose)
  3. Mempertahankan keutuhan organisasi (to defend the organization’s integration)
  4. Tugas terakhir seorang pemimpin adalah mengendalikan konflik internal yang terjadi didalam organisasi (the ordering of internal conflict).[50]
  1. Syarat-Syarat Kepemimpinan

Seorang pemimpin bukanlah hanya seorang yang dapat memimpin saja tetapi harus dikembangkan lagi yaitu kemampuan dan kualitas yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri, salah satu yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah syarat-syarat kepemimpinan yang akan dikemukakan oleh Kartono bahwa kemampuan pemimpin dan syarat yang harus dimiliki adalah:

  1. Kemandirian, berhasrat untuk melakukan tindakan secara individual (individualisme).
  2. Besarnya rasa keingintahuan, untuk mengetahui sesuatu yang belum dia ketahui.
  3. Multi terampil atau memiliki kepandaian beraneka ragam.
  4. Memiliki rasa humor, antusiasme tinggi, suka berkawan.
  5. Perfeksionis, serta ingin mendapatkan yang sempurna.
  6. Mudah menyesuaikan diri,adaptasi tinggi.
  7. Sabar namun ulet.
  8. Waspada, peka, jujur, optimis, berani, gigih, dan realistis.
  9. Komunikatif serta pandal berbicara atau berpidato.
  10. Berjiwa wiraswasta.
  11. Sehat jasmani, dinamis,sanggup dan suka menerima tugas yang berat, serta berani mengambil resiko.
  12. Tajam firasatnya, tajam dan adil pertimbangannya.
  13. Berpengetahuan luas dan haus akan ilmu pengetahuan.
  14. Memiliki motivasi tinggi, dan menyadari target atau tujuan  hidupnya  yang ingin di capai, dibimbing idealisme tinggi.
  15. Punya imajinasi tinggi, daya kombfnasi dan daya inovasi.[51]

 

Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang berpengetahualuas, adil, jujur, optimis, gigih, ulet, bijaksana, mampu memotivasi diri sendiri, memiliki hubungan baik dengan bawahan dimana semua ini diperoleh dari pengembangan kepribadiannya sehingga seorang pemimpin memiliki nilai tambah tersendiri dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin.

  1. Ciri-Ciri dan Indikator Kepemimpinan

Menurut Davis yang dikutip oleh Reksohadiprojo dan Handoko[52], ciri-ciri utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

 

  1. Kecerdasan (Intelligence)

Penelitian-penelitian pada umumnya menunjukkan bahwa seorang pemimpin    yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya, tetapi tidak sangat bebrbeda.

  1. Kedewasaan, Sosial dan Hubungan Sosial yang luas ( Social maturity and Breadht) Pemimpin cenderung mempunyai emosi yang stabil dan dewasa atau matang, serta mempunyai kegiatan dan perhatian yang luas.
  2. Motivasi diri dan dorongan berprestasi

Pemimpinan secara relatif mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi, mereka bekerja keras lebih untuk nilai intrinsik.

  1. Sikap-sikap hubungan manusiawi

Seorang pemimpin  yang  sukses  akan mengakui harga  diri dan martabat  pengikut­pengikutnya, mempunyai perhatian yang tinggi dan berorientasi pada bawahannya.

Menurut Siagian indikator-indikator   yang  dapat  dilihat  sebagai berikut:

  1. Iklim saling mempercayai
  2. Penghargaan terhadap ide bawahan
  3. Memperhitungkan perasaan para bawahan
  4. Perhatian pada kenyamanan kerja bagi para bawahan
  5. Perhatian pada kesejahteraan bawahan
  6. Memperhitungkan faktor kepuasan kerja para bawahan dalam menyelesaikan tugas tugas yang dipercayakan padanya
  7. Pengakuan atas status para bawahan secara tepat dan profesional[53]

Indikator kepemimpinan bukan terletak pada sifat, karena sifat apa pun yang kita miliki mempunyai peluang untuk menjadi seorang pemimpin. Indikator kepemimpinan bukan terletak pada popularitas, karena popularitas tidak berkorelasi terhadap kinerja. Indikator kepemimpinan terletak pada perilaku, sesuatu yang menjadikan kondisi tidak ada menjadi ada, dari yang kecil menjadi besar, dari gelap menjadi terang, dan sesuatu yang rendah menjadi bermakna. Berita baik dari ini semua adalah bahwa perilaku ini bisa dipelajari dan dikembangkan.[54]

  1. Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Pada Siswa

Jiwa kepemimpinan seperti yang telah didefinisikan diatas muncul dari dua hal, ketetapan sejak lahir (diciptakan dengan jiwa kepemimpinan sejak lahir), dan  jiwa kepemimpinan muncul dengan subuah proses, baik dengan pembinaan-pembinaan maupun tuntutan-tuntutan sosial yang memperkaya model kepemimpinan dengan pengalaman hidupnya.[55]

Dimana untuk menjadi seorang pemimpin dengan hati nurani itu perlu memiliki beberapa kompetensi, antara lain: 1) Menjadi pribadi yang berkharisma. 2) Mampu memotivasi orang lain. 3) Tepat dalam mengambil keputusan. 4) andal dalam berinteraksi. 5) Team Work.[56] Gary A. Yulk. Mengemukakan Pendapat yang mengatakan kepemimpinan adalah bawaan sejak lahir mayoritas menggunakan pendekatan pemahaman melalui sifat (Trait), Perspektif sifat menyatakan, individu tertentu memiliki sifat atau kualitas alamiah khusus yang membuat mereka menjadi pemimpin dan sifat inilah yang membedakan mereka dari orang-orang yang bukan pemimpin.[57] Demikianlah berdasarakan pendekatan sifat (the trait approach) keberhasilanseorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan ditentukan pula oleh kecakapan/keterampilan (skills) pribadi pemimpin.[58]

Pada dasawarsa akhir ini, kepemimpinan lebih populer dengan kepemimpinan perubahan. Richard L. Daff mengemukakan konsep kepepemimpinan dalam satu definisi saja yaitu “kepemimpinan adalah merupakan suatu pengaruh hubungan antara pimpinan dan pengikut (followers) yang bermaksud pada perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan bersama” Dari definisi tersebut tercakup tujuh unsur yang esensial dalam kepemimpinan, (1) pemimpin (leader), (2) pengaruh (Influence), (3) pengikut (Follower), (4) maksud (Intention), (5) Tujuan bersama (shared purpose), (6) Perubahan (change), (7) tanggung jawab pribadi (Personal responbility).[59]

Semua manusia akan menjadi pemimpin, seperti dalam QS. Al-An’am ayat 165, berbunyi :

Artinya : Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah dibumi dan Dia mengangkat (Derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk menguji atas karunia yang diberi-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-An’am : 165)[60]

 

Dalam hal ini biasanya menggunakan pelatihan kepemimpinan formal yang bertema kepemimpinan atau kegiatan penguatan kepemimpinan yang tanpa harus menyebutkan kata kepemimpinan namun mempunyai tujuan yang sama yaitu penguatan jiwa kepemimpinan. Muatan Khusus Pelatihan Guna Meningkatkan Kepemimpinan pada siswa :

Selain menyusun perencanaan yang efektif di atas sangat perlu menggunakan teknik khusus dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa. Tiga teknik yang telah luas digunakan adalah pembuatan model peran prilaku, kasuistik dan simulasi berskala besar.[61]

Pelatih harus meninjau trainee secara berkala mengenai bagaimana mereka dikembangkan dengan contoh panutan dan apa yang mereka lakukan untuk mempercepat pengembangan di masyarakat ataupun dunia kerja. Karena sebagian besar dari orang ingin kesuksesan, melakukan langkah ini dengan baik akan membantu untuk menarik atau mempertahankan tranee kedalam kelompok kerja.[62]

  1. Ciri-ciri pribadi kepemimpinan yang bertanggung jawab

Leadership Coach dan Motivator, Ainy Fauziah menyebutkan delapan ciri pribadi yang bertanggung jawab, diantaranya:

  1. Melakukan apa yang ia ucapkan, bukan tidak melakukan apa yang telah ia ucapkan.
  2. Komunikatif, baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan, maupun klien.
  3. Memiliki jiwa “melayani” dengan sepenuh hati sekaligus menghilangkan pemikiran ‘siapa yang butuh, dia yang harus menghubungi saya’.
  4. Menjadi pendengar yang baik termasuk hal-hal yng bersifat masukan, ide, teguran, maupun sanggahan yang menunjukkan perbedaan pendapat.
  5. Berani meminta maaf sekaligus menanggung beban atas kesalahan yang ia lakukan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
  6. Peduli pada kondisi, baik kondisi temn, anggota tim, atasan, maupun bawahan.
  7. Bersikap tegas.
  8. Menentukan tujuan pelaksanaan kerja realitas (dalam arti kuantitas, kualitas, keamanan, dan sebagainya)
  9. Melengkapi para karyawan dengan sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya.
  10. Mengkomunikasikan pada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka.
  11. Memberikan susunan imbalan atau’ hadiah yang sepadan untuk mendorong prestasi.
  12. Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang  partisipasi apabila memungkinkan.
  13. Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaas yang efektif.
  14. Menilai pelaksanaan pekerja dan mellgkomunikasikan
  15. Menunjukan perhatian   kepada  bawahan,  yang   penting   dalam   hal   inl  adalah tanggung   jawab    dalam   memadukan   seluruh   kegiatan   dan   mencapai   tujuan organisasi tersebut  secara harmonis, sehingga tercapainya  tujuan  organisasi yang efektif dan efisien.
  16. Rajin memberi apresiasi. Apresiasi tidak selau berarti hadiah atau bonus, melainkan ucapan terimakasih secara langsung kepada yang bersangkutan dihadapan tim.[63]

Sementara sikap orang yang tanggung jawab ketika berorganisasi sebagai berikut:

  1. Mau menanggung akibat perbuatannya

Orang yang bertanggung jawab tidak akan lari dari perbuatan yang dilakukannya. Ia akan menghadapi sanksi atau hukumannya. Sebaliknya, orang yang tidk bertanggung jawab akan lari dari resiko yang ada, ia akan melemparkannya kepada orang lain atau melakukan fitnah kepada orang lain. perbuatan mengorbankan orang lain termasuk tindakan kekerasan. Tindakan ini harus dihindari. apapun bentuk resiko kita harus menanggungnya.

  1. Tidak akan menyalahkan orang lain

Pelaku perbuatan merupakan orang pertama yang akan menanggung akibat perbuatannya yang salah. Apabila kita salah, jangan lempar batu sembunyi tangan. Kita yang berbuat maka kita yang harus memmpertanggung jawabkannya.

  1. Menyadari Kelemahan

Perbuatan yang salah harus kita sadarisebagai bentuk kelemahan atu kekurangan diri kita. Mengakui kesalahan atau  kelemahan merupakan perbuatan yang baik untuk melakukan kebaikan di kemudian hari.

  1. Berusaha Memperbaiki Diri

Upaya untuk menciptakan keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya merupakan perbuatn yang baik. Orang yang bertanggung jawab akan selalu berusaha memperbaiki diri dari segala kekurangan dan kelemahan serta kesalahan.[64]

Berdasarkan uraian tentang kepemimpinan, maka dapat dipahami bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islami memerlukan kepemimpinan yang penuh integritas. Pendidikan Islami harus konsisten dalam menjalankan operasional pendidikan, menggerakkan sistem organisasi, dan menjadi contoh teladan bagi masyarakat luas. Dengan demikian, pendidikan Islami yang terwujud di Indonesia adalah sistem pendidikan yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Manusia yang cipta bangsa Indonesia adalah cinta pendidikan bermartabat, menyelamatkan hidup manusia di dunia dan juga di akherat kelak akan selamat.[65]

Dalam kenyataannya  para pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Untuk mencapai semua itu seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam melakukan pengarahan kepada bawahannya untuk  mencapai tujuan suatu organisasi.

  1. Peranan Kepemimpinan

Menurut pendapat Stogill, yang dikutip oleh Sugandha, beberapa peranan yang harus dimiliki:

  • Integration, yaitu tindakan tindakan yang mengarah pada peningkatan koordinasi.
  • Communication, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada meningkatnya saling pengertian, penyebaran informasl (transmission of information)
  • Product Emphasis, yaitu tindakan-tindakan yang berorientasi pada volume pekerjaan yang dilakukan Fraternization, yaitu tindakan-tindakan yang menjadikan pemimpin bagian dari kelompok.
  • Organization, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada perbedaan dan penyesuaian dari pada tugas-tugas.
  • Evaluation, yaitu tindakan-tindakan yang berkenaan dengan pendistribusian ganjaran-ganjaran atau hukuman-hukuman.
  • Innitation, yaitu tindakan-tindakan yang menghasilkan perubahan-perubahan pada kegiatan organisasi.
  • Domination, yaitu tindakan-tindakan yang menolak pemikiran-pemikiran seseorang atau anggota kelompok.[66]

Daripenjelasan diatas, dapat ditarikkesimpulan bahwa pemimpin yang ideal adalahpemimpin yang berpengetahuan luas, adil,jujur,optimis,gigih,ulet,bijaksana, mampumemotivasidirisendiri, memilikihubunganbaikdenganbawahandimanasemua inidiperoleh dari pengembangan kepribadiannya sehinggaseorangpemimpin memiliki nilaitambah tersendiri dalammelaksanakantugas dankewajibannya sebagaiseorang pemimpin.

  1. Prinsip-prinsip kepemimpinan remaja

Remaja adalah pemimpin masa depan, generasi penerus, kebaggaan dan harapan bangsa, masyarakat dan keluarga. setiap remaja setidaknya memiliki panggilan jiwa untuk bersiap diri untuk menjawab tuntutan dan tantangan yang tidak ringan tersebut. Sejak kecil anda mungkin sudah diperkenalkan dengan fungsi pemimpin di sekolah. sejak bangku sekolah dasar atau bahkan sejak taman kanak kanak? anda mungkin pernah memilih atau dipilih menjadi ketua kelas? saat ini mungkin juga anda adalah seorang ketua kelas, ketua OSIS, ketua dalam organisasi, panitia kegiaatan atau juga menjadi pradana putra, dan bahkan juga pradana putri.

Banyak pula sekolah yang memberikan secara khusus kesmpatan pelatihan kepemimpinan bagi para siswanya melalui kegiatan gladian pimpinan satuan. kaderisasi atau pun apalah namanya. mereka yang mengikuti kegiatan ini biasanya akan dilantik menjadi pengurus osis, perwakilan pengurus kelas, dan bahkan anggota pramuka juga  selama mereka menjadi siswa di sekolah tersebut.

  1. Cara untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan
    1. Cara memupuk jiwa kepemimpinan

Memupuk jiwa kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. a) Mantapkan diri pada situasi apapun

Kedudukan dan kegembiraanakan dating silih berganti dalam kehidupan kita

  1. Rendah hati

Kesombongan tidak akan mengatarkan anda pada kesuksesan

  1. Melakukan apa yang di ucapkan

Banyak bicara tanpa ada tindakan harus dihaindari

  1. Memimpin dengan hati

Menghargai orang lain seperti menghargai diri sendiri.[67]

Ada beberapa hal yang harus di ketahui dan di pelajari dalam rangka menumbuhkan semangat pantang menerah dan ulet.

  1. Kegagalan

Banyak orang yangmudah gagal, takut gagal, dan tidak berkeinginan untuk mewujudkan hidup yang lebih baik. Banyak di antara mereka yang kemudian mengeluh,menyalahkan orang lain danmenghibur dirinya dengan mengatakan dirinya memang di takdirkan hidup miskin.

  1. Modal

Modal harus dimiliki oleh setiap pengusaha yang sukses namun hal ini pulalah yang menghambat orang untuk berwirausaha. Tidak sedikit dari mereka yang berfikir berwirausaha harus memiliki modal yang besar. Selain modal uang masih banyak modal lainnya yang bisa di pakai untuk memulai menjadi wirausaha :

  1. Ide

Banyak wira usaha sukses dengan bermodal ide usaha yang cermelang. Buatlah proposal yang berisi peluang dan ide kreatifuntuk di tawarkan ke rang lain dengan sistem bagi hasil.

  1. Pengalaman

Pengalaman kerja yang telah anda miliki selama di sekolah, dan mungkin ikut usaha teman untuk memajukan wirausaha. Hal ini karena anda sudah memiliki pengalaman dan telah menguasai pasar dan industrinya. Pengalaman sangat penting sebagai mdal awal berwirausaha terutama bila anda belum memiliki modal uang cukup. Modal pengalaman terdiri dari :

  1. Latar belakang pendidikan.
  2. Pengetahuan yang dimiliki.
  3. Pengalaman selama anda mencoba atau mengetahui orang lain menjalankan usaha.
  1. Kreativitas

Adalah pendangan bagi orang yang ingin mengubah kesulitan menjadi peluang.  Jika anda memunyai kreativitas, anda pasti mempunyai banyak ide dan inspirasi.

 

 

  1. Jaringan

Selain pengalaman pasti anda mempunyai jaringan seperti teman dll. Memanfaatkan jaringan  sudah sering digunakan untuk memulai belajar berwirausaha seperti bisnis[68]

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Tinjauan Tentang Hizbul Wathan (HW)
    1. Definisi Hizbul Wathan

Kegiatan Hizbul wathan sangat diperlukan dalam sekolah muhammadiyah guna menumbuhkan jiwa leadership siswa. Hizbul wathan adalah sama halnya pramuka. Adapaun identitas Hizbul wathan, yakni HW adalah kepanduan islami, artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik berakhlak mulia” dan juga “organisasi otonom muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik anak didik, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan”.

HW yang artinya Pembela tanah air, adalah nama gerakan kepanduan dalam Muhammadiyah. Kepanduan adalah sistem pendidikan luar keluarga dan sekolah yang membentuk dan membina watak anak, remaja dan pemuda dengan metode menarik, menyenangkan dan menantang serta dilaksanakan di alam terbuka. Gerakan Kepanduan HW adalah organisasi ortonom di lingkungan Muhammadiyah yang khusus dalam bidang kepanduan. Pandu HW adalah anggota Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.[69]

 

  1. Sejarah dan detik-detik peristiwa lahirnya Hizbul Wathan

Gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW) merupakan salah satu organisasi ortonom di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka disekolah Muhammadiyah. Hizbul Wathan merupakan kegiatan yang sejenis dengan pramuka, yang berperan dalam membentuk karakter peserta didik. Hizbul Wathan didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 1336 H/1918 Masehi yang di prakarsai oleh KH. Ahmad Dahlan, yang merupakan tokoh pendiri pergerakan Muhammadiyah. Gerakan kepanduan Hizbul Wathan ini termasuk dalam ekstrakurikuler bentuk krida.[70]

Hizbul Wathan adalah sebuah ortonom Muhammadiyah yang bergerak dibidang kepanduan, Hizbul wathan biasa disebut dengan HW. Bahkan, HW pun merupakan satu-satunya kepanduan Islam diakui di Indonesia ini. HW ini didirikan oleh K.H.Ahmad Dahlan do yogyakarta, tepatnya di kauman. Awal mula berdirinya kepanduan ini, karena kekaguman K.H A. Dahlan  sewaktu melihat barisan yang rapi nan indah dengan memakai seragam bagus, yang sedang latihan di Pura Mangkunegaran, solo. Beliau melihat itu sepulang dari pengajian STAV yang diadakan setiap Ahad. Barisan itu itu bernama J.P.O (Javaansche Padvinders Organisatue). Sepulang dari Solo, beliau memanggil Bpk. Somodirdjo dan Bpk. Syarbini untuk membicarakan perihal yang sangat menarik perhatian beliau.[71]

Pada tahun 1336 H bertepatan dengan 1918 M, kepanduan HW resmi berdiri. Tapi, namanya waktu itu adalah “Padvinder Muhammadiyah” (Kepanduan Muhammadiyah), yang kemudian berganti nama menjadi “Hizbul Wathan” dan mempunyai arti “Pembela Tanah Air”. Pergantian nama ini dilakukan dirumah Bpk. H. Hilal di Kauman, dan nama hizbul Wathan ini diterima atas usulan Bpk. Hadjid.

Namun, pada tahun 1943, kepanduan Hizbul Wathan bersama dengan kepanduan lainnya dibubarkan oleh pemerintah penjajahan Jepang. Kemudian, dengan segala upaya pada tanggal 29 Januari 1950 Hizbul Wathan bangkit kembali dengan perubahan-perubahan. Tapi, sungguh sayang pada tanggal 9 Maret 1961, berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor : 238/ 61, kepanduan Hizbul Wathan dan kepanduan lainnya dilebur ke dalam pramuka.

Setelah tertidur lama, pada tanggal 10 Sya’ban 1420 H atau bertepatan pada tanggal 18 November 1999 M. Kepanduan Hizbul Wathan dibangkitkan kembali oleh pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Surat Keputusan No : 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 M dan dipertegas dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor : 10/KEP/1.O/B/2003 M.[72]

Pada suatu hari dipanggilnya oleh K.H. Ahmad Dahlan beberapa guru Muhammadiyah : Bapak Somodirjo (mantri guru Standard School Suronatan, sekarang menjadi SD Suronatan), bersama seorang pembantunya : Bapak Syarbani dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari sekolah Muhammdiyah Kota gede.

Dengan secara kekeluargaan K.H. Ahmad Dahlan sedikit mempersoalkan perjalanannya bertabligh ke Solo, ialah kedatanganya tiap hari Sabtu malam (malam minggu) di pengajian S.A.T.V (Sidik Amanat Tabligh Vatonah) di pendopo rumah Kyai Imam Muchtar Buchori di Kauman Solo. Selanjutnya Kyai berkata kepada para guru tersebut: “Saya tadi pagi di Solo pulang dari Tabligh, sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun, melihat anak banyak berbaris, setengahnya sedang bermain- main, semuanya berpakaian seragam. Baik sekali! Itu apa?”.

Gerakan berbaris semakin ramai. Oleh umum dinamakan “Padvinder Muhammadiyah”. Nama Padvinder Muhammadiyah menjadi populer, juga dalam lingkungan Muhammadiyah. Oleh karena itu oleh hoofbestuurMuhammadiyah pengawasan terhadap Padvinderij itu diserahkan kepada Muhammadiyah Oleh  Bg. Sekolahan dibentuklah pengurusnya :

Ketua               : H. Muchtar

Wakil Ketua    : H. Hadjid

Sekretaris        : Somodirdjo

Keuangan        : Abd. Hamid

Organisasi        : Siradj Dahlan

Komando        : Sjarbini, Damiri

Untuk memajukan gerakan Padvinderij itu direncanakan akan mengambil pelajaran dari Solo kepada J.P.O. Persiapan dikerjakan. Untuk meriahkan keberangkatan ke Solo, maka telah diputuskan oleh Bg. Sekolahan, akan memberikan uniform dengan diangsur pembayarannya. H. Nawawi diutus berbelanja ke Semarang. Dibelinya kain drill kuning, kain biru dan setangan leher. Untuk setangan leher karena yang mudah didapat ialah kacu merah berbintik-bintik hitam (kacu “kedele kecer”), maka kacu itulah yang dibelinya. Uniform disiapkan. Hari keberangkatan ke Solo, berjamu kepada J.P.O telah ditetapkan. Yang boleh ikut hanyalah mereka yang telah beruniform. Pada suatu sore uniform dibagikan. Paginya hari Ahad barisan “Padvinder Muhammadiyah” dengan uniformnya yang baru itu pergi ke Solo, dengan diantarkan oleh Kiyai H.Hisjam sebagai ketua bg. Sekolahan.[73]

Dalam suatu sidang pengurus dibentangkan mengenai nama, di rumah Bp. H. Hilal Kauman. Oleh R.H. Hadjid diajukan nama yang sekiranya dapat sesuai dengan keadaan masa dan mengingat pula pergolakan-pergolakan di luar negeri sehabis perang dunia I, ialah nama Hizbul Wathan yang berarti “Golongan yang cinta tanah air”. Dengan kata sepakat nama itulah yang dipakai untuk mengganti nama “Padvinder Muhammadiyah”. Kejadian ini waktuya bertepatan dengan peristiwa akan turunnya dari tahta Paduka Sri Sultan VII di Jogjakarta. Untuk turut menghormat dan akan ikut mengiringkan pindahnya Sri Sultan VII dari Keraton ke Ambarukmo, diadakan persiapan-persiapan dan latihan-latihan. Pada tanggal 29 Jumadil awal 1851 bertepatan dengan 30 Januari 1921, barisan HW keluar turut mengiringkan Sri Sultan pindah dari keraton ke Ambarukmo (“Jengkar Dalem dateng Ambarukmo”).[74]

Pada waktu itu gerakan padvinderij yang dapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam N.I.P.V tersebut. M. Raneff seorang pemimpin dari N.I.P.V dan yang memegang perwakilan N.P.V telah datang di Jogja menemui HW, mengajak supaya HW masuk dalam organisasi N.I.P.V. Usaha-usaha Komisaris N.I.P.V (Raneff) tiada hentinya untuk menarik HW menjadi anggota N.I.P.V sehingga ketika Kongres Muhammadiyah tahun 1926 di Surabaya, ia mengambil inisiatip mengikuti HW dalam Kongres Muhammadiyah dari semula sampai akhirnya. Selanjutnya diadakan pertemuan lagi di Jogjakarta oleh Wakil N.I.P.V. mengajak HW masuk ke dalam organisasi N.I.P.V. Tetapi, HW tetap ingin mempertahankan kedaulatannya, tiada dapat menerima tawaran dari M. Raneff tersebut, karena HW adalah HW bukannya seperti biasanya disebut padvinder. HW mempunyai prinsip-prinsip yang sukar diterima oleh “padvinder”. Karena akan menyalahi prinsip-prinsip sebagai padvinder. Adapun HW jika akan dikatakan “itu bukannya padvinder”, bagi HW tiada akan keberatan suatu apa, bagi HW adalah Hizbul Wathan, mau dikatakan itu padvinder terserah yang mau mengatakannya.

  1. Dokumen Penting Tahun Sejarah Hizbul Wathan
  1. Tahun 1918

Atas perintah KH. Ahmad Dahlan agar Muhammdiyah mendirikan organisasi kepanduan. Dipelopori oleh Bp. Syarbini dan Bp. Somodirjo (Yogya) didirikanlah organisasi kepanduan dalam Muhammadiyah dengan nama Padvinder Muhammdiyah

  1. Tahun 1920

Nama Padvinder Muhammdiyah diganti dengan Hizbul Wathan (Golongan yang cinta tanah air).

  1. Tahun 1961

Ir. Sukarno (Presiden RI Pertama) mengintruksikan ± 60 organisasi kepanduan di Indonesia untuk menjadi atau organisasi kepanduan yang dinamakan dengan Pramuka.

Tanggal 15 Maret 1961 : Maklumat Keputusan PP Muhammdiyah :

  • Memenuhi dan mematuhi perintah Presinden
  • Meniadakan organisasi Hizbul Wathan

Tanggal 11 April 1961 : Dibentuk panitia pembentukan Gerakan Pramuka

Tanggal 25 Mei 1961 : Kepres No. 238 – 1961 :

  • Penyelenggaraan Pendidikan Kepanduan ditugaskan kepada perkumpulan Gerakan Pramuka
  • Gerakan Pramuka adalah satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan

Badan-badan yang sejenis (sama) sifatnya atau menyerupai Gerakan Pramuka dilarang.

Tanggal 8 Juni 1961 : Majelis HW Yogyakarta menyatakan bersedia meleburkan diri dalam perkumpulam Gerakan Pramuka.

Tanggal 14 Agustus 1961 : Hari Pramuka

  1. Tahun 1980

Pada Muktamar Muhammdiyah di Surabaya sudah terdengar pembicaraan-pembicaraan mengenai kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

  1. Tahun 1985

Pada Muktamar Muhammdiyah di Solo sudah terdengar pembicaraan-pembicaraan mengenai kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

  1. Tahun 1990

Pada Muktamar Muhammdiyah di Yogyakarta juga disertakan pawai alegoris pandu HW

  1. Tahun 1995

Pada Muktamar Muhammdiyah di Aceh gencar lagi pembicaraan-pembicaraan mengenai kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

  1. Tahun 1996

Yaitu tanggal 21 sd 23 Maret 1996 sebagai tindak lanjut dari pembicaraan pada Muktamar Muhammadiyah di Aceh terealisasi dengan diadakannya Reuni Nasional Pandu Hizbul Wathan Wreda dan ada perwakilan dari Pandu NA.

  1. Tahun 1996-1998

Pertemuan-pertemuan rutin pandu HW Wreda dan Pandu NA yang membahas perlunya dibangkitkannya kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dengan mempertimbangkan konsep baru yang selaras dengan kondisi generasi muda pada saat ini.

  1. Tahun 1998

Sebagai hasil rumusan pertemuan ruitn maka dibuatlah proposal Kebangkitan Kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan disampaikan dan di bicarakan dalam sidang Tanwir Muhammadiyah di Semarang pada bulan Juli 1998 dilanjutkan pada bulan Septembeer 1998 pada sidang pleno PP Muhammdiyah yang membahas perlunya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di bangkitkan

  1. Tahun 1999

Pertemuan Pengurus Pandu HW dan NA dengan PP Muhammdiyah pada bulan Mei 1999 sebagai persiapan segala sesuatunya untuk Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Sarasehan dan lokakarya Nasional pada tanggal 24-25 Juli 1999 bertepatan tanggal 11-12 Rabiutssani 1420 H membicarakan kebangkitan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Sebagai puncaknya pada tanggal 18 November 1999 bertepatan dengan 10 Sya’ban 1420 H Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dideklarasikan Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta

  1. Sifat HW

HW adalah sistem pendidikan untuk anak, remaja, dan pemuda di luar lingkungan keluarga dan sekolah, HW memiliki sifat antara lain :

  1. Bersifat nasional, artinya ruang lingkup usaha HW meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Repulik Indonesia.
  2. Bersifat terbuka, artinya keanggotaan HW terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan gender, usia, profesi, atau latar belakang pendidikan. Penggolongan keanggotaan HW menurut usia hanyalah untuk membedakan status sebagai peserta didik atau anggota dewasa (pembina)
  3. Bersifat sukarela, artinya dasar seseorang menjadi anggota HW adalah suka dan rela, tanpa paksaan atau tekanan orang lain.
  4. Tidak berorientasi pada politik, artinya secara organisatoris HW tidak berafiliasi kepada salah satu partai politik dan HW tidak melakukan aktivitas politik praktis. Induk organisasi HW adalah Persyarikatan Muhammadiyah.
    1. Identitas HW
  5. HW adalah kepanduan islami, artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik berakhlak mulia.
  6. HW adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik anak, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan.[75]
    1. Ciri Khas HW
  7. Ciri khas HW adalah Prinsip Dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan, yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan. Pelaksanaannya disesuaikan kepentingan, kebutuhan, situasi, kondisi masyarakat, serta kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah.
  8. Prinsip Dasar Kepanduan adalah
  1. pengamalan akidah Islamiyah;
  2. pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam;
  3. pengamalan kode kehormatan pandu.
    1. Metode Kepanduan
  4. Pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu;
  5. Kegiatan dilakukan di alam terbuka;
  6. Pendidikan dengan metode yang menarik, menyenangkan, dan menantang;
  7. Penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan;

Sistem satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri.[76]

  1. Usaha HW

Dalam mencapai maksud dan tujuan yang telah diterangkan di atas, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan berusaha :

  1. Mengembangkan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di seluruh Indonesia.
  2. Mengadakan pendidikan dan pelatihan kepanduan bagi anak, remaja, dan pemuda muslim.
  3. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk para pelatih, pimpinan, dan pemimpin anak didik.
  4. Menyelenggarakan pendidikan kepanduan Islami.
  5. Mengadakan kerjasama kelembagaan di dalam dan di luar negeri.
  6. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
  7. Tujuan HW
  • Menjadikan manusia yang berarti, bertaqwa kepada Allah, berbudi luhur, kuat mental dan bermoral tinggi.
  • Memiliki kecerdasan yang tinggi dan mempunyai ketrampilan yang handal.
  • Berbadan sehat, kuat, tangkas jasmaninya.
  • Menjadi warga Negara RI yang setia, patuh serta menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara.
  1. Keanggotaan dan Keorgansisasian

Anggota Kepanduan Hizbul Wathan adalah warga negara Republik Indonesia, beragama Islam, yang terdiri dari :

  1. Anggota Biasa adalah peserta didik putera dan puteri yang dikelompokkan menjadi:
    1. Athfal : berumur 6 sampai 10 tahun
    2. Pengenal : berumur 11 sampai 16 tahun
    3. Penghela : berumur 17 sampai 20 tahun
    4. Penuntun : berumur 21 sampai 25 tahun
  2. Anggota Pembina adalah mereka yang tugas utamanya memimpin dan atau melatih peserta didik serta mengelola dan atau memimpin Kwartir atau Qabilah. Anggota pembina terdiri dari pelatih, Instruktur, Pemimpin Satuan, dan Pimpinan Kwartir atau Qabilah.
  3. Anggota Kehormatan adalah para pecinta Kepanduan Hizbul Wathan, yang karena usia, kesehatan, atau kesibukan kerja tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepanduan. Anggota Kehormatan terdiri dari:
    1. Pandu Wreda Hizbul Wathan dan Pandu Wreda Nasyiatul ‘Aisyiyah.
    2. Orang yang berjasa dalam pengembangan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
    3. Simpatisan Kepanduan Hizbul Wathan.

Jenjang organisasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan diatur sejajar dengan jenjang organisasi di Persyarikatan Muhammadiyah, sebagai berikut:

  1. Di tingkat PP Muhammadiyah disebut Kwartir Pusat
  1. Di tingkat PW Muhammadiyah disebut Kwartir Wilayah
  2. Di tingkat PD Muhammadiyah disebut Kwartir Daerah
  3. Di tingkat PC Muhammadiyah disebut Kwartir Cabang
  4. Di tingkat PR Muhammadiyah disebut Qabilah
  5. Kepemimpinan
  6. Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan atau leadership dapat diartikan sebagai satu kekuatan atau ketangguhan yang bersumber dari kempuan untuk mencapai cita-cita dengan keberatan mengambil resiko yang bakal terjadi. Secara etimologi kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang berarti dibimbing atau dituntun.[77]  Kata kepemimpinan mendapat awalan “ke” dan sisipan “em” dan akhiran “an”.

Menurut tata bahasanya awalan “ke” dan “ke-an” berfungsi sebagai pembentuk kata benda yang mengandung arti atau peristiwa. Sedangkan sisipan “em” pada kata pemimpin membentuk kata baru yang artinya tak berbeda dengan kata dasarnya, artinya sisipan “em” disini mengandung sifat. Jika pemimpin berasal dari kata “pimpin”, imbuhan “pe” mempunyai arti orang yang melakukan, jadi pemimpin adalah orang yang memimpin.[78]

Saat kita mendengar kepemimpinan, kita akan disuguhkan dengan angan seseorang yang mempunyai jabatan, orang yang kuat, yang berpengaruh serta bisa mengendalikan orang lain untuk tujuan bersama. Dari angan seperti itu menurut beberapa pakar yang fokus terhadap bahasan kepemimpinan ada benarnya, namun kepemimpinan sejatinya tidak hanya untuk seseorang yang diamanati sebuah jabatan yang tinggi untuk memimpin, karena kepemimpinan adalah proses individu mempengaruhi individu lain untuk mencapai tujuan bersama.[79]

Pembahasan mengenai kepemimpinan lebih banyak mengenai gaya dan perilaku. Dari sekian banyak pembahasan mengenai gaya dan perilaku kepemimpinan tersebut, pembahasan yang jarang ditemukan adalah mengenai kepemimpinan empati. Salah satu sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah empati, yakni sikap menyelami kondisi faktual, aspirasi, bahkan suasana batin orang-orang yang dipimpinnya. Hal tersebut tercermin dalam diri Rasulullah yang disebutkan dalam Q.S at-Taubah ayat 128.

Artinya : Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

 

Rasulullah menjadi pemimpin yang memiliki sifat melayani serta memiliki rasa kasih sayang dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih sayang itu terwujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.[80] Pemimpin harus sensitif dalam berinteraksi, baik terhadap bahasa verbal, nada suara, maupun nonverbal atau bahasa tubuh. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya interaksi antara satu orang dengan yang lain. Jadi, pemimpin membutuhkan kemampuan interaksi yang baik.

Dari definisi tersebut kata pengaruh menjadi poin penting, setiap individu yang bisa mempengaruhi berarti ia telah mengantongi sebuah kepemimpinan, karena meski mendapat jabatan yang tinggi namun tidak bisa berpengaruh maka bisa dipastikan kepemimpinannya tidak eksis.[81]

Selanjutnya elemen penting kepemimpinan adalah tujuan bersama, hubungan mempengaruhi dengan tujuan adalah sebuah elemen yang tidak bisa dipisahkan, bisa dianalogkan dengan mata uang yang saling melengkapi, dari bahasanya tersebut (pengaruh dan tujuan) maka kepemimpinan selalu terjadi didalam kelompok.[82] Kelompok  tersebut bisa saja dari komunitas, kelompok kerja kecil, atau kelompok besar di suatu organisasi-organisasi besar dalam kelompok tersebut seseorang atau pemimpin mengarahkan energi mereka kepada individu untuk mencapai tujuan bersama, jadi kepemimpinan juga ada karena terdapat pemimpin (Leaders) dan yang dipimpin (Followers). Dua tersebut sangat mempunyai hubungan erat, karena pemimpin butuh dengan pengikut dan pengikut membutuhkan pemimpin. Meski semacam itu pemimpinlah yang lebih dulu mempertahankan hubungan, mengawali jalinan komunikasi intensif disetiap permasalahan.

Kepemimpinan merupakan bentuk yang kompleks dari pemecahan masalah sosial. Dari mumford ini tidak ada konsep sederhana tentang kepemimpinan, dalam mempelajarai apa itu kepemimpinan semua butuh telaah yang mendalam, pengamatan yang terus menerus, dukungan terpentingnya adalah lingkungan, dukungan lingkungan akan mempengaruhi sikap dalam mengambil langkah serta pemecahan masalah. dari pemecahan masalah tersebut ia akan berusaha berinteraksi untuk mendapat dukungan dengan cara mempengaruhi, mengarahkan bahkan mengorganisir.

Dari beberapa pemaparan tentang kepemimpinan dapat diambil garis besar, yaitu kepemimpinan terdapat didalam situasi hubungan individu atau kelompok individu pada proses mempengaruhi, mengarahkan, membimbing, menggerakkan,  sehingga mereka bisa berbuat dan bertanggung jawab, perbuatan itu merupakan sumbangan dalam pencapaian tujuan tertentu. Jiwa kepemimpinan disini melibatkan sisi rasional dan emosional yang didasari oleh logika serta inspirasi dan panggilan jiwa, Sehingga jiwa kepemimpinan akan menyentuh perasaan orang lain untuk patuh, serta  jiwa kepemimpinan akan lebih mudah mempunyai resonansi atau getaran jiwa yang bisa menyalur dari jiwa seorang ke orang lain.[83] Kepemimpinan juga adalah suatu ilmu dan harus dipelajari serta di tanamkan dengan konsisten dan ikhlas. Seperti yang dikatakan oleh Al-Ghazali : “Dulu kita menuntut ilmu tidak dengan ikhlas karena Allah. Akan tetapi, ternyata ilmu tidak mau dicari kecuali dengan ikhlas karena Allah”.[84] Dari pernyataan beliau, semua ilmu harus dengan ridho Allah supaya bisa tertaman dengan baik dan konsisten.

  1. Tipe Kepemimpinan
    1. Tipe Otokratis (Autoritorian Leader Type)

Kepemimpinan Otokratis mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus di patuhi.[85] Sikap dan prinsipnya sangat konservatif, pemimpin dalam konsep kepemimpinan otokratis selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada one man show, sebab setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa komunikasi dengan bawahannya. Jenis kepemimpinan ini dicirikan oleh pemimpin-pemimpin yang tegas serta faktral dan pengawasan yng ditentukan dengan teliti.

Pemimpin dengan tipe otokratis banyak kita jumpai dalam pemerintah fuendal pada abad pertengahan sampai pada zaman perang Dunia II.

  1. Tipe Karismatik (Charismatic Leader Type)

Tipe Kepemimpinan karismatik dapat diartikan sebagai kepemimpinan yang menggunakan keistimewaan atau kelebihan sifat kepribadian dalam mempengaruhi pikiran perasaan dan tingkah laku orang lain, sehingga dalam suasana batin mengagumi dan mengagungkan pemimpin-pemimpin bersedia berbuat sesuatu yang dikehendaki pemimpin.[86]

Dalam buku Yulk. Gary A,[87] Disamping empat macam pokok pendekatan studi kepemimpinan tersebut, erat berkaitan dengan kewibawaan seorang pemimpin ada yang disebut pendekatan karismatik atai charismatic approach atau “Teori kepemimpinan Karismatik” (Theory of Charismatic Leadership). Teori ini dikemukakan oleh R.J. House.[88]

  1. Tipe Militeristik

Dalam kepemimpinan militeristik sifat pemimpin yang tergolong dalam memiliki sifat-sifat ini antara lain sebagai berikut:

  1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando terhadap bawahan.
  2. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
  3. Sangat menyenangi formalitas, ucapan-ucapan ritual dan tanda kebesaran yang berlebihan.
  4. Menuntut adanya disiplin kerja.
  5. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti. Dan kritikan-kritikan dari bawahan serta Komunikasi hanya berlangsung searah saja.
  1. Tipe Paternalis

Paternalis merupakan tipe pemimpin yang memposisikan diri sebagai Bapak dan anggota dalam lembaganya adalah sebagai anak atau dianggap sebagai manusia yang belum dewasa. Pemimpin paternalis selalu merasa serba tahu sehingga anggota lembaga jarang diberikan kesempatan untuk berinisiatif, untuk mengembangkan daya kreasi apalagi mengambil kebijakan lembaga. Dalam tipe paternalis memang lebih mengedepankan azas kekeluargaan. Sehingga sifat kekerasan dan intimidasi tidak pernah untuk dijumpai.

  1. Laissez-faire
    1. kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu, dengan partisipasi minimal dari pemimpin
    2. bahan-bahan yang bermacam-n;acam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberikan informasi pada saat ditanya. Dia tidak mengambil bagian dari diskusi kerja.
    3. Sarna sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas.
    4. Kadang-kadang memberi komentar  sponsor  terhadap  kegiatan  anggota  atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian.

Menurut W.J Reddin dalam artikel nya What Kind Of Manager, dan dikutip oleh Wahjosumidjo (Dept.P&K, Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai,1982) sebagaimana dikutip oleh Kartini Kartono, menentukan watak dan tipe pemimpin atas tiga pola dasar,yaitu:

  1. Berorientasi pada tugas (task orientation)
  2. Berorintasi hubungan kerja (relationship orientation)[89]
  1. Fungsi Kepemimpinan

Fungsi berasal dari kata “function” yang berarti jabatan atau kedudukan.[90] Kata fungsi adalah kata benda yang menyatakan suatu posisi dengan kata lain kata fungsi mencerminkan sesuati yang statis. Dari pengertian kata fungsi dan pengertian kepemimpinan yang telah diperjelas atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi kepemimpinan yaitu suatu posisi dimana seorang pemimpin dapat memfungsikan dirinya sebagai orang yang dapat memimpin disekeliling dirinya. Seorang pemimpin berfungsi sebagai orang yang mampu menciptakan perubahan secara efektif di dalam penampilan kelompok serta menggerakkan orang lain sehingga secara sadar orang lain tersebut mau melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.[91]

Berbicara mengenai fungsi kepemimpinan menurut Veithzal Rivai dalam bukunya “Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi”. Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situai sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang menyelenggarakan bahwa setiap pemimpin berada di dalam bukan di luar situasi itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi snatar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi.[92]

Artinya : Pemuda masa kini adalah bakal pemimpin masa depan. Sesungguhnya pada tangan kekuasaanmu memecahkan problema masyarakat. Karena itu, maju teruslah kamu, bagaikan majunya seekor harimau yang gagah berani. Dan bangkitlah semangat juang bergemuruh dan gegap gempita, niscaya dengan karyamu itu masyarakat hidup sejahtera.[93]

Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi interaksi sosial yang harus diperhatikan.

  • Dimensi kemampuan pemimpin mengarahkan (direction)

Dimensi ini merupakan aktivitas yang berisi tindakan-tindakan pemimpin dalam interaksi dengan anggota organisasi yang mengakibatkan semuanya untuk berbuat sesuatu dibidang masing-masing, yang tertuju pada tujuan organisasi. Dimensi ini tidak boleh dilihat dari segi aktivitas pemimpin, tetapi nampak dalam aktivitas anggota organisasi lainnya.

  • Dimensi tingkat dorongan (Support) dari anggota organisasi

Dimensi ini terbentuk keikut sertaan (keterlibatan) anggota organisasi dalam kegiatan melaksanakan tugas-tugas pokoknya.

Ada empat macam tugas penting seorang pemimpin :

  1. Mendefinisikan misi dan peranan organisasi (involves the definition of the institutional organizational mission and role)
  2. Fungsi kedua seorang pemimpin adalah merupakan pengejawantahan tujuan organisasi (the institutional embodiment of purpose)
  3. Mempertahankan keutuhan organisasi (to defend the organization’s integration)
  4. Tugas terakhir seorang pemimpin adalah mengendalikan konflik internal yang terjadi didalam organisasi (the ordering of internal conflict).[94]
  1. Syarat-Syarat Kepemimpinan

Seorang pemimpin bukanlah hanya seorang yang dapat memimpin saja tetapi harus dikembangkan lagi yaitu kemampuan dan kualitas yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri, salah satu yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah syarat-syarat kepemimpinan yang akan dikemukakan oleh Kartono bahwa kemampuan pemimpin dan syarat yang harus dimiliki adalah:

  1. Kemandirian, berhasrat untuk melakukan tindakan secara individual (individualisme).
  2. Besarnya rasa keingintahuan, untuk mengetahui sesuatu yang belum dia ketahui.
  3. Multi terampil atau memiliki kepandaian beraneka ragam.
  4. Memiliki rasa humor, antusiasme tinggi, suka berkawan.
  5. Perfeksionis, serta ingin mendapatkan yang sempurna.
  6. Mudah menyesuaikan diri,adaptasi tinggi.
  7. Sabar namun ulet.
  8. Waspada, peka, jujur, optimis, berani, gigih, dan realistis.
  9. Komunikatif serta pandal berbicara atau berpidato.
  10. Berjiwa wiraswasta.
  11. Sehat jasmani, dinamis,sanggup dan suka menerima tugas yang berat, serta berani mengambil resiko.
  12. Tajam firasatnya, tajam dan adil pertimbangannya.
  13. Berpengetahuan luas dan haus akan ilmu pengetahuan.
  14. Memiliki motivasi tinggi, dan menyadari target atau tujuan  hidupnya  yang ingin di capai, dibimbing idealisme tinggi.
  15. Punya imajinasi tinggi, daya kombfnasi dan daya inovasi.[95]

 

Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang berpengetahualuas, adil, jujur, optimis, gigih, ulet, bijaksana, mampu memotivasi diri sendiri, memiliki hubungan baik dengan bawahan dimana semua ini diperoleh dari pengembangan kepribadiannya sehingga seorang pemimpin memiliki nilai tambah tersendiri dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin.

  1. Ciri-Ciri dan Indikator Kepemimpinan

Menurut Davis yang dikutip oleh Reksohadiprojo dan Handoko[96], ciri-ciri utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

 

  1. Kecerdasan (Intelligence)

Penelitian-penelitian pada umumnya menunjukkan bahwa seorang pemimpin    yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya, tetapi tidak sangat bebrbeda.

  1. Kedewasaan, Sosial dan Hubungan Sosial yang luas ( Social maturity and Breadht) Pemimpin cenderung mempunyai emosi yang stabil dan dewasa atau matang, serta mempunyai kegiatan dan perhatian yang luas.
  2. Motivasi diri dan dorongan berprestasi

Pemimpinan secara relatif mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi, mereka bekerja keras lebih untuk nilai intrinsik.

  1. Sikap-sikap hubungan manusiawi

Seorang pemimpin  yang  sukses  akan mengakui harga  diri dan martabat  pengikut­pengikutnya, mempunyai perhatian yang tinggi dan berorientasi pada bawahannya.

Menurut Siagian indikator-indikator   yang  dapat  dilihat  sebagai berikut:

  1. Iklim saling mempercayai
  2. Penghargaan terhadap ide bawahan
  3. Memperhitungkan perasaan para bawahan
  4. Perhatian pada kenyamanan kerja bagi para bawahan
  5. Perhatian pada kesejahteraan bawahan
  6. Memperhitungkan faktor kepuasan kerja para bawahan dalam menyelesaikan tugas tugas yang dipercayakan padanya
  7. Pengakuan atas status para bawahan secara tepat dan profesional[97]

Indikator kepemimpinan bukan terletak pada sifat, karena sifat apa pun yang kita miliki mempunyai peluang untuk menjadi seorang pemimpin. Indikator kepemimpinan bukan terletak pada popularitas, karena popularitas tidak berkorelasi terhadap kinerja. Indikator kepemimpinan terletak pada perilaku, sesuatu yang menjadikan kondisi tidak ada menjadi ada, dari yang kecil menjadi besar, dari gelap menjadi terang, dan sesuatu yang rendah menjadi bermakna. Berita baik dari ini semua adalah bahwa perilaku ini bisa dipelajari dan dikembangkan.[98]

  1. Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Pada Siswa

Jiwa kepemimpinan seperti yang telah didefinisikan diatas muncul dari dua hal, ketetapan sejak lahir (diciptakan dengan jiwa kepemimpinan sejak lahir), dan  jiwa kepemimpinan muncul dengan subuah proses, baik dengan pembinaan-pembinaan maupun tuntutan-tuntutan sosial yang memperkaya model kepemimpinan dengan pengalaman hidupnya.[99]

Dimana untuk menjadi seorang pemimpin dengan hati nurani itu perlu memiliki beberapa kompetensi, antara lain: 1) Menjadi pribadi yang berkharisma. 2) Mampu memotivasi orang lain. 3) Tepat dalam mengambil keputusan. 4) andal dalam berinteraksi. 5) Team Work.[100] Gary A. Yulk. Mengemukakan Pendapat yang mengatakan kepemimpinan adalah bawaan sejak lahir mayoritas menggunakan pendekatan pemahaman melalui sifat (Trait), Perspektif sifat menyatakan, individu tertentu memiliki sifat atau kualitas alamiah khusus yang membuat mereka menjadi pemimpin dan sifat inilah yang membedakan mereka dari orang-orang yang bukan pemimpin.[101] Demikianlah berdasarakan pendekatan sifat (the trait approach) keberhasilanseorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan ditentukan pula oleh kecakapan/keterampilan (skills) pribadi pemimpin.[102]

Pada dasawarsa akhir ini, kepemimpinan lebih populer dengan kepemimpinan perubahan. Richard L. Daff mengemukakan konsep kepepemimpinan dalam satu definisi saja yaitu “kepemimpinan adalah merupakan suatu pengaruh hubungan antara pimpinan dan pengikut (followers) yang bermaksud pada perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan bersama” Dari definisi tersebut tercakup tujuh unsur yang esensial dalam kepemimpinan, (1) pemimpin (leader), (2) pengaruh (Influence), (3) pengikut (Follower), (4) maksud (Intention), (5) Tujuan bersama (shared purpose), (6) Perubahan (change), (7) tanggung jawab pribadi (Personal responbility).[103]

Semua manusia akan menjadi pemimpin, seperti dalam QS. Al-An’am ayat 165, berbunyi :

Artinya : Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah dibumi dan Dia mengangkat (Derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk menguji atas karunia yang diberi-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-An’am : 165)[104]

 

Dalam hal ini biasanya menggunakan pelatihan kepemimpinan formal yang bertema kepemimpinan atau kegiatan penguatan kepemimpinan yang tanpa harus menyebutkan kata kepemimpinan namun mempunyai tujuan yang sama yaitu penguatan jiwa kepemimpinan. Muatan Khusus Pelatihan Guna Meningkatkan Kepemimpinan pada siswa :

Selain menyusun perencanaan yang efektif di atas sangat perlu menggunakan teknik khusus dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa. Tiga teknik yang telah luas digunakan adalah pembuatan model peran prilaku, kasuistik dan simulasi berskala besar.[105]

Pelatih harus meninjau trainee secara berkala mengenai bagaimana mereka dikembangkan dengan contoh panutan dan apa yang mereka lakukan untuk mempercepat pengembangan di masyarakat ataupun dunia kerja. Karena sebagian besar dari orang ingin kesuksesan, melakukan langkah ini dengan baik akan membantu untuk menarik atau mempertahankan tranee kedalam kelompok kerja.[106]

  1. Ciri-ciri pribadi kepemimpinan yang bertanggung jawab

Leadership Coach dan Motivator, Ainy Fauziah menyebutkan delapan ciri pribadi yang bertanggung jawab, diantaranya:

  1. Melakukan apa yang ia ucapkan, bukan tidak melakukan apa yang telah ia ucapkan.
  2. Komunikatif, baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan, maupun klien.
  3. Memiliki jiwa “melayani” dengan sepenuh hati sekaligus menghilangkan pemikiran ‘siapa yang butuh, dia yang harus menghubungi saya’.
  4. Menjadi pendengar yang baik termasuk hal-hal yng bersifat masukan, ide, teguran, maupun sanggahan yang menunjukkan perbedaan pendapat.
  5. Berani meminta maaf sekaligus menanggung beban atas kesalahan yang ia lakukan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
  6. Peduli pada kondisi, baik kondisi temn, anggota tim, atasan, maupun bawahan.
  7. Bersikap tegas.
  8. Menentukan tujuan pelaksanaan kerja realitas (dalam arti kuantitas, kualitas, keamanan, dan sebagainya)
  9. Melengkapi para karyawan dengan sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya.
  10. Mengkomunikasikan pada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka.
  11. Memberikan susunan imbalan atau’ hadiah yang sepadan untuk mendorong prestasi.
  12. Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang  partisipasi apabila memungkinkan.
  13. Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaas yang efektif.
  14. Menilai pelaksanaan pekerja dan mellgkomunikasikan
  15. Menunjukan perhatian   kepada  bawahan,  yang   penting   dalam   hal   inl  adalah tanggung   jawab    dalam   memadukan   seluruh   kegiatan   dan   mencapai   tujuan organisasi tersebut  secara harmonis, sehingga tercapainya  tujuan  organisasi yang efektif dan efisien.
  16. Rajin memberi apresiasi. Apresiasi tidak selau berarti hadiah atau bonus, melainkan ucapan terimakasih secara langsung kepada yang bersangkutan dihadapan tim.[107]

Sementara sikap orang yang tanggung jawab ketika berorganisasi sebagai berikut:

  1. Mau menanggung akibat perbuatannya

Orang yang bertanggung jawab tidak akan lari dari perbuatan yang dilakukannya. Ia akan menghadapi sanksi atau hukumannya. Sebaliknya, orang yang tidk bertanggung jawab akan lari dari resiko yang ada, ia akan melemparkannya kepada orang lain atau melakukan fitnah kepada orang lain. perbuatan mengorbankan orang lain termasuk tindakan kekerasan. Tindakan ini harus dihindari. apapun bentuk resiko kita harus menanggungnya.

  1. Tidak akan menyalahkan orang lain

Pelaku perbuatan merupakan orang pertama yang akan menanggung akibat perbuatannya yang salah. Apabila kita salah, jangan lempar batu sembunyi tangan. Kita yang berbuat maka kita yang harus memmpertanggung jawabkannya.

  1. Menyadari Kelemahan

Perbuatan yang salah harus kita sadarisebagai bentuk kelemahan atu kekurangan diri kita. Mengakui kesalahan atau  kelemahan merupakan perbuatan yang baik untuk melakukan kebaikan di kemudian hari.

  1. Berusaha Memperbaiki Diri

Upaya untuk menciptakan keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya merupakan perbuatn yang baik. Orang yang bertanggung jawab akan selalu berusaha memperbaiki diri dari segala kekurangan dan kelemahan serta kesalahan.[108]

Berdasarkan uraian tentang kepemimpinan, maka dapat dipahami bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islami memerlukan kepemimpinan yang penuh integritas. Pendidikan Islami harus konsisten dalam menjalankan operasional pendidikan, menggerakkan sistem organisasi, dan menjadi contoh teladan bagi masyarakat luas. Dengan demikian, pendidikan Islami yang terwujud di Indonesia adalah sistem pendidikan yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Manusia yang cipta bangsa Indonesia adalah cinta pendidikan bermartabat, menyelamatkan hidup manusia di dunia dan juga di akherat kelak akan selamat.[109]

Dalam kenyataannya  para pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Untuk mencapai semua itu seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam melakukan pengarahan kepada bawahannya untuk  mencapai tujuan suatu organisasi.

  1. Peranan Kepemimpinan

Menurut pendapat Stogill, yang dikutip oleh Sugandha, beberapa peranan yang harus dimiliki:

  • Integration, yaitu tindakan tindakan yang mengarah pada peningkatan koordinasi.
  • Communication, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada meningkatnya saling pengertian, penyebaran informasl (transmission of information)
  • Product Emphasis, yaitu tindakan-tindakan yang berorientasi pada volume pekerjaan yang dilakukan Fraternization, yaitu tindakan-tindakan yang menjadikan pemimpin bagian dari kelompok.
  • Organization, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada perbedaan dan penyesuaian dari pada tugas-tugas.
  • Evaluation, yaitu tindakan-tindakan yang berkenaan dengan pendistribusian ganjaran-ganjaran atau hukuman-hukuman.
  • Innitation, yaitu tindakan-tindakan yang menghasilkan perubahan-perubahan pada kegiatan organisasi.
  • Domination, yaitu tindakan-tindakan yang menolak pemikiran-pemikiran seseorang atau anggota kelompok.[110]

Daripenjelasan diatas, dapat ditarikkesimpulan bahwa pemimpin yang ideal adalahpemimpin yang berpengetahuan luas, adil,jujur,optimis,gigih,ulet,bijaksana, mampumemotivasidirisendiri, memilikihubunganbaikdenganbawahandimanasemua inidiperoleh dari pengembangan kepribadiannya sehinggaseorangpemimpin memiliki nilaitambah tersendiri dalammelaksanakantugas dankewajibannya sebagaiseorang pemimpin.

  1. Prinsip-prinsip kepemimpinan remaja

Remaja adalah pemimpin masa depan, generasi penerus, kebaggaan dan harapan bangsa, masyarakat dan keluarga. setiap remaja setidaknya memiliki panggilan jiwa untuk bersiap diri untuk menjawab tuntutan dan tantangan yang tidak ringan tersebut. Sejak kecil anda mungkin sudah diperkenalkan dengan fungsi pemimpin di sekolah. sejak bangku sekolah dasar atau bahkan sejak taman kanak kanak? anda mungkin pernah memilih atau dipilih menjadi ketua kelas? saat ini mungkin juga anda adalah seorang ketua kelas, ketua OSIS, ketua dalam organisasi, panitia kegiaatan atau juga menjadi pradana putra, dan bahkan juga pradana putri.

Banyak pula sekolah yang memberikan secara khusus kesmpatan pelatihan kepemimpinan bagi para siswanya melalui kegiatan gladian pimpinan satuan. kaderisasi atau pun apalah namanya. mereka yang mengikuti kegiatan ini biasanya akan dilantik menjadi pengurus osis, perwakilan pengurus kelas, dan bahkan anggota pramuka juga  selama mereka menjadi siswa di sekolah tersebut.

  1. Cara untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan
    1. Cara memupuk jiwa kepemimpinan

Memupuk jiwa kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. a) Mantapkan diri pada situasi apapun

Kedudukan dan kegembiraanakan dating silih berganti dalam kehidupan kita

  1. Rendah hati

Kesombongan tidak akan mengatarkan anda pada kesuksesan

  1. Melakukan apa yang di ucapkan

Banyak bicara tanpa ada tindakan harus dihaindari

  1. Memimpin dengan hati

Menghargai orang lain seperti menghargai diri sendiri.[111]

Ada beberapa hal yang harus di ketahui dan di pelajari dalam rangka menumbuhkan semangat pantang menerah dan ulet.

  1. Kegagalan

Banyak orang yangmudah gagal, takut gagal, dan tidak berkeinginan untuk mewujudkan hidup yang lebih baik. Banyak di antara mereka yang kemudian mengeluh,menyalahkan orang lain danmenghibur dirinya dengan mengatakan dirinya memang di takdirkan hidup miskin.

  1. Modal

Modal harus dimiliki oleh setiap pengusaha yang sukses namun hal ini pulalah yang menghambat orang untuk berwirausaha. Tidak sedikit dari mereka yang berfikir berwirausaha harus memiliki modal yang besar. Selain modal uang masih banyak modal lainnya yang bisa di pakai untuk memulai menjadi wirausaha :

  1. Ide

Banyak wira usaha sukses dengan bermodal ide usaha yang cermelang. Buatlah proposal yang berisi peluang dan ide kreatifuntuk di tawarkan ke rang lain dengan sistem bagi hasil.

  1. Pengalaman

Pengalaman kerja yang telah anda miliki selama di sekolah, dan mungkin ikut usaha teman untuk memajukan wirausaha. Hal ini karena anda sudah memiliki pengalaman dan telah menguasai pasar dan industrinya. Pengalaman sangat penting sebagai mdal awal berwirausaha terutama bila anda belum memiliki modal uang cukup. Modal pengalaman terdiri dari :

  1. Latar belakang pendidikan.
  2. Pengetahuan yang dimiliki.
  3. Pengalaman selama anda mencoba atau mengetahui orang lain menjalankan usaha.
  1. Kreativitas

Adalah pendangan bagi orang yang ingin mengubah kesulitan menjadi peluang.  Jika anda memunyai kreativitas, anda pasti mempunyai banyak ide dan inspirasi.

  1. Jaringan

Selain pengalaman pasti anda mempunyai jaringan seperti teman dll. Memanfaatkan jaringan  sudah sering digunakan untuk memulai belajar berwirausaha seperti bisnis[112]

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Metode Penelitian

Untuk medapatkan data yang diperlukan, mengolah serta menganalisis data, maka langkah-langkah yang harus dijelaskan terkait dengan hal-hal teknis dalam metodologi penelitian ini, adalah sebagai berikut:

  1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk kategori penelitian lapangn Field research dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualittif, gejala dari suatu objek bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat di pisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitinya hanya berdasarkan varriabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang di teliti yang meliputi aspek tempat (space), pelaku (actor), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.[113] Dalam penelitian ini diperoleh di lapangan yaitu SMK Muhammadiyah Tumijajar. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek peneliti. Jenis penelitian kualitatif di dalam penelitian ini, penulis mencari dan mengumpulkan data dari lapangan selanjutnya data dari hasil penelitian ini akan di analisis dengan berdasarkan teori-teori pembelajaran.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologis dengan fokus yang digunkan adalah psikologi pendidikan. Peneliti menggunakan pendekatan ini karena psikologi pendidikan memiliki peranan yang penting dalam proses pendidikan. Hal ini sangat dibutuhkan baik oleh guru maupun peserta didik.

  1. Data dan Sumber Data
  2. Sumber data

Adapun sumber data terdiri dari dua macam

  • Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang secara langsung dihimpun oleh pengumpul data.[114] Sumber data primer yang diperoleh oleh peneliti adalah hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru pembimbing Hizbul Wathan serta siswa SMK Muhammadiyah Tumijajar mulai kelas X-XII.

  • Sumber data sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber yang dikumpulkan secara tidak langsung kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau dokumen.[115] Sumber data sekunder yang di kumpulkan bisa dengan rekam kegiatan hizbul wathan, mulai jurnal, daftar hadir, evaluasi sampai pada dokumentasi kegiatan.

  1. Populasi dan sampel
  2. Populasi

Terdapat dua jenis populasi dalam penelitian ini :

  1. Populasi target : dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah Tumijajar yang berjumlah 72 siswa
  2. Populasi terjangkau : adalah seluruh siswa yang ikut aktif dalam kegiatan hizbul wathan sebanyak 43 siswa penggalang dari kelas VII dan Kelas VII.
  3. Sampel

Dari populasi diatas penulis mengambil sampel 50% dari populasi terjangkau berjumlah 20 siswa, sampel diambil secara acak (Random Sampling)

  1. Metode Pengumpulan Data

Menurut Loftland dan Loftland yang di sebutkan oleh Lexy J. Moleong dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif, bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan.[116] Namun untuk menambah khazanah ilmiah maka butuh dengan pendekatan teori dan devinisi dari para ahli melalui karyanya, sehingga peneliti mengambil data melalui sumber partisipan atau peserta penelitian juga studi pustaka, peserta atau partisipan disini berasal dari siswa yang melaksanakan Hizbul Wathan, kordinator dan penanggung jawab ekstrakurikuler Hizbul Wathan, wakil kepala madrasah bidang kemahasiswaan serta tidak menutup kemungkinan dari pihak yang bersinggungan dengan ekstrakurikuler Hizbul Wathan. Dari sumber partisipan ini bisa menggunakan wawancara untuk mengetahui desain rancangan Hizbul Wathan dan tanggapan sejauh mana  jiwa kepemimpinan siswa telah berkembang.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, diantaranya :

  1. Risearch Lapangan (Field Research)

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi data secara langsung dari objek penelitian, adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

  • Observasi atau pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.[117]Menurut Sukardi, observasi adalah cara pengambilan data dengan menggunakan salah satu panca indra yaitu indra penglihatan sebagai alat bantu utamanya untuk melakukan pengamatan langsung, selain panca indra biasanya penulis menggunakan alat bantu lain sesuai dengan kondisi lapangan antara lain buku catatan, kamera, film proyektor, checklist yang berisi obyek yang diteliti dan lain sebagainya.[118] Namun dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan alat bantu buku catatan dan kamera.

Observasi ini dilakukan oleh penulis di SMK Muhammadiyah 1 Tumijajar yang berlokasi di Jl K.H Ahmad Dahlan No. 10 Dayamurni, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung tentang situasi dan kondisi lingkungan sekolah dan sekitar lingkungan sekolah. Bertemu dengan Satpam sekolah dan menunggu Kepala Sekolah serta di temani dengan Pak Mardi, S.Kom guru sekaligus pembina PMR, sedikit berbincang-bincang, serta untuk menghimpun data, meliputi letak geografis SMK Muhammadiyah Tumijajar, program pelaksanaan kegiatan hizbul wathan, dan kegiatan kesiswaan lainnya. Dengan cara pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian untuk mendapatkan data tentang gambaran umum sekolah sesuai dengan pembahasan skripsi ini.

  • Wawancara adalah menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Dalam wawancara penulis dapat menggunakan dua jenis yaitu: wawancara terpimpin dan wawancara tidak terpimpin.[119] Metode ini digunakan untuk menggali data yang berkaitan dengan upaya-upaya yang dilakukan lembaga dalam menumbuhkan jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar. Sedangkan obyek yang diwawancarai adalah kepala sekolah, waka kesiswaan, pembina hizbul wathan dan Pengurus dan anggota yang mengikuti kegiatan hizbul wathan tersebut.

Metode wawancara adalah metode pengumpulan data, pengamatan dilakukan dengan tanya jawab yang dilakukan secara lisan, bertatap muka (face to face), dengan siapa saja yang di kehendaki.[120] Wawancara dilakukan langsung dengan izin kepala sekolah pak Bambang Wiyono, SE. Lalu diizinkan bertemu waka kesiswaan yaitu pak syamsul hidayat, dan penulis teruskan langsung dengan pak sudadi selaku guru yang aktif dalam kegiatan hizbul wathan serta interview dengan para siswa-siswa yang aktif kegiatan hizbul wathan terutama pengurus hizbul wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar. Wawancara juga bisa diartikan sebagai proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi ataupun keterangan.

Wawancara digunakan apabila ingin melakukan studi pendahuluan yang harus di teliti, dan untuk mengetahui hal yang lebih mendalam dari responden dengan jumlah sedikit/kecil. Dalam penelitian ini wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur yaitu wawancara yang telah diketahui pasti tentang informasi yang akan diperoleh.[121]Wawancara ini dilakukan untuk mencari data tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan motivasi siswa dalam mengikuti hizbul wathan, latar belakang siswa yang berminat dalam kegiatan hizbul wathan, serta untuk mengetahui program kerja hizbul wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar dan respon siswa dalam kegiatan Hizbul Wathan. Metode ini dilakukan terhadap kakak pembina pramuka untuk mendapatkan informasi tentang frekuensi latihan, metode pengajaran, materi yang diberikan dll yang ada hubungannya dengan masalah Hizbul Wathan.

  • DokumentasiMerupakan metode pengumpulan data dengan membaca dan mencatat dokumen-dokumen yang relevan dengan pokok permasalahan dalam penelitian. metode dengan mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda ,dan sebagainya.[122]Metode dokumentasi juga diartikan sebagai metode mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, logger, agenda, dan lain lain.[123]

Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mencari data tentang jumlah siswa, gambaran umum sekolah, jumlah guru dan karyawan di sekolah dan terutama gambaran kegiatan serta jumlah siswa yang mengikuti kegiatan hizbul wathan. Metode ini dilakukan untuk memperoleh data-data penelitian lainnya sesuai dengan masalah yang penulis teliti mengenai Hizbul Wathan.

  • Angket adalah metode ini dilakukan dengan cara membagikan angket yang berisi pertanyaan kepada responden (anggota hizbul wathan) yang ditemui langsung dilapangan.

 

  1. Analisis Data

Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif analitik yaitu mendeskripsikan dan menganalisis semua hal yang menjadi focus dalam penelitian ini. Dalam analisis ini menggunakan metode pembahasan, yaitu metode induktif.

Metode induktif adalah berfikir yang berangkat dari faktor-faktor yang khusus, peristiwa-peristiwa yang konkret, kemudian dari faktor-faktor yang konkret itu di tarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.[124]Analisis dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data dari lapangan kemudian data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teori-teori yang relevan. Dari hasil analisis yang bersifat khusus kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat generalisasi atau umum. Miles dan Huberman mengatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh.[125] Adapun langkah-langkah dalam analisis penelitian selama proses dilapangan adalah sebagai berikut:

  1. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan juga membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah teliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.[126]

  1. Penyajian Data

Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, hubungan antar kategori, dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk penyajian data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan penyajian data, akan memudahkan dan akan lebih memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.[127]

  1. Verifikasi Data

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang dapat mendukung pada tahap pengumpulan data selanjutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Setelah angket diisi oleh responden dan dikembalikan kepada penulis, maka peulis segera meneliti satu persatu angket yang dikembalikan dari nomor sati sampai nomor terakhir.

  1. Tabulating

Langkah kedua adalah pengolahan data dengan memindahkan jawaban yang terdapat dalam angket. Kemudian setelah data diolah, maka penulis selanjutnya melakukan analisis data dengan teknik desktiptif kualitatif dengan persentase,[128] adapun rumus yang digunakan dalam menganalisis data ini adalah : Rumus Persentase

P = F x 100%

N

P = Persentase yang dicar

F = Frekuensi jawaban

N = Jumlah jawaban subjek / sample yang diolah

 

Setelah tabulasi data selesai dikerjakan, maka analisa data bisa dilakukan, yaitu dengan cara menginterprestasikan data berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan dan landasan teori-teori yang sudah ada.

 

 

BAB IV

LAPORAN HASIL PENELITIAN

  1. Sejarah Singkat Berdirinya SMK Muhammadiyah Tumijajah Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat

SMK Muhammadiyah Tumijajar Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat berlokasi di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 10 Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat yang di dirikan pada tahun 1996. Kemudian pada tahun 2014-2017 SMK Muhammadiyah Tumijajar memulai peningkatan dalam pembangunan dengan baik dan ada penambahan jurursan serta penambahan jumlah siswa.[129]

  1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
    • Keadaan Sarana dan Prasarana SMK Muhammadiyah Tumijajar Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Untuk dapat mengetahui secara jelas sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar pada SMK Muhammadiyah Tumijajar ini, penulis akan mengemukakan hasil observasi di antaranya :

  1. Ruang Kepala Sekolah : 1 ruang
  2. Ruang Guru : 2 ruang
  3. Ruang Tata Usaha : 1 ruang
  4. Ruang Bimbingan Konseling : 1 ruang
  5. Ruang Workshop : 2 ruang
  6. Ruang Lab. Komputer : 2 ruang
  7. Ruang Lab. TKR : 1 Ruang
  8. Ruang Perpustakaan : 1 ruang
  9. Ruang Belajar : 21 ruang
  10. Ruang WC : 3 ruang
  11. Ruang Ibadah ( Musholla ) : 1 ruang
  12. Lapangan Badminton : 1 buah
  13. Lapangan Volly : 1 buah
  14. Lapangan Futsal : 1 buah
  15. Lapangan Basket : 1 buah
  16. Kantin : 2 buah.[130]

 

  1. Keadaan Guru SMK Muhammadiyah Tumijajar Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Pada saat penulis mengadakan penelitian tepatnya pada tanggal 21 September 2016, tenaga pengajar yang ada di SMK Muhammadiyah Tumijajar berjumlah 67 orang. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada table di bawah ini.

Tabel  1
Keadaan Guru 
SMK Muhammadiyah Tumijajar Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun Ajaran 2016 / 2017

 

NONamaJenis kelaminPendidikan terakhirJabatanTugas tambahanKet
1Bambang Wiyono. SELS1 EkonomiKepala SekolahKewirausahaan dan Perbankan SyariahPNS
2Suyanto, S.Pd.LS1 Fkip

B. Indonesia

Waka KesiswaanTKRPNS
3Jayadi, S.TLS1 Teknik MesinWaka Sarana dan PrasaranaTKRPNS
4Lamidi, S.Pd.ILS1 TarbiyahWaka HumasB.IndonesiaPNS
5Tohari, S.Pd.ILS1 TarbiyahWaka IsmudaPAIPNS
6Ade Sunardi Putra, S.Pd.ILS1 TarbiyahWaka KurikulumKemuhammadiyahanPNS
7Aswianto, S.PdLS1 Pendidikan IPSGuruKWUPNS
8Johan dani nugroho, S.PdLS1 B.InggrisGuruBahasa InggrisHonor
9Nova Fajrin, S.PdLS1 FisikaGuruFisikaHonor
10Hindi Noverdo, S.TLS1 Teknik MesinGuruTKRHonor
11Fatroni, S.PdLS1 PenjaskesGuruPenjaskesHonor
12Dwi Rahayu Fitriana, S.PdPS1 B.InggrisGuruB.     InggrisHonor
13 Rosi rikardo, S.PdLS1 MatematikaGuruKimiaHonor
14Riscandra megawati, S.PdPS1 PsikologiGuruMTKHonor
15Iis rahmawati, S.PdPGuruFisikaHonor
16Komsiatun, S.Pd.iPS1 PAIGuruB.ArabPNS
17Leni lusiana, S.Pd.iPS1 B. ArabGuruKimiaPNS
18Novi Anasanti, S.PdPS1 PGSDGuruSeni BudayaHonor
19Anisa Reza Oktavia, S.PdPS1 B. InggrisGuruSejarahHonor
20Anita, S.PdPS1 MatematikaGuruMTKPNS
21Asmungi,A.MaLS1 KimiaGuruKimiaPNS
22Dian kurniawan, S.PdLS1 PenjaskesGuruPenjaskesHonor
23Dwi Istiyani, M.PdPS1 B. IndonesiaGuruB.IndonesiaHonor
24Nurrochman Prabawati, S.PdPS1 B. IndonesiaGuruB.indonesiaHonor
25Muhammad Dahlan, S.PdLS1 Bimbingan KonselingGuruBimbingan dan KonselingHonor
26Sinta Harisawati, S.PdPS1 Pendidikan IPSGuruPKNPNS
27 Sujono, S.PdLS1 PLSGuruPenjaskesPNS
28Suparno, S.PdLS1 TarbiyahGuruKMDHonor
29Imam Muchlis, S.PdLS1 PAIGuruB.     ArabHonor
30Sri widodo, S.KomLS1 Teknik InformatikaGuruKajur MultimediaPNS
31Sudadi, S.PdLS1 FisikaGuruFisikaHonor
32Uswatun Khasanah, S.PdPS1 TarbiyahGuruB.InggisPNS
33Agustina Fitriani, S.PdPS1 TarbiyahGuruMTKHonor
34Asmungi, S.PdLS1 TarbiyahGuruKimiaPNS
35Syamsul Hidayat, S.PdPS1 TarbiyahGuruPAIPNS
36Maryana. S.Pd.i, M.Pd.iPS1 & S2 Bimbingan KonselingGuru BKGuru BKPNS

Sumber : Dokumentasi daftar guru SMK Muhammadiyah Tumijajar tahun ajaran 2016/2017.[131]

  1. Keadaan siswa SMK Muhammadiyah Tumijajar Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat.

SMK Muhammadiyah Tumijajar memiliki 832 siswa, yang terdiri dari bebrapa kelas, lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2
Keadaan Siswa 
SMK Muhammadiyah Tumijajar Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun Ajaran 2016 / 2017

NOKELASLkPrJUMLAH
1X MM a151732
2X MM b191736
3X MM c181634
4X MM d181735
6X TKR a29130
7X TKR b27128
8X TKR c28230
9X Jasa boga62026
10X Perbankan syariah141125
11X Sepeda Motor a25227
12X Sepeda Motor b27128
13X Sepeda Motor c2626
14XI MM a171430
15XI MM b141731
16XI MM c121628
17XI MM d141630
18XI TKR a27
19XI TKR b25126
20XI SM a2626
21XI SM b2929
22XI Jasa boga12324
23XI Perbankan syariah141529
 24XII MM a151631
25XII MM b121527
26XII TKR a26228
27XII TKR b28129
28XII SM a29231
29XII SM b2828
30XII Jasa Boga2120
JUMLAH590243832

Sumber : Dokumentasi SMK Muhammadiyah Tumijajar tahun ajaran 2016/2017.[132]

 

  1. Kepemimpinan Hizbul Wathan pada Siswa

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis pada tanggal 21 September 2017, penulis mendapatkan data nilai formatif dan hasil  kegiatan Hizbul Wathan siswa SMK Muhammadiyah Tumijajar tahun ajaran 2016 / 2017. Untuk lebih jelasnya berikut ini penulis cantumkan nilai yang diperoleh siswa dari penilaian formatif dan hasil kegiatan hizbul wathan siswa pada tahun ajaran 2016 / 2017.

Tabel 3

Keadaan Peniliain Kepemimpinan Individu Kegiatan Hizbul Wathan siswa Kelas X SMK Muhammadiyah Tumijajar

NONAMAKurangCukup BaikBaik
1Aditya dwi pratamaü
2Dhika surya pratamaü
3Reza febri nandasariü
4Reniü
5Wendi ferdian saputraü
6Hermanto prasetioü
7Fitri amelia sariü
8Fitri ayuü
9Bayu satria wardanaü
10Andika dwi budi Sü
11Emiliaü
12Ana mutia sariü
13Dodi kurniawanü
14Aldi diwaraü
15Angga permadiü
16Abdullohü
17Devi Rahmaniaü
18Sintyaü
19Rizky ardiü
20Afif akbarü
21Tri Oktavia pramita Sü
22 Budi setiawanü
23M. Iqbalü
24Rizky fitra ramadhanü
25Gunturü
26Suryaü
27Diniari Murtiü
28Widya Handayaniü
Jumlah71013

Sumber : Dokumentasi penilaian kegiatan hizbul wathan tahun ajaran 2016/2017

Tabel 4

Keadaan Peniliain Kepemimpinan Individu Kegiatan Hizbul Wathan siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah Tumijajar

NONAMAKurangCukup BaikBaik
1Rahmat Hanif Delfandiü
2Diana Sariü
3Wida Sariü
4Estu Ma’arifü
5Heri Triyasmanü
6Bima Ilhamü
7Ayu Hebtasariü
8Leonardo jaya abadiü
9Nur Baityü
10Siti Rohayatunü
11Radita Dwi Cahyaniü
12Yani Agustinaü
13Wahyuü
14Mila sariü
15Riska Setianingsihü
16Sella watiü
17Titik Puspita sariü
18Intan sariü
19Ririn Safitriü
20Agus Saputraü
21Novi Wildanü
22Meisy Devitaü
23Yulita nurma sariü
24Linda agih praditaü
25Dwi novita sariü
26Nina Yunita sariü
27Irfan fajarü
28Maulana Rifaldo Pü
29M. Rifai Saputraü
30Ruly aryantoü
Jumlah4917

Sumber : Dokumentasi penilaian kegiatan hizbul wathan tahun ajaran 2016/2017

 

 

 

Keterangan :

  • ≤ 69 = Kurang
  • 70 – 80 = Cukup Baik
  • 81 – 90 = Baik

 

Dari daftar tabel diatas, bahwa jumlah siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan berjumlah 58 siswa dari kelas X dan XII.

  1. Pembahasan dan Analisis
  2. Pelaksanaan Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan Di SMK Muhammadiyah Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Kegiatan belajar merupakan suatu aktivitas yang di laksanakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Melalui kegiatan ekstrakurikuler hizbul wathan akan mengetahui tingkat prestasi siswa dalam mengikuti pelajaran. Dari hasil observasi yang penulis lakukan terhadap pelaksanaan penilaian formatif ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar, penulis memperoleh gambaran melalui hasil wawncara sebagai berikut :

“Pelaksanaan kegiatan Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan di SMK Muhammadiyah Tumijajar belum bisa berjalan sebagaimana mestinya, hal ini disebabkan mata pelajaran dikelas terlalu padat, sedangkan alokasi waktu kegiatan setelah pulang sekolah 2 kali dalam satu minggu, belum terpotong dengan hari libur nasional”.[133]

 

Lebih lanjut guru Pembina Hizbul Wathan menambahkan : Dengan tersedianya waktu yang ada, kami hanya berusaha meningkatkan pola latihan denga efesien dengan materi dan praktik sesuai dengan kurikulum yang ada. Dalam melaksanakan penilaian formatif biasanya kami lakukan setelah selesai beberapa pokok bahasan, hal ini mengingat waktu yang ada.[134]

Empat tahap dalam penerapan Peran Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar. Tahap pertama, perencanaan dilakukan melalui proses perekrutan pembina/tenaga SDM, penyusunan program kerja, serta penyusunan materi pembelajaran. Tahap kedua yakni pengorganisasian dengan memberikan tugas dan wewenang kepala sekolah bidang kesiswaan, pembina dan pelatih. Tahap ketiga yakni pelaksanaan kegiatan Hizbul wathan yang telah ditetapkan dengan jadwal tiga kali dalam seminggu, dan tahap terakhir dengan pengawasan, dimana pada tahap ini kegiatan Hizbul Wathan akan dikoreksi mengenai adakah penyimpangan dan mengoreksi agar dapat terlaksana lebih baik dari sebelumnya.

Perencanaan kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar Perencanaan dalam kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan yang pertama dengan menganalisis nilai-nilai yang dintegrasikan dengan visi misi sekolah dan kompetesi dalam kurikulum Hizbul Wathan. Tahap selanjutnya meliputi: penyusunan kegiatan berdasarkan visi misi, kurikulum Hizbul Wathan berorientasi nilai-nilai karakter dan sesuai kalender pendidikan, penyusunan jadwal mempertimbangkan kondisi siswa pembina dan materi Hizbul Wathan, dan penyusunan anggaran dari dana BOSDA sesuai prosedur.

Adapun penilaian siswa dalam yang mengikuti kegiatan Hizbul Wathan dalam kegiatan sekolah, belajar mengajar dikelas maupun di luar sekolah yang mendapat peningkatan mental dan keberanian dalam bersosial hanya 41,6% dan sisanya masih dalam proses pemberanian diri dan melatih mental.

Berdasarkan item-item pertanyaan yang telah di olah dan di analisa, maka akan terbukti benar atau tidaknya identifikasi masalah yang penulis ajukan dalam menjawab rumusan masalah. Identifikasi masalah yang pertama adalah : Dalam pelaksanaan Hizbul Wathan tidak melaksanakan secara kontinue (terus menerus). Yang menunjukkan bahwa pelaksanaan Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar belum berjalan sesuai prosedur Pelaksanaan Hizbul Wathan. Hal ini juga di dukung oleh hasil interview yang penulis lakukan pada tanggal 21 Desember 2017 yang mengatakan bahwa pelaksanaan Hizbul Wathan belum bisa berjalan semestinya karena padatnya materi pelajaran sekolah dan Praktek sesuai jurusan, sedangkan waktunya hanya 2 kali pertemuan dalam satu minggu, dan Hizbul Wathan di lakukan setelah selesai beberapa pokok bahasan.

Instruksi Kwartir Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan tentang Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Kepanduan Hizbul Wathan pada Sekolah Muhammadiyah dan dari menindaklanjuti hasil Keputusan Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 08/KTN/I.4/F/2013 tentang Pembinaan Organisasi Otonom di Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Bab II Pasal 3 ayat 2. Bahwa Hizbul Wathan adalah satu-satunya organisasi kepanduan di Lembaga Pendidikan Muhammadiyah merupakan dasar adanya ekstrakurikuler Hizbul Wathan yang dilaksanakan di setiap jenjang sekolah Muhammadiyah, termasuk di SMK Muhammadiyah Tumijajar. Pelaksanaan kegiatan Kepanduan Hizbul Wathan terutama sebagai bentuk implementasi kegiatan ekstrakurikuler wajib Kepramukaan di Sekolah Muhammadiyah adalah Kepanduan Hizbul Wathan sebagaimana pemberlakuan Kurikulum 2013. Selain itu adanya visi misi SMK Muhammadiyah Tumijajar juga memperkuat dibentuknya program ekstrakurikuler Hizbul Wathan.[135]

Tujuan kegiatan merupakan target yang ingin dicapai dalam proses kegiatan. Dalam rangka mencapai target tersebut, seorang pembina pasti akan berusaha dengan baik dan maksimal untuk menciptakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan bagi para siswanya. Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan ialah untuk mewujudkan visi misi SMK Muhammadiyah Tumijajar yaitu Insan Mulia Berkompeten, Disiplin dan Relegius. Seperti yang diungkapkan oleh Kak Suedi: “Tujuannya yaitu salah satunya membentuk karakter Islami dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan masing-masing individu karena kan salah satu visi misi ini adalah insan mulai berkompeten disiplin dan relegius…”[136]

Hal ini juga sejalan dengan tujuan dari Kepandun Hizbul Wathan yaitu menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda yang memiliki aqidah, mental dan fisik, berilmu dan berteknologi serta berakhlaq karimah dengan tujuan untuk terwujudnya pribadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa.[137]

Bapak Bambang Wiyono mengungkapkan: “…Program mingguan kegiatan Hizbul Wathan meliputi pelatihan rutin 1 minggu sekali. Program setiap tahun ada kemah bakti atau jambore oleh daerah dan beberapa tahun sekali oleh wilayah. Program setiap pelantikan anggota Hizbul Wathan Latihan Peraturan Baris Berbaris, Latihan Gabungan Bersama TNI AD, Pembinaan Kesadaran Bela Negara”[138] Keterangan lain juga disampaikan oleh Kak Suedi: “Rencananya ada pelatihan hari Sabtu, Rabu, dan Jum’at dari pukul 14.00-16.00…”[139]

Untuk perencanaan materi kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan tidak lepas dari kurikulum Kepanduan Hizbul Wathan dan juga buku ketrampilan kepanduan Hizbul Wathan. Di dalam kurikulum kepanduan Hizbul Wathan tidak hanya termuat materi mengenai kepanduan saja, tetapi juga termuat materi mengenai pendidikan agama Islam. Namun, untuk materi pendidikan agama Islam sudah disampaikan ketika KBM, jadi materi yang disampaikan ketika pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan hanya tentang kepanduan. Meskipun begitu, dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan tetap memasukkan nilai-nilai akhlak. Kak Suedi menuturkan: “Untuk materi kita mengambil dari kurikulum dan ketrampilan Hizbul Wathan. Namun untuk materi seperti agama atau ibadah, kita sampaikan dalam KBM.”[140]

Pengorganisasian kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan digunakan untuk koordinasi dalam menjalankan suatu kegiatan dalam organisasi. Langkah pengorganisasian yang pertama, kepala sekolah menunjuk pembina, dengan memberdayakan yang guru bersertifikat sebagai pelatih Hizbul Wathan. Penempatan seseorang dalam suatu jabatan harus sesuai dengan tuntutan job deskripsi dari posisi yang akan ditempati, dan orang yang akan diberi tugas hendaknya memenuhi kriteria yang disyaratkan.[141]

Kepala sekolah memberikan surat tugas kepada pembina Hizbul Wathan untuk memperkuat pelaksanaan tugas sebagai pembina Hizbul Wathan. Salah satu mengorganisasi mendelegasikan wewenang kepada individu yang berhubungan dengan keleluasaan melaksanakan tugas. terdapat legitimasi dalam melaksanakan tugas, sehingga satuan pendidikan dapat menciptakan suasana yang penuh harapan dan menyakini bahwa semua program dapat dilaksanakan hingga tingkat prestasi yang tinggi serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan. [142]

Pengorganisasian selanjutnya pembentukan dewan Hizbul Wathan sebagai asisten pembina. Peserta didik kelas X dalam kepanduan Hizbul Wathan merupakan tingkat penghela, oleh karena itu peserta didik dapat terlibat langsung dalam kegiatan ekstrakurikuler terutama kepanduan Hizbul Wathan untuk mengkader calon-calon pelatih Hizbul Wathan dimasa depan. Selain itu dengan keterlibatan mereka dapat menanamkan nilai–nilai karakter, kepemimpinan. Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Esa bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat memberikan efek pada kepemimpinan siswa. Berarti ekstrakurikuler dapat memberikan efek positif kepada siswa, yakni dapat menumbuhkan jiwa dan sikap kepemimpinan pada siswa.[143]

Selanjutnya membahas pembagian tugas wewenang sesuai dengan jabatan dalam struktur organisasi Setiap personil memiliki tugas dan uraian pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga setiap personil dapat melaksanakan tugas dengan baik, dan lebih fokus dengan pekerjaannya. Sesuai pendapat Purwanto Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoranisasian, antara lain ialah bahwa pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab hendaknya disesuaikan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan, dan kepribadian setiap orang yang diperlukan dalam menjalankan tugas–tugas tersebut.[144]

SMK Muhammadiyah Tumijajar telah melaksanakan perencanaan program ekstrakurikuler Hizbul Wathan dengan melibatkan banyak pihak. Pihak-pihak tersebut antara lain kepala sekolah, wakil kepala kesiswaan, pembina dan Brimob Kalibanger. Diharapkan dengan banyak pihak yang terlibat dalam proses perencanaan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan, maka dalam pelaksanaannya bisa berjalan dengan lancar.

Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler sangat bermanfaat bagi peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan diharapkan mampu menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan watak yang baik bagi siswa. Kak Suedi mengungkapkan “Salah satunya pembentukkan karakter, ketegasan, wibawa, bijaksana, profesional, kedisiplinan, berakhlak mulia, dan yang terakhir adalah mempunyai tanggung jawab”.[145] Bapak Samsyul Hidayat selaku wakil kepala kesiswaan juga menjelaskan manfaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan bagi siswanya di SMK Muhammadiyah yaitu “bahwa manfaat dari mengikuti ekstrakurikuler Hizbul Wathan itu menanamkan karakter yang baik, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan, intinya sesuai dengan tujuan dari Muhammadiyah…”[146]

Lebih lanjut guru Pembina Hizbul Wathan menambahkan: Dengan tersedianya waktu yang ada, kami hanya berusaha meningkatkan pola latihan denga efesien dengan materi dan praktik sesuai dengan kurikulum yang ada. Dalam melaksanakan penilaian formatif biasanya kami lakukan setelah selesai beberapa pokok bahasan, hal ini mengingat waktu yang ada.[147]

Penyelenggara proses pembinaan itu dilaksanakan sebanyak-banyaknya dengan praktik dan secara praktis dengan menggunakan cara Learning by doing : Belajar dengan praktik (Sambil mengerjakan), Diong to live : usaha menghasilkan kebutuhan hidup, Living to service : hidup untuk berbakti dan mengabdi, Learning by teaching : belajar sambil mengajar.[148]

 

 

 

 

  1. Pengolahan dan Analisa Data
  2. Variabel dan Indikator

Dalam kegiatan Hizbul Wathan seluruh anggota memiliki buku saku (SKU), penilaian buku saku tersebut ada beberapa poin dalam setiap kegiatan, dan jika poin tersebut terisi dan setiap materi atau kegiatan terisi poin dengan penuh maka anggota tertentu akan naik pangkat seperti ; dari ambalan ke Bantara, dan dari Bantara naik tingkat ke Laksana. Poin didalam buku saku ±26 poin.

Maka langkah selanjutnya di analisis sesuai dengan item-item yang telah di ajukan kepada responden.

Tabel 6

Indikator Kepemimpinan

NoVariabelIndikator
1Kepemimpinan–          Tanggung jawab

–          Kedisiplinan

–          Ketegasan

–          Terampil

–          Kerjasama

2Hizbul Wathan–          Tri Satya

–          Dasa Dharma

  1. Wawancara dengan Guru Bidang Pembina Hizbul Wathan.[149]

Adapun beberapa point pertanyaan hasil wawancara yang diajukan oleh peneliti kepada guru pembina Hizbul Wathan :

  1. Berapa pertemuan dalam seminggu diberikan kepada siswa SMK Muhammadiyah Tumijajar ?

Jawab: 2 kali pertemuan dalam satu minggu

  1. Apakah dengan waktu yang tersedia, cukup dalam pelaksanaan kegiatan Hizbul Wathan ?

Jawab: Tidak cukup

  1. Setelah berapa kali pertemuan bapak mengadakan penilaian ?

Jawab: 4 kali pertemuan

  1. Apakah bapak langsung memberikan hasilnya kepada siswa ?

Jawab: Tidak

  1. Aspek apa saja yang bapak nilai dari pelaksanaan penilaian kegiatan Hizbul Wathan ?

Jawab: Tingkah laku, ketekunan, mental, cara bersosialisasi, cara berbicara didepan audien, kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, kehidupan sehari-hari maupun disekolah dan hasil dari penilaian formatif tersebut

  1. Apakah bapak juga melaksanakan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan jiwa kepemimpinan siswa ?

Jawab: Iya

  1. Apakah sarana penunjang kegiatan Hizbul Wathan disekolah ini cukup ?

Jawab: sudah mendekati cukup

  1. Apakah usaha bapak dalam meningkatkan jiwa kepemimpinan dalam kegiatan Hizbul Wathan pada siswa ?

Jawab:  Meningkatkan agenda pelatihan dan latihan gabungan seperti latgab bersama Koramil dan Hizbul Wathan sekolah lain serta menambahkan jam terbang siswa untuk mengikuti  event kabupaten maupun provinsi, dan Evaluasi cara mengajar saya dan berusaha  meminta jam tambahan kepada pihak sekolah ( Kepala Sekolah )

  1. Apakah ada pengaruhnya dan perbuhan pada siswa yang mengikuti kegiatan Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar ?

Jawab: Ada

  1. Dari segi apakah pengaruh peran Hizbul Wathan dalam menumbuhkan Jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar ?

Jawab : Meningkatnya sikap individu pada siswa, siswa mampu menghormati senior atau kakak tingkat diatasnya dan juga pembina, siswa bisa mengutarakan pendapat diforum, siswa mampu memimpin upacara dan apel, siswa mampu menyelesaikan masalah kelompok.

Berikut ini dikemukakan peranan Hizbul Wathan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar. Tabel ini menggambarkan beberapa indikator dan Penilaian kegiatan Hizbul Wathan.

Tabel 7

Motivasi Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Belajar Beroganisasi

b.      Mengembangkan jiwa kepemimpinan

c.       Mencari teman

d.      Coba-coba saja

18

31

9

0

31 %

53,4 %

15,5 %

0 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 8

Kehadiran dalam Kegiatan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Selalu Hadir

b.      Sering

c.       Kadang-kadang

d.      Tidak Pernah

33

19

6

0

56,8  %

32,7 %

10,3 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 9

Latar Belakang Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Keinginan Sendiri

b.      Diajak teman

c.       Disuruh guru

d.      Diperintah orang tua

38

14

6

0

65,5 %

24,1 %

10,3 %

0 %

Jumlah58100 %

 

 

 

Tabel 10

Perasaan selama mengikuti kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat senang

b.      senang

c.       kurang senang

d.      tidak senang

32

23

3

0

55,1 %

39,6 %

5,1 %

0 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 11

Ekstrakurikuler Hizbul Wathan Mengganggu Kegiatan Belajar

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat Mengganggu

b.      Mengganggu

c.       Kurang Mengganggu

d.      Tidak Mengganggu

0

2

5

51

0 %

5,1 %

8,6 %

87,9 %

Jumlah58100 %

Tabel 12

Motivasi Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Belajar Beroganisasi

b.      Mengembangkan jiwa kepemimpinan

c.       Mencari teman

d.      Coba-coba saja

18

31

9

0

31 %

53,4 %

15,5 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 13

Minat Siswa Aktif kegiatan Hizbul Wathan meningkatkan minat belajar Kepemimpinan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Ya

b.      Kurang

c.       Kadang-kadang

d.      Tidak sama sekali

41

8

9

0

70,6 %

13,7 %

15,5 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 14

Kegiatan Hizbul Wathan Dapat Menyalurkan jiwa Kepemimpinan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat tersalurkan

b.      tersalurkan

c.       kurang tersalurkan

d.      tidak tersalurkan

19

35

4

0

32,7 %

60,3 %

6,8 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 15

Kegiatan Hizbul Wathan merupakan Wadah Pengembangan jiwa Kepemimpinan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat setuju

b.      Setuju

c.       Kurang setuju

d.      Tidak setuju

22

27

4

5

37,9 %

46,5 %

6,8 %

8,6 %

Jumlah58100 %

Tabel 16

Kegiatan Hizbul Wathan memberikan latihan-latihan dasar Kepemimpinan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Ya

b.      Kurang

c.       Kadang-kadang

d.      Tidak sama sekali

47

9

2

0

81 %

15,5 %

3,4 %

0 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 17

Kompetensi Pembina dan Daya kreasinya Kuat

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat Berkompetensi

b.      Berkompetensi

c.       Kurang berkompetensi

d.      Tidak berkomptensi

21

29

8

0

36,2 %

50 %

13,7 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 18

Jiwa Kepemimpinan berkembang setelah mengikuti kegiatan Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat berkembang

b.      Berkembang

c.       Kurang berkembang

d.      Tidak berkembang

25

31

2

0

43,1 %

53,4 %

3,4 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 19

Metode Penyajian, Materi sesuai dengan metodik Hizbul wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat sesuai

b.      sesuai

c.       kurang sesuai

d.      tidak sesuai

17

36

5

0

29,3 %

62 %

8,6 %

0 %

Jumlah58100 %

Tabel 20

Kegiatan Hizbul Wathan mengajarkan dasar-dasar berorganisasi

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Ya

b.      Kurang

c.       Kadang-kadang

d.      Tidak sama sekali

32

5

21

0

55,1 %

8.6 %

36,2 %

0 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 21

Yang didapat dari Mengikuti Kegiatan Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Tambah teman

b.      Dasar-dasar kepemimpinan

c.       Dasar-dasar berorganisasi

d.      tidak tahu sama sekali

10

41

7

0

17,2 %

70,6 %

12 %

0 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 22

Kemampuan Memimpin Diskusi Setelah Mengikuti Kegiatan Hizbul Wathan

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat Mampu

b.      Mampu

c.       Kurang Mampu

d.      Tidak mampu

18

28

7

5

31 %

48,2 %

12 %

8,6 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 23

Mampu Menyelesaikan Tugas dan bertanggung jawab dengan baik

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat bertanggung jawab

b.      Bertanggung jawab

c.       Kurang bertanggung jawab

d.      Tidak bertanggung jawab

8

37

9

4

13,7 %

63,7 %

15,5 %

6,8 %

Jumlah58100 %

 

Tabel 24

Kemampuan menjadi pemimpin dikelas

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat mampu

b.      Mampu

c.       Kurang mampu

d.      Tidak mampu

15

23

12

8

25,8 %

39,6 %

20,6 %

13,7 %

Jumlah58100 %

Tabel 25

Mampu menghadapi dan memutuskan masalah secara bijaksana

NoJawabanFrekuensiProsentase
1a.       Sangat mampu

b.      Mampu

c.       Kurang mampu

d.      Tidak mampu

12

39

7

0

20,6 %

67,2 %

12 %

0 %

Jumlah58100 %

Adapun rumus yang digunakan dalam menganalisis data ini adalah : Rumus Persentase :

P = F x 100%

N

P = Persentase yang dicari

F = Frekuensi jawaban

N = Jumlah jawaban subjek / sample yang diolah

Setelah diketahui hasil pengolahan data di atas, maka langkah selanjutnya di analisis sesuai dengan hasil penilaian interview dan setiap kegiatan maka dapat disimpulkan bahwa peran Hizbul Wathan Dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Pada Siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar masih sudah stabil dikarenakan jumlah siswa yang memiliki potensi jiwa kepemimpinan cukup baik dan meningkat. Dari jumlah tersebut siswa yang baik dalam kepemimpinan berjumlah 27 siswa (46,5 %), siswa yang cukup baik dalam kepemimpinannya berjumlah 12 siswa (20,6 %) dan sedangkan siswa yang kurang dalam kepemimpinannya berjumlah 19 siswa (32,7 % ).

Dalam kegiatan selalu ada penilaian dan juga evaluasi, evaluasi bertujuan untuk melihat seberapa jauh peningkatan dari hasil kegiatan tertentu. Sedangkan menurut teori bahwa pelaksanaan penilaian itu dapat berfungsi meningkatkan hasil dari latihan apabila berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

 

  1. Evaluasi itu harus di laksanakan secara continue.
  2. Evaluasi itu harus di laksanakan secara komprehensif.
  3. Evaluasi itu harus di laksanakan secara bersungguh-sungguh.
  4. Evaluasi itu harus di laksanakan secara obyektif.[150]

Dan juga sesuai dengan pengertian penilaian hasil kegiatan yaitu  penilaian yang di laksanakan tiap akhir satu unit kegiatan tertentu. Mengacu pada teori-teori di atas maka penulis simpulkan bahwa pelaksanaan Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar belum berjalan sesuai dengan prosedur kegiatan seperti bagaimana mestinya.[151]

Dari data dan keterangan tersebut jelaslah bahwa hasil kegiatan Hizbul Wathan siswa SMK Muhammadiyah Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat dalam penilaian kepemimpinan individu siswa lebih baik, meskipun ada beberapa yang masih tergolong sedang dan kurang baik. Dari tahun ke tahun selalu menunjukkan grafik yang naik turun. Tetapi lebih menonjol dalam peningkatan. Analisis hasil penilitan ini didapat dari data bab II dan III yang telah dipaparkan sebelumnya.

 

 

BAB V

 PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian peran Hizbul Wathan (HW) dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar, dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya peningkatan cukup baik pada kegiatan Hizbul Wathan dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan siswa di SMK Muhammadiyah Tumijajar.

Hasil dari kegiatan Hizbul wathan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa di SMK Muhammdiyah Tumijajar, yakni: 1) tumbuhnya jiwa kepemimpinan, mandiri, tanggung jawab dan sifat jujur pada diri siswa, 2) siswa mampu memahami dan mengaplikasikan materi kegiatan dalam kegiatan sehari-hari, dan 3) meningkatkan peminat siswa terhadap kegiatan Hizbul Wathan. Dari jumlah tersebut siswa yang baik dalam kepemimpinan berjumlah 27 siswa (46,5 %), siswa yang cukup baik dalam kepemimpinannya berjumlah 12 siswa (20,6 %) dan sedangkan siswa yang kurang dalam kepemimpinannya berjumlah 19 siswa (32,7 %). Hal ini menunjukkan bahwa Hizbul Wathan sangat berperan dalam kegiatan guna melatih jiwa kepemimpinan siswa. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa adanya peningkatan dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada siswa.

 

  1. Saran

Pembentukan jiwa kepemimpinan hendaknya tetap di jaga oleh guru pembina Hizbul Wathan dan kepala sekolah bagian kesiswaan maupun guru lainnya agar tetap berjalan terus sampai siswa memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berorganisasi. Untuk siswa, memaksimalkan partisipasi terhadap kegiatan Hizbul Wathan agar berprestasi tidak hanya di bidang akademik, namun juga dalam bidang non akademik dan mampu mengembangkan jiwa kepemimpinan pada dirinya.

Bagi peneliti selanjutnya, karena disini peneliti hanya meneliti tentang peran Hizbul Wathan (HW) dalam menumbuhkan jiwa leadership.

  1. Penutup

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Segala rasa syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan berkah, rahmat, hidayah, karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat terselasaikan dengan lancar. Tak lupa pula, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada panutan kita, Nabi Muhammad SAW.

Penulis sudah semaksimal mungkin dalam menyusun skripsi ini, namun demikian penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun selalu terbuka dan sangat penulis harapkan demi tercapainya kesempurnaan skripsi ini.Semoga penulisan ini dapat memberikan manfaat baik bagi penulis, dunia pendidikan maupun pembaca pada umumnya. Selanjutnya tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga bantuan yang kalian berikan mendapat imbalan dari Allah SWT. Amin.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah Idi, Haji, Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan, Jakarta : Rajawali Pers, 2013

Abuddin Nata, Metodologi Study Islam, Jakarta : Rajawali Pers, 2012

Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2013

AD ART Hizbul Wathan, Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

Arikunto Suharsimi, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2013

Basrowi, Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008.

Daryanto, Haji,  Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012.

Danang Dwi Nugroho, Gatot Dwi Wahyono, Lina Yuliani, Esti Wulandari, Windarti Agustina. Smart Character Sebagai Upaya Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Siswa Di Sman 1 Jiwan. Jurnal Ikip Pgri Madiun

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Penyelenggara dan Penerjemah Al-Qur’an, 1990

Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. Jakarta: Erlangga 2012

Emzir. Metode Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers. 2012.

Hussein Bahreisy, Himpunan Hadits Pilihan, Hadits Shahih Bukhari. (Surabaya: Al-Ikhlas 1992)

  1. M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan”dalam perspektif Teori, aplikasi, dan kondisi objektif di Indonesia”. Jakarta : Rajawali Pers 2015

Imron, Ali, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2012

Ig. Wursanto, Dasar-dasar Ilmu Organisasi. Yogyakarta: CV Andi Offset, 2005

Irawaty A. Kahar. Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi  (Organizational Change) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Universitas Sumatera Utara Vol.4, No.1, Juni 2008

Johan Novtira Jamal, Novian Denny Nugraha, Taufiq Wahab. perancangan Board Game Sang Pemimpin Untuk Memunculkan Nilai-Nilai Kepemimpinan Pada Remaja. Jurnal Prodi S1 Desain Komunikasi, Visual Fakultas Industri Kreatif, Telkom University Jl. Telekomunikasi No 1 Terusan Buah Batu, Bandung

Kwartir Wilayah Jawa Tengah, Modul Pelatihan Dewan Sughli Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Se-Jawa Tengah, (Jawa Tengah, 2010-2015)

Lidya Agustina, Pengaruh Konflik Peran, Ketidakjelasan Peran, dan Kelebihan Peran terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Auditor. Jurnal akutansi Vol. 1(Bandung: 2009)

Makbuloh, Deden, Pendidikan Islam dan Sistem Penjaminan Mutu (menuju pendidikan berkualitas di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016)

Mulyono, Rohmad. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta. 2011.

Muhammad, Syahril dan Samsu Somadayo, (2014). “The Implementation on Multicultural Educa- tion Values in Fostering Inter Ethnic Harmony (A Naturalistic Qualitative Study in State Junio High School 1 Ternate)”, dalam Journal of Education and Practice, Vol. 5, No. 2, 2014.

  1. Indra Saputra Pemimpin Ideal Dalam Perspektif Syair Gundul-Gundul Pacul. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, UIN Raden Intan Lampung. Volume 7, November 2016

Natalia Nainggolan. Peranan Kepramukaan Dalam Membina Sikap Nasionalisme Pada Gugus Melati Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD FKIP Unsyiah Volume 1 Nomor 1, 88-97 Agustus 2016

Rivai, Veithzal. 2008. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Saminanto, Mengembangkan RPP PAIKEM scientific Kurikulum 2013, Semarang : RaSAIL Media Group, 2013

SK Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nomor 128 tahun 2008 Panduan Pembinaan Organisasi Otonom (ORTOM) di sekolahMuhammadiyah.

Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2016.

Susanti, Rini Dwi, (2012). “Menguak Multikulturalisme di Pesantren (Telaah atas Pengembangan Kurikulum)”, dalam Jurnal Ad-Din, Vol. 4, No. 2, Juli-Desember 2012.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sudijono. Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet ke-6, 2006

Tim Penyusun Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.Standar Isi dan StandarKompetensi Lulusan Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Jakarta: Majelis Dikdasmen, 2007.

Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,  2010

Zainal, Veithzal Rivai dan Bahar Fauzi, Islamic Education Management, Jakarta : Rajawali Pers, 2013

 

[1] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3.

[2] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi Bab I Pasal 1.ayat 3 dan 5

[3]Zainal, Veithzal Rivai dan Bahar Fauzi, Islamic Education Management, (Jakarta : Rajawali Pers, 2013)., h 241

[4] Petter Salim & Yenni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (jakarta: Balai Pustaka, 1995). h. 1132

[5] Ananda Santoso dan Priyanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: kartika, 1999), h. 665

[6] Maulani, Amin, (2012). “Transformasi Learning dalam Pendidikan Multikultural Keberagamaan” dalam Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2012.

[7] Susanti, Rini Dwi, (2012). “Menguak Multikulturalisme di Pesantren (Telaah atas Pengembangan Kurikulum)”, dalam Jurnal Ad-Din, Vol. 4, No. 2, Juli-Desember 2012.

[8] Muhammad, Syahril dan Samsu Somadayo, (2014). “The Implementation on Multicultural Educa- tion Values in Fostering Inter Ethnic Harmony (A Naturalistic Qualitative Study in State Junio High School 1 Ternate)”, dalam Journal of Education and Practice, Vol. 5, No. 2, 2014.

[9] Gartiria Hutami Anis Chariri, S.E., M.Com, Ph.D, Akt.Pengaruh Konflik Peran Dan Ambiguitas Peran Terhadap Komitmen Independensi Auditor Internal Pemerintah Daerah (Studi Empiris pada Inspektorat Kota Semarang) jurnal Universitas Diponegoro.

[10] Risnawati, Peran Ganda Istri Yang Bekerja Dalam Membantu Ekonomi Keluarga Buruh Perkebunan Kelapa  Sawit Pada Pt. Bumi Mas Agro Di Kecamatan Sandaran Kabupaten Kutai Timur. Ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id (2016), h. 115.

[11]Ibid. h. 380

[12] Hussein Bahreisy, Himpunan Hadits Pilihan, Hadits Shahih Bukhari. (Surabaya: Al-Ikhlas 1992) h. 376

[13] H. M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan”dalam perspektif Teori, aplikasi, dan kondisi objektif di Indonesia”. (Jakarta : Rajawali Pers 2015)., h. 123

[14] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi Bab I Pasal 1. Ayat 1.

[15] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (jakarta: Erlangga 2012) h. 120

[16] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010) , h. 15.

[17]Makbuloh, Deden, Pendidikan Islam dan Sistem Penjaminan Mutu (menuju pendidikan berkualitas di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016)., h. 191

[18] Hussein Bahreisy, Himpunan Hadits Pilihan, Hadits Shahih Bukhari. (Surabaya: Al-Ikhlas 1992) h. 371

[19] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Penyelenggara dan Penerjemah Al-Qur’an, 1990, h. 995

[20] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 260.

[21] Ig. Wursanto, Dasar-dasar Ilmu Organisasi. (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2005)., h. 309

[22] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 3.

[23] Kumpulan Undang-undang dan Peraturan Pemerintahan Tentang Pendidikan (Jakarta: Dirjen Pendis Depag RI, 2007), h. 8

[24]Ibid, Pasal 3

[25] Kwartir Wilayah, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Modul Pelatihan Dewan Sugli (Jawa Tengah: 2010-2015) h. 1

[26]Ibid h. 3

[27]Ibid. h. 4

[28]Ibid h. 5.

[29]Ibid. h. 6

[30]Ibid. h. 14

[31]Ibid. h. 16

[32] Kwartir Wilayah, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Modul Pelatihan Dewan Sugli (Jawa Tengah: 2010-2015) h. 18-19.

[33] WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), cet ke-4, h 754

[34] Abdullah Ambari, Intisari Tata Bahasa Indonesia (Bandung: Djatmika,), h. 231.

[35] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (jakarta: Erlangga 2012), h. 248.

[36] Veithzal Rivai et.all, Pemimpin dan kepemimpinan dalam Organisasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014) h 1.

[37]Ibid, h 6

[38]Ibid, h 6

[39]Op. Cit. Djamaludin ancok. h 241

[40] Mahbud Djamaluddin, Al-Ghazali”Sang ensiklopedi Zaman”. (Perpustakaan Nasional (KDT) : 2015) cet., 1., h. 32.

[41] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah.(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010)  h. 71

[42] Akh. Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa. (Jakarta : Erlangga 2012). h 337

[43]Yulk. Gary A., Leadership in Organization, 1981. Prentice-Hall, inc., Englewood Cliffs, N.J. 07632, h. 59-60.

[44] Wahjosumidjo,  Kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010)  h. 33

[45]Kartini Kartono. Pemimpin dan kepemimpinan, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006.) h. 34.

[46] S. Wojowasito, WJS. Poerdarminta, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris (Jakarta: Hasta, 1974), cet ke-3, h 58

[47] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h 40.

[48] Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h 53.

[49]Sahilun A. Nasir, Peranan Pendidikan Agama terhadap Pemecahan Problem Remaja, (Jakarta : Kalam Mulia, 1999), h.2.

[50] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h 42-47

[51]Kartini Kartono. Pemimpin dan kepemimpinan, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006.) h. 31.

[52]Reksohadiprojo, Handoko, Teori dan Perilaku Organisasi Perusahaan. (Jakarta: Bumi aksara. 2003) h. 290-291

[53]P. Siagian, Sondang. Kepemimpinan Organisasi & Perilaku Administrasi, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung. 2002) h 121.

[54]Miftah Thoha. Kepemimpinan dalam Manajemen (Suatu Pendekatan Perilaku).(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1995) h. 31

[55]Goleman, Daniel, dkk. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2007.). Cetakan V. h. 126

[56] Akh. Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa. (Jakarta : Erlangga 2012). h. 336

[57] Wahjosumidjo,  Kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010)  h. 21

[58]Ibid., h 22

[59] Irawaty A. Kahar. Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi  (Organizational Change) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Universitas Sumatera Utara Vol.4, No.1, Juni 2008

[60] Abdul Rozak. Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. (Bandung : Pustaka Setia, 2012). h 230

[61] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (Jakarta: Erlangga 2012)., h 133

[62]Ibid. h. 134

[63] Ainy Fauziah. Motivation, management & Leadership. Motivator nomor 1 Indonesia ini mendapat penghargaan Indonesia Digital Women/INDI Awards 2013 bidang Professional dari PT. Telkom dan penghargaan Sekar Bangsa 2013 bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan dari PT. Mustika Ratu Tbk & Yayasan Puteri Indonesia.

[64] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (Jakarta: Erlangga 2012)., h 133

[65]Makbuloh, Deden, Pendidikan Islam dan Sistem Penjaminan Mutu (menuju pendidikan berkualitas di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016)., h. 197

[66]Suganda, Dann. Kepemimpinan di dalam Organisasi dan manajemen. (Bandung. CV Sinar Baru. 2001.)  h. 99

[67]Ibid. h. 119

[68] Nawawi, Hadari dan M. Martini Hadari. Kepemimpinan yang Efektif. (Yogyakarta:Gajah Mada University Press. 195.)  Cetakan II. h. 64

[69] Kwartir Wilayah, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Modul Pelatihan Dewan Sugli (Jawa Tengah: 2010-2015) h. 1

[70]Ibid h. 3

[71]Ibid. h. 4

[72]Ibid h. 5.

[73]Ibid. h. 6

[74]Ibid. h. 14

[75]Ibid. h. 16

[76] Kwartir Wilayah, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Modul Pelatihan Dewan Sugli (Jawa Tengah: 2010-2015) h. 18-19.

[77] WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), cet ke-4, h 754

[78] Abdullah Ambari, Intisari Tata Bahasa Indonesia (Bandung: Djatmika,), h. 231.

[79] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (jakarta: Erlangga 2012), h. 248.

[80] Veithzal Rivai et.all, Pemimpin dan kepemimpinan dalam Organisasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014) h 1.

[81]Ibid, h 6

[82]Ibid, h 6

[83]Op. Cit. Djamaludin ancok. h 241

[84] Mahbud Djamaluddin, Al-Ghazali”Sang ensiklopedi Zaman”. (Perpustakaan Nasional (KDT) : 2015) cet., 1., h. 32.

[85] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah.(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010)  h. 71

[86] Akh. Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa. (Jakarta : Erlangga 2012). h 337

[87]Yulk. Gary A., Leadership in Organization, 1981. Prentice-Hall, inc., Englewood Cliffs, N.J. 07632, h. 59-60.

[88] Wahjosumidjo,  Kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010)  h. 33

[89]Kartini Kartono. Pemimpin dan kepemimpinan, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006.) h. 34.

[90] S. Wojowasito, WJS. Poerdarminta, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris (Jakarta: Hasta, 1974), cet ke-3, h 58

[91] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h 40.

[92] Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h 53.

[93]Sahilun A. Nasir, Peranan Pendidikan Agama terhadap Pemecahan Problem Remaja, (Jakarta : Kalam Mulia, 1999), h.2.

[94] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h 42-47

[95]Kartini Kartono. Pemimpin dan kepemimpinan, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006.) h. 31.

[96]Reksohadiprojo, Handoko, Teori dan Perilaku Organisasi Perusahaan. (Jakarta: Bumi aksara. 2003) h. 290-291

[97]P. Siagian, Sondang. Kepemimpinan Organisasi & Perilaku Administrasi, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung. 2002) h 121.

[98]Miftah Thoha. Kepemimpinan dalam Manajemen (Suatu Pendekatan Perilaku).(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1995) h. 31

[99]Goleman, Daniel, dkk. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2007.). Cetakan V. h. 126

[100] Akh. Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa. (Jakarta : Erlangga 2012). h. 336

[101] Wahjosumidjo,  Kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010)  h. 21

[102]Ibid., h 22

[103] Irawaty A. Kahar. Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi  (Organizational Change) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Universitas Sumatera Utara Vol.4, No.1, Juni 2008

[104] Abdul Rozak. Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. (Bandung : Pustaka Setia, 2012). h 230

[105] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (Jakarta: Erlangga 2012)., h 133

[106]Ibid. h. 134

[107] Ainy Fauziah. Motivation, management & Leadership. Motivator nomor 1 Indonesia ini mendapat penghargaan Indonesia Digital Women/INDI Awards 2013 bidang Professional dari PT. Telkom dan penghargaan Sekar Bangsa 2013 bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan dari PT. Mustika Ratu Tbk & Yayasan Puteri Indonesia.

[108] Djamaludin ancok, Prikologi Kepemimpinan dan Inovasi. (Jakarta: Erlangga 2012)., h 133

[109]Makbuloh, Deden, Pendidikan Islam dan Sistem Penjaminan Mutu (menuju pendidikan berkualitas di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016)., h. 197

[110]Suganda, Dann. Kepemimpinan di dalam Organisasi dan manajemen. (Bandung. CV Sinar Baru. 2001.)  h. 99

[111]Ibid. h. 119

[112] Nawawi, Hadari dan M. Martini Hadari. Kepemimpinan yang Efektif. (Yogyakarta:Gajah Mada University Press. 195.)  Cetakan II. h. 64

[113]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), h285

[114] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2016), h 207

[115] Ibid. h 210

[116] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung: PT. Rosda Karya, 2005), h 157

[117] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2016), h 207

[118]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013)., h273

[119] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet ke-6, 2006),. h 82.

[120]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013)., h 270

[121] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet ke 18, h 199-201

[122]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013)., h 274

[123]Ibid.h. 274

[124]Ibid., h. 275

[125] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet ke 18, h 337

[126]Ibid, h. 338

[127]Ibid, h. 341

[128] Moh Nasir, Ph.D. Metode Penelitian, (Jakarta : PT Ghalia Indonesia, 1998), cet ke 3, h. 415

[129]Bambang Wiyono, SE ( Kepala Sekolah ), Wawancara, Tanggal 21 September 2016

[130] Dina Suandini, S.Pd ( Waka Sarana dan Prasarana ), Wawancara, Tanggal 21 September 2015

[131]Bambang Wiyono, SE ( Kepala Sekolah ), Wawancara, Tanggal 21 September 2016

[132]Suyanto, S.Pd ( Waka Kesiswaan ), Wawancara, Tanggal 27 Desember 2017

[133]Bambang Wiyono, SE ( Kepala Sekolah ), Wawancara, Tanggal 29 September 2017

[134]Kak Suedi, Pembina Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMK Muhammadiyah Tumijajar, wawancara pribadi. 5 November 2017

[135]AD-ART Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. h. 23-24

[136]Op. cit5 November 2017

[137]Op.cit. h. 23-24

[138] Bambang Wiyono, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Tumijajar. Wawancara Pribadi. 2 November 2017

[139]Op.cit 2 November 2017

[140]Ibid 5 November 2017

[141]Esa, Ahmad. Do Extra-Curricular Activities Effect Student Leadership in Institutions: Sport?. Asian Social Science  (2015). Vol. 11. No. 16, pp.294-301.

[142]Ibid. h. 296

[143]Ibid. h. 299

[144] Daryanto. Evaluasi Pendidikan. (Jakarta : Rineka Cipta. 2013). h 50.

[145]Op.cit, 2 November 2017.

[146] Syamsul Hidayat, Wakil Kesiswaan SMK Muhammadiyah Tumijajar, Wawancara Pribadi, 3 November 2017

[147]Op.cit, Tanggal 21 September 2017

[148] Kak Suedy, Pembina Hizbul Wathan SMK Muhammadiyah Tumijajar, Wawancara, 3 November 2017

[149]Ibid 5 November 2017

[150] Tahyar Yusuf, Yurnalis Etek, Keragaman Tehnik Evaluasi dan Metode Penerapan Jiwa Agama, ( Jakarta: Ind, Hill Co, 1997 ), h.48.

[151] HarahapNasrun, Tehnik Penilaian Hasil Belajar, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1979 ), h.42.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar